Menjemput Jodoh di Batas Gaza

Pemuda Gaza dan perempuan Kanada menikah setelah berkenalan lewat Internet.

Gerbang Rafah

Suatu hari di pekan lalu adalah saat paling dinanti oleh Hamudi Gharib, warga Kota Gaza. Maklum, ia akan berjumpa calon istrinya, Linda Todd, perempuan asal Kanada.

Sebab itu, sejak pagi ia sudah menanti di gerbang Rafah yang menjadi batas antara wilayah Jalur Gaza dan Mesir. Ia kelihatan tidak dapat menahan gelegak rindu yang serasa menyesakkan dada. Ini adalah pertemuan pertama mereka sejak berkenalan melalui Internet delapan tahun lalu.

Yang diharap mendekat. Sebuah bus yang mengangkut rombongan pegiat perdamaian dari pelbagai negara, termasuk Linda. Ia bukan seorang aktivis. Ia menyamar menjadi anggota delegasi bernama Code Pink itu hanya untuk bertemu Hamudi. Keriangan tampak di wajahnya, matanya berbinar-binar ketika penumpang bus itu turun satu-satu.

Saking gembiranya, pemuda yang berprofesi sebagai wartawan ini langsung berlari ke arah Linda yang baru saja menapaki tanah Gaza. Mereka berpelukan begitu erat. Para penjaga perbatasan dari Hamas melongo, cuma dapat mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi. “Mimpi saya menjadi makin nyata ketika bus itu mendekat,” kata Hamudi.

Rekan-rekan Linda bertepuk tangan menyaksikan pemandangan mengharukan itu. Sedangkan rekan-rekan Hamudi sesama jurnalis langsung mengabadikan momen itu. Kisah Hamudi dan Linda ini lantas menjadi berita utama di pelbagai surat kabar.

Code Pink sudah mempersiapkan kunjungan kemanusiaan ke Gaza ini selama empat bulan. Mereka memutuskan hal itu setelah agresi 22 hari Israel ke sana berakhir 18 Januari lalu. Serangan besar-besaran itu telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, setengahnya anak-anak dan perempuan.

Memang sungguh mengejutkan mereka bisa memperoleh izin masuk. Padahal Mesir sudah membatasi perlintasan di Rafah sejak Hamas menguasai Gaza, pertengahan Juni 2007. Negeri Sungai Nil itu mengikuti langkah isolasi yang diterapkan Israel terhadap wilayah berpenduduk sekitar 1,5 juta itu.

Awalnya, kedua pasangan itu bertemu lewat obrolan di Internet delapan tahun lalu. Mereka bisa menghabiskan berjam-jam saban hari untuk berbagi kabar dan cerita soal kondisi masing-masing. Dua hari setelah berkenalan, Linda menelepon. Kisah berlanjut, dari teman menjadi kekasih. “Saya mencintai orang yang begitu memperhatikan saya,” ujar Hamudi.

Keduanya lantas menikah dan tinggal di rumah orang tua Hamudi. Sayang bulan madu mereka tidak akan berlangsung lama. Linda harus segera kembali bekerja lantaran cuti liburannya bakal berakhir. Mereka bertekad dapat hidup bersama selamanya. “Kami saling berjanji untuk tidak menyerah dalam keadaan apa pun,” ujar Linda.

Xinhua/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s