Berselimut Cemas dan Senyap di Sderot

Sebagian besar warga Sderot tidak yakin Palestina dan Israel bisa berdamai.

Warga Sderot menyaksikan pertempuran di Jalur Gaza.

Chen Elhamliah masih bisa mengingat ketika dia pertama kali melihat roket Qassam. Saat itu dia baru 14 tahun dan berdiri di depan jendela waktu memandang ke arah Jalur Gaza. Ayahnya tengah melakoni sebuah pekerjaan di depan rumah.

Tiba-tiba dia melihat sesuatu terbang di udara, mendekat sangat cepat. Kemudian terdengar suara ledakan keras. Kaca jendela bergetar dan bumi bergoyang. Di tempat ayahnya berdiri beberapa detik sebelumnya, muncul gumpalan asap tebal. “Saya tadinya berpikir ayah telah tewas. Tidak pernah seumur hidup saya merasakan begitu takut. Tak pernah,” kata Elhamliah, kini 23 tahun, kepada Middle East Eye Selasa pekan ini.

Ayahnya selamat, namun hidup Elhamliah tidak sama lagi. Sampai sekarang Kota Sderot di selatan Israel diserang roket saban hari. Kota ini hanya berjarak satu kilometer dari pagar batas Gaza.

Sejak Selasa, saat Israel memulai operasi militer bersandi Jaga Perbatasan, lusinan roket menyasar Sderot. memang tidak ada korban meninggal, tapi tiap hari sirene tanda bahaya berbunyi hampir saban seperempatjam dan penduduk bergegas ke tempat perlindungan.

Hari itu jalanan di seantero Sderot lengang. Bahkan saat siang. Tidak ada anak-anak bermain di taman.

“Kami bahkan tidur di bunker malam ini dan ujian saya dibatalkan hari ini dan besok,” ujar Elhamliah. “Ini bukan cara hidup baik. Saya ingin kuliah, lulus, dan bekerja. Saya mau hidup normal.”

Tiap kali alarm meraung-raung, warga Sderot cuma memiliki waktu 15 detik untuk ke tempat perlindungan atau halte bus. Seperti kebanyakan orang Sderot, Elhamliah harus merencanakan perjalananya dengan mempertimbangkan lokasi halte bus. Jika serangan datang dan dia tidak bisa menemukan halte bus buat berlindung, dia akan berlari ke tempat aman milik penduduk terdekat mungkin saja dia tidak kenal.

Elhamliah sadar tidak mudah hidup di wilayah berbatasan dengan Gaza itu. Dia juga bersimpati atas kondisi serupa dialami warga Gaza. “Mereka miskin, tidak bisa keluar dari Gaza, dan hidup di bawah aturan radikal,” bisiknya.

Pacarnya tinggal di Ibu Kota Tel Aviv tidak pernah berani menginap di rumahnya. Elhamliah mengakui dia kadang suka berkhayal serangan roket datang ketika dia sedang mandi. “Bagaimana jika sirene berbunyi dan saya mesti keluar segera dalam keadaan setengah telanjang? Saya tidak mau orang tua saya melihat saya seperti itu,” tuturnya.

Jauh sebelum imigran Yahudi datang, Sderot atau dalam bahasa Arab Al-Huj dihuni oleh sekitar enam ribu orang Arab. Mereka terusir setelah negara Israel terbentuk pada 1948.

Tiga tahun kemudian dibangunlah Kota Sderot dengan penduduk awal berjumlah 21 ribu orang. Mereka adalah orang-orang Yahudi dari tenggara Turki, disusul kedatangan imigran Yahudi asal Kurdi, Maroko, Persia, dan Uni Soviet.

Sejak pecah intifadajh kedua 14 tahun lalu, Sderot menjadi langganan serangan roket oleh Hamas dan Jihad Islam. “Saya tidak punya masalah dengan orang Arab. mereka bahkan membangun rumah kami,” kata Elhamliah.

Sebagian besar warga Sderot tidak yakin Palestina dan Israel bisa berdamai. “Perang tidak akan pernah berakhir,” ujar seorang warga di sana.

Middle East Eye/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s