Makarim Wibisono: Buat Apa Saya Diberi Mandat Kalau Tidak Dapat Akses

“Saya mau membuat laporan sesuai pandangan mata saya sendiri.”

Makarim Wibisono, pelapor khusus PBB soal situasi kemanusiaan di wilayah pendudukan Palestina sebelum 1967.

Dua kali Makarim Wibisono memecahkan rekor. Setelah menjadi orang Indonesia pertama memimpin Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), diplomat senior ini mengukir catatan sebagai orang Indonesia perdana ditunjuk sebagai pelapor khusus PBB soal situasi kemanusiaan di wilayah pendudukan Palestina sebelum 1967.

Baru sebulan lebih menjabat, Makarim sudah dihadapkan pada isu besar setelah Israel untuk kali ketiga mengobarkan pembantaian di Jalur Gaza.Hingga memasuki pekan keempat sejak Israel melancarkan operasi militer bersandi Jaga Perbatasan, korban tewas sudah lebih dari 1.200 orang dan 7.600 lainnya cedera.

Makarim mengakui mandatnya sebagai pelapor khusus merupakan tantangan besar. Dia mau menerima beban itu lantaran ingin menunjukkan kepada bangsa Palestina dukungan Indonesia bukan sekadar formalitas.

Berikut penjelasan Makarim saat ditemui Faisal Assegaf dari Hamaslovers di lobi Apartemen Eksekutif, Cikini, Jakarta Pusat, di hari keempat agresi Israel ke Gaza.

Bagaimana ceritanya Anda bisa ditunjuk sebagai pelapor khusus PBB untuk wilayah pendudukan Palestina?

Saya itu baru saja selesai dari jabatan direktur eksekutif ASEAN Foundation. Tidak lama kemudian direktur Hak Asasi Manusia Kementerian Luar Negeri mengajukan nama saya karena saya pernah menjadi orang Indonesia pertama menjabat ketua Dewan HAM PBB.

Kurang lebih sepuluh orang mendaftarkan diri untuk menjadi pelapor khusus PBB untuk wilayah pendudukan Palestina. Waktu seleksi, nama saya banyak mendapat sorotan di Israel. Antara lain saya dianggap anti-Semit karena saya pernah menulis hasil kunjungan saya ke Gaza bersama Hidayat Nur Wahid.

Padahal artikel saya tulis berdasarkan pandangan mata mengenai keadaan di sana. Karena tulisan itu, di Israel banyak yang memandang saya ini sangat anti-Israel. Tapi kemudian dalam proses seleksi merujuk kepada dua calon, yaitu saya dan Christine Culkin, guru besar dari Inggris. Dia dikenal sebagai pembela hak asasi manusia di Palestina.

Tadinya mesti diputuskan Maret lalu kemudian baru diputus pada 2 Juni 2014. Karena saya dianggap calon sangat sensitif serta manuver diplomasinya sangat panjang. Lalu di rapat pembahasan terakhir ada semacam kesepakatan saya dipilih dengan jaminan bakal dapat akses.

Saya lantas menanyakan untuk memperjelas apa mandat saya dalam sidang Dewan HAM PBB. Sesuai resolusi Komisi HAM PBB 1993 nomor 2, saya ditugaskan menginvestigasiĀ  dan melaporkan pelanggaran HAM oleh Israel di wilayah pendudukan Palestina.

Waktu itu Duta Besar Israel untuk Dewan HAM PBB Eviatar Manor menilai mandat saya itu berat sebelah. Dia mengusulkan supaya mandat saya itu diubah. Terus saya bilang saya ingin menjadi pelapor khusus yang transparan. Sebab konsentrasi saya bukan lagi soal popularitas saya tapi saya punya perhatian terhadap korban. Saya bilang lihat dulu kinerja saya dalam laporan pertama saya September mendatang. Setelah itu akan ada pembicaraan mengenai akses ke wilayah pendudukan.

Setelah ada perkembangan konflik di Gaza, saya menyurati Duta Besar Eviatar Manor. Saya bilang saya berduka cita atas meninggalnya tiga warga Israel, tapi di saat yang sama saya juga berduka cita pada korban-korban orang Palestina.Saya juga mengecam keras serangan Israel ke Gaza. Saya minta Israel menahan diri secara maksimum untuk mengurangi jatuhnya korban sipil. Saya juga mendesak kedua pihak menghormati hukum internasional, termasjuk hukum humaniter dan hukum hak asasi.

Saya juga menyurati Duta Besar Palestina untuk Dewan HAM PBB Ibrahim Quraisyi. Saya katakan semua pihak harus menahan diri, jangan menggunakan hal-hal bertentangan dengan hukum internasional.

Saya sekarang lagi menyusun surat bersama dengan pelapor khusus soal pembunuhan di luar hukum dan pelapor khusus mengenai promosi dan perlindungan HAM agar tekanannya lebih kuat. Dalam surat bersama itu, kami bakal menuntut harus segera menghentikan pertumpahan darah.

Kedua, harus menahan diri maksimum. Ketiga, mengingatkan semua pihak ada hukum internasional perlu dihormati. Kalau tidak, mesti ada pihak bertanggung jawab. Keempat, bantuan kemanusiaan buat korban harus segera diberikan akses.

Berarti sudah ada dasar soal Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan di daerah pendudukan. Lalu bagaimana Anda mencari data untuk laporan awal sebelum mendapat akses?

Saya agak kesulitan untuk laporan pertama ini. Banyak sekali laporan masuk ke saya, seperti dari Human Rights Watch, Amnesty International, OCHA. Tapi itu kan merupakan data saya peroleh dari pihak lain.

Karena itu saya selalu mengatakan kepada Duta Besar Eviatar Manor dan Duta Besar Ibrahim Quraisyi, sebagai pelapor khusus PBB saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri. Karena itu, saya akan berikhtiar untuk mendapatkan informasi dari yang saya peroleh sendiri.

Sebelum saya itu, semua pelapor khusus PBB tidak boleh masuk ke wilayah pendudukan Palestina. yang mereka lakukan pergi ke Rafah, perbatasan Yordania-Israel, ke perbatasan Suriah Israel. Mereka mewawancarai orang-orang barusan keluar dari Gaza atau Tepi Barat, menanyakan keadaan-keadaan berkaitan dengan kemanusiaan. Itu karena mereka tidak diberi akses sehingga dianggap tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.

Saya ingin pekerjaan saya berpengaruh terhadap kondisi korban. Sehingga saya mau membuat laporan sesuai pandangan mata saya sendiri. Karena itu, saya meminta akses kepada pemerintah Israel supaya bisa masuk ke sana (wilayah Jalur Gaza dan Tepi Barat).

Duta Besar Eviatar Manor mengatakan memperhatikan permohonan saya, namun dia bilang ingin melihat dulu apakah saya bisa berimbang, transparan. Atau saya sama dengan pelapor-pelapor khusus PBB sebelumnya.

Sejak awal saya sudah katakan saya tidak ada artinya sebagai pelapor khusus PBB kalau saya berat sebelah. Karena tidak akan menolong korban. Misalnya saya bisa adil, obyektif, akan muncul kepercayaan dari pihak-pihak terkait. Mereka bakal percaya saya akan melaporkan sesuai keadaan sehingga mereka berusaha mengatasi keadaan itu.

Bagaimana kita mengetahui anatomi dari penderitaan para korban kejahatan HAM ini sehingga mereka mengambil langkah untuk mengatasi dan memulihkan. itu yang ingin saya lakukan.

Apakah sudah ada jaminan bisa mengunjungi Jalur Gaza dan Tepi Barat?

Jaminan secara lisan belum ada, tapi ada indikasi-indikasi kalau mereka timbul kepercayaan kepada saya maka mereka akan memberikan akses itu. Saya tidak ingin menggunakan cara berlaku di Dewan HAM PBB, yakni menyebut dan mempermalukan. Tapi saya ingin memberitahu dan mengatasi lewat saluran pribadi dan langsung.

Inilah cara pendekatan ala Indonesia. Kita ingin menyelesaikan masalah tanpa ingin mempermalukan, menyudutkan orang. Mudah-mudahan dengan cara ini
menimbulkan kepercayaan dari semua pihak dan akses itu bisa diberikan.

Kalau misalnya akses itu tidak diberikan, terpaksa saya melakukan cara-cara dilakoni pelapor-pelapor khusus PBB sebelum saya. Saya pergi ke Yordania, Mesir untuk mewawancarai orang-orang baru keluar dari wilayah pendudukan. Tapi kan hasilnya tidak maksimum. Padahal semua informasi ada dua komponen, yakni fakta dan interpretasi.

Kalau saya tidak dapat akses, saya akan banyak terpengaruh dari interpretasi pembawa informasi. Jika saya sendiri masuk, saya akan mendapat informasi langsung di lapangan.

Kalau tidak diberikan akses, Anda bakal terus melanjutkan tugas tak berguna itu?

Saya sudah bilang kalau saya memang tidak bermanfaat dalam mandat saya sebagai pelapor khusus, buat apa saya perpanjang. Saya akan melakukan hal ini kalau apa yang saya kerjakan membawa manfaat. Buat apa saya diberikan mandat kalau tidak diberikan akses. Itu kurang bermanfaat.

Mandat Anda ini untuk membuka borok Israel di mata dunia internasional. Apakah Anda sadar tugas itu tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik?

Saya sadar mandat pelapor khusus ini adalah satu tantangan besar. Tapi saya sadar juga, kalau orang Indonesia hanya membantu secara formalitas tanpa aksi nyata, itu juga keterlaluan. Jadi saya terdorong sebagai wakil dari penduduk Indonesia berusaha membantu perbaikan keadaan.

Kedua, kalau tidak ada orang berani mengambil itu maka yang akan mengambil adalah orang-orang yang cuma bisa bicara bagus tapi tidak ada efek positifnya bagi para korban. Jadi saya ingin laporan saya itu bermanfaat bagi ke arah perbaikan bagi korban.

Karena itu, jika mendapat izin masuk saya akan fokus pada akses orang-orang Palestina terhadap layanan kesehatan, pendidikan, kebutuhan dasar, hak mereka untuk berkegiatan. Saya ingin memusatkan perhatian pada hal-hal itu. Ini loh situasinya, tolong diperbaiki.

Saya ingin menghindari politisasi HAM tapi saya mau memusatkan pada masalah HAM agar bisa diselesaikan masalah kemanusiaannya. Pendekatan saya ingin ke arah perbaikan kondisi HAM di sana.

Berapa lama masa tugas Anda?

Berdasarkan resolusi Komisi HAM PBB 1993, masa tugasnya sebenarnya tidak terbatas. Seperti sebelum saya enam tahun. kemudian dia mengundurkan diri.

Apakah diperpanjang saban tahun?

Tidak. Jadi selama wilayah pendudukan itu ada, selama itu pula mandat dia berlaku. Makanya namanya itu adalah pelapor khusus PBB soal situasi HAM di wilayah pendudukan Palestina sejak 1967.

Apakah Anda berniat membawa para pelanggar HAM asal Israel ke Mahkamah Internasional?

Tugas saya itu mendengar keluhan-keluhan dari korban, melihat fakta-fakta pelanggaran HAM. ketiga, saya itu memberikan rekomendasi kepada sidang Dewan HAM dan sidang Majelis Umum PBB. Wewenang saya itu memberikan rekomendasi jika ada pelanggaran HAM terjadi, pelakunya diadili.

Berdasarkan rekomendasi saya ini, Dewan HAM atau Majelis Umum PBB mengambil keputusan.meski demikian, kalau pendekatan kita yang kongkret-kongkret bisa menghasilkan sesuatu.

Jadi pendekatan Anda lebih kasuistik?

Ya, itu akan saya perjuangkan. Kalau itu sudah terbentuk maka ada yang namanya zona memuaskan untuk menyelesaikan masalah HAM secara sistematis. Kita harus tahu dari mana kita harus mulai. Kalau kita mulai dengan motif politik maka nggak akan maju-maju.

Ketika Anda ditunjuk sebagai pelapor khusus PBB, seberapa besar tekanan dari Israel?

Yang kasat mata adalah dari media-media Israel tapi karena tidak ada hubungan diplomatik tak ada pejabat Israel memberikan reaksi langsung kepada saya. Justru pihak Palestina bolak balik menghubungi saya. Saya bilang saya ingin menyumbang sesuatu dan membantu bagi korban-korban pelanggaran HAM di Palestina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s