Berburu Suami Lewat Biro Jodoh

Ongkos mencari suami lewat Hamas US$ 10-70.

Rania Hijazi dan Asyaraf Farhat

Masalah jodoh memang gampang-gampang susah. Tak jarang, orang harus berkejaran dengan waktu untuk mendapatkan pendamping hidup. Apalagi jika situasi hidup begitu sulit.

Kondisi macam inilah yang dihadapi para perempuan di Jalur Gaza. Mereka kesulitan mencari jodoh lantaran banyak kaum lelaki di sana menganggur. Blokade Israel selama dua tahun belakangan memaksa 900 perusahaan tidak beroperasi. Pria Gaza sangat sulit mendapatkan izin untuk bekerja di negara Zionis itu.

Rupanya Hamas yang berkuasa di Gaza sejak pertengahan Juni 2007 memahami kesulitan itu. Mereka membentuk biro jodoh bernama Taysir. Hingga kini, mereka sudah menikahkan 40 pasangan. “Ini membuat rakyat dekat kepada Hamas dan Hamas dekat kepada rakyat,” kata Wail Zard, direktur Taysir.

Kebanyakan perempuan yang ikut program kontak jodoh ini merahasiakan dari pihak keluarga. Sebab apa yang mereka lakukan melanggar tardisi. Sesuai kebiasaan di Gaza dan kebanyakan orang Arab, perempuan menikah dengan jalan dijodohkan oleh orang tua.

Namun bagi perempuan dari keluarga miskin, nasib mereka tidak begitu beruntung. Seperti Tahani, 29 tahun, yang ikut program Taysir sejak tahun lalu. Ibunya meninggal ketika ia masih muda. Tapi tidak ada satu kerabatnya yang mau membantu ia mencarikan suami.

“Saya menatap semua lelaki di jalan dan berpikir, ‘Ya Allah, tidak adakah satu pria untukku?’” ujar perempuan berkulit gelap dengan warna mata coklat madu. Perempuan berjilbab merah marun ini menolak menyebutkan nama belakangnya. Ia kini harus bersaing dengan 286 perawan Gaza lain.

Biaya ikut kontak jodoh ini antara US$ 10-70, terganutng pada kualitas daya tarik mereka. Perempuan di bawah 25 tahun ongkosnya lebih murah ketimbang yang sudah berkepala tiga. Para perempuan itu harus mengisi semua data dan menerangkan secara rinci soal penampilan fisik mereka.

Ada satu pertanyaan mematikan: “Apakah menurut Anda, Anda cantik menurut standar Gaza?” Para lelaki Gaza menyukai perempuan bertubuh tinggi, berkulit coklat muda, mata biru atau hijau, dan berambut pirang. Namun kebanyakan perempuan Gaza berkulit sawo matang dengan rambut hitam.

Rania Hijazi termasuk yang beruntung. Ia melamar ke Taysir pada Maret 2008 ketika berusia 28 tahun. Dua bulan kemudian ia menikah dengan Asyaraf Farhat, 36 tahun. “Saya merasa malu ketika datang ke sana,” katanya.

Setahun sudah berlalu. Tapi belum ada jodoh bagi Tahani. Meski begitu, ia terus berdoa agar bisa seperti Rania.

AP/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s