Lunasi Utang Darah di Shuafat

“Tidak ada perbedaan antara darah Arab dan darah Yahudi. Pembunuhan adalah pembunuhan apapun bangsa dan usia korban.”

Sang ibu tengah memegang telepon seluler  berisi gambar putranya, Muhammad Abu Khudair, tewas dibunuh pemukim Yahudi, Rabu, 2 Juli 2014.

Jarum jam belum genap pukul empat, Rabu dini hari lalu. Sehabis makan sahur, Muhammad Abu Khudair, 16 tahun, bergegas keluar rumahnya di kawasan Shuafat, Yerusalem Timur. Dia kemudian berjalan menuju masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.

Tiba-tiba melintas sebuah Honda Civic hitam dan langsung memutar arah. Dua pemukim Yahudi turun dan memanggil Muhammad. Seorang lagi menunggu di belakang kemudi. Pemuda ini menghampiri kedua lelaki itu tanpa curiga.

Fatal. Dua pria itu memaksa masuk Shuafat ke dalam mobil dan lantas melesat.

Sejumlah saksi menyebutkan penculikan itu terjadi sekitar pukul 3:45 saat Muhammad tengah berjalan menuju masjid dekat kediamannya. “Saya mendengar teriakan dari luar masjid, ‘Muhammad diculik’,” kata Abu Musa Abu Khudair, sepupu korban ketika itu sudah berada dalam masjid.

“Ketika saya berlari keluar dia sudah tidak ada. Para pemuda (di luar masjid) bilang dia dibawa masuk ke dalam mobil.”

Sejumlah saksi menungkapkan sehari sebelumnya di Shuafat juga ada upaya penculikan terhadap Musa Zalum, 9 tahun. Namun tindakan itu gagal. Bahkan mereka memperkirakan pelaku orang yang sama karena mobil digunakan serupa.

Zalum tengah berada dekat ibunya. Sejumlah pemuda Yahudi langsung merebut Zalum dan berusaha membawa kabur bocah malang itu. Untung saja orang yang lewat datang membantu sehingga Zalum lolos dari usaha penculikan.

Sang ibu langsung menghubungi polisi. Sejam kemudian polisi Israel menemukan mayat Muhammad di sebuah hutan kecil di pinggiran Yerusalem Timur. Kondisinya begitu mengerikan. Penuh dengan bekas siksaan dan dibakar.

Para pemukim Yahudi itu telah membunuh putra saya, mereka menculik dan membunuh dia,” ujar ayahnya, Husain Said Abu Khudair, kepada majalah Time sepulang dari markas kepolisian Yerusalem.

Dia lalu mengambil telepon cerdas Samsung miliknya. Dia membuka gambar berisi dua pria di sebuah trotoar. Dia bilang gambar itu diambil dari kamera pengawas dipasang di sebuah toko permen di pojok jalan. “Orang-orang ini telah menculik putra saya,” tuturnya.

Husain Abu Khudair percaya penculikan sekaligus pembunuhan atas anaknya merupakan tindakan balasan terhadap kasus serupa menimpa tiga pemuda Israel, yakni Eyal Yifrach, 19 tahun, Gilad Shaar, 16 tahun, dan Naftali Fraenkel, 16 tahun.

Ketiganya diculik 12 Juni lalu saat menunggu tumpangan di Kota Hebron, Tepi Barat. Jenazah ketiganya ditemukan Senin lalu dan dikubur besoknya.
“Ya, tentu saja (ini tindakan balasan),” kata Husain. “Tidak ada penjelasan lain.

Bentrokan langsung pecah antara para pemuda Palestina di Shuafat dengan polisi antihuru-hara Israel sepanjang Rabu lalu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan mengusut tuntas kasus pembunuhan Muhammad Abu Khudair. Seorang kerabat Fraenkel menyebut jika pembunuhan itu lantaran alasan nasionalis, itu tindakan mengerikan dan memalukan. “Tidak ada perbedaraan antara darah Arab dan darah Yahudi. Pembunuhan adalah pembunuhan apapun bangsa dan usia korban,” katanya.

Rabu itu menjadi sahur terakhir Abu Khudair. Nyawanya menjadi pelunas utang darah tiga pemuda Yahudi.

Aljazeera/Time/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s