Ramadan Lara Bekap Gaza

Warga Gaza harus melalui Ramadan tahun ini berselimut takut dan derita. Lara dan air mata.

Rumah keluarga Kawaredi Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, dibom Israel, Selasa, 8 Juli 2014.

Peringatan itu disampaikan melalui telepon seluler milik istri abangnya, kata Salah Kaware kemarin. Dia tinggal di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza. Penelepon mengatakan semua orang dalam rumah harus segera keluar karena bangunan itu bakal dibom dalam lima menit.

Peringatan selanjutnya muncul saat mereka tengah bergegas kabur, ketika sebuah pesawat nirawak Israel menembakkan nyala api ke arah atap rumah berlantai tiga itu. “Tetangga-tetangga kami lalu datang membentuk perisai manusia,” ujar Kaware.

Bahkan beberapa di antara mereka nekat memanjat ke atas atap untuk mencegah rumah itu digempur. Sebagian lagi tengah berada di anak tangga saat ledakkan menghantam kediaman keluar Kaware tak lama kemudian. Tujuh orang tewas dan 25 lainnya luka.

Militer Israel mengklaim rumah-rumah menjadi sasaran pengeboman adalah milik anggota Hamas terlibat dalam peluncuran roket ke wilayah negara Zionis itu atau kegiatan militer lainnya. Mereka menuding rumah-rumah ditarget juga digunakan sebagai tempat menembakkan roket.

Israel telah menggunakan telepon dan selebaran sebagai peringatan untuk mengurangi korban warga sipil, menghindari tuduhan pembunuhan tanpa pandang bulu, atau bahkan tudingan kejahatan perang. Tembakan nyala api ke atap-atap rumah bakal jadi target mereka sebut “ketukan atap.”

Negara Bintang Daud ini juga rutin menyebar pamflet ke seantero Gaza meminta penduduk untuk tidak bekerja sama dengan para pejuang dan menjauh dari pagar perbatasan.

Langkah-langkah ini tetap dikritik lembaga-lembaga hak asasi manusia. Mereka menganggap peringatan melalui telepon atau selebaran itu tidak berarti Israel terbebas dari tuduhan membunuh warga sipil. Israel mengklaim jatuhnya warga sipil itu lantaran mereka mengindahkan peringatan, menentang, atau terlambat menyelamatkan diri.

Ketika memulai operasi militer bersandi Tepian Terlindungi, Selasa subuh pekan ini, Israel menyebarkan banyak selebaran di wilayah utara Gaza. Mereka mendesak agar warga di sana tidak mengizinkan rumah mereka dijadikan tempat rahasia buat menggali terowongan atau menyelundupkan senjata. Pamflet itu juga berisi alamat surat elektronik dan nomor telepon untuk warga melapor jika ada kegiatan seperti itu.

Perang baru ini sejatinya dipicu oleh penculikan dan pembunuhan atas tiga pemuda Israel pertengahan bulan lalu. Dua anggota Hamas di Kota Hebron, Tepi Barat – Amir Abu Aisyah dan Marwan Qawasmi kini buron – diyakini sebagai pelaku atas kematian Eyal Yifrach, Gilad Shaar, dan Naftali Fraenkel.

Pasukan keamanan Israel lantas menyisir rumah-rumah dan menangkapi sekitar 400 orang Palestina, terutama anggota Hamas, di Tepi Barat. Kondisi kian memanas setelah tiga pemukim Yahudi melancarkan tindakan balasan. Mereka menculik sekaligus membakar hidup-hidup remaja Palestina berusia 15 tahun, Muhammad Abu Khudair. Insiden ini berlangsung sehari setelah pemakaman tiga warga Israel itu.

Bentrokan lantas pecah di seantero Tepi Barat, termasuk di Yerusalem Timur, tempat tinggal keluarga korban. Para pejuang di Gaza menembakkan roket ke Israel sebagai protes.

Hingga akhirnya Israel mengumumkan operasi militer ke Gaza. Bahkan, Perdana Menteri Benjamin sudah memerintahkan untuk bersiapkan melancarkan serangan darat. Tank-tank dan artileri sudah sigaa di perbatasan. Sebanyak 40 irbu serdadu cadangan sudah dipanggil untuk diterjunkan ke palagan.

Untuk ketiga kali sejak Israel mundur dari Gaza sembilan tahun lalu, perang meletup di sana. Mirisnya lagi, pertempuran tidak seimbang ini berlangsung di bulan puasa. Bulan suci mestinya dijalani dengan penuh kegembiraan dan kekhusyukan beribadah. Tapi warga Gaza harus melalui Ramadan tahun ini berselimut takut dan derita. Lara dan air mata.

Namun bagi warga Gaza kejadian ini bukan kejutan. “Ini sudah biasa,” kata Hiba Ziad, calon ibu tinggal di kawasan Abu Albas, Kota Gaza, kepada Hamaslovers melalui telepon selulernya semalam.

Dua pekan lagi dia bakal melahirkan putra pertama bakal diberi nama Fadil. Setidaknya kesedihan akibat perang bisa sedikit terobati dengan kelahiran sang buah hati. “Faisal, doakan selalu kami,” dia berpesan.

New York Times/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s