Mimpi Buruk Bocah Gaza

“Saya selalu bermimpi terjebak dalam serangan udara Israel saat saya pulang sekolah dan tidak tahu harus bersembunyi di mana,” tutur Dina.

Dina Zurik bersama adiknya, Ala, di rumah mereka di Kota Gaza.

“Saya takut sekali bom akan mengenai saya,” kata Dina Zurik, 11 tahun, Ahad dini hari dua pekan lalu. Dia tidak berani lagi tidur di atas ranjangnya dan memilih bergabung bersama orang tuanya. Dina bersama adik perempuannya, Ala, segera memeluk erat kedua kaki ibu mereka.

Padahal jarum jam saat itu sudah menunjukkan pukul 04:00 dan Dina mesti sudah tidur. Namun menjelang subuh itu, jet-jet tempur F-16 baru saja menembakkan tujuh peluru kendali ke markas kepolisian Gaza dan empat rudal lainnya ke kompleks keamanan Ansar di Kota Gaza. Ledakan hebat di dua lokasi sasaran serangan negara Zionis menggoyang bangunan sebelas lantai, tempat di mana Dina bersama orang tua dan lima saudara kandungnya tinggal.

Bahkan beberapa hari belakang Dina juga tidak tidur sejak surya terbit lantaran dia begitu takut dengan serangan udara Israel. “Saya selalu takut tidur sendirian, peluru kendali itu mengguncang kamar saya,” ujar bocah berpakaian tidur warna merah muda dan oranye ini.

Bahkan kalau dia tertidur pun, dia selalu mengalami mimpi buruk. “Saya selalu bermimpi terjebak dalam serangan udara Israel saat saya pulang sekolah dan tidak tahu harus bersembunyi di mana,” tutur Dina.

Dina memang pantas trauma dengan pengeboman dilakukan Israel. Sebab bukan sekadar merasakan, namun dia saban hari menyaksikan kebiadaban dan kebrutalan dari mesinb-mesin perang negara Bintang Daud itu. Dia telah lebih dari sekali melihat rumah digempur serta korban tewas dan cedera ditarik dari bawah reruntuhan.

Dina dan lima saudara kandungnya kini tidak bisa lagi bermain di luar rumah. Siaran televisi juga tidak lagi menghibur. Tayangan berjudul Touor al-Jannah populer di Timur Tengah hilang. Berganti dengan siaran berita menayangkan anak-anak menjadi korban perang, dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan cedera atau bahkan meninggal.
“Semua teman saya di sekitar rumah dan sekolah cuma omongin soal pengeman Israel dan apa yang mereka tonton di televisi,” kata Dina.

Ramadan kali ini begitu kelam buat Dina. Biasanya orang tua mereka, Luai dan Lina, saban bulan puasa mengajak Dina dan lima saudara kandungnya mengunjungi rumah sepupu mereka tiga atau empat kali sepekan. “Saya ingin bermain dengan sepupu-sepupu saya tapi karena pengeboman kami tidak bisa melakukan itu,” ujarnya.

Dina mencoba menghibur diri dengan memandang ke arah luar melalui sebuah jendela besar dalam kamar tidurnya. Pemandangan terlihat adalah bekas-bekas kekejaman perang. Kalau pun serangan udara berhenti, raungan sirene ambulans memaksa Dina terus tenggelam dalam mimpi buruk.

Middle East Eye/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s