David Abraham: Memangnya Salah Kalau Saya Berdarah Yahudi?

“Kenapa harus disembunyikan? Saya bagian dari bangsa Indonesia.”

David Abraham

Semua orang tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua beretnik apa atau beragama apa. Sebab itu, tidak adil jika kita membenci atau memusuhi orang hanya lantaran berbeda latar agama, ras, dan budaya.

Meski begitu, kenyataan ini masih hidup di Indonesia. Kelompok-kelompok minoritas masih hidup dalam ketakutan, termasuk orang-orang berdarah Yahudi. Hampir semua orang Yahudi Hamaslovers kenal menolak ditulis soal kehidupan mereka. Kecuali komunitas Yahudi di Manado lantaran masyarakat di sana menerima keragaman itu secara terbuka.

Namun ada satu orang berdarah Yahudi berani berterus terang soal identitas sebenarnya itu. Namanya David Abraham. Dia pengacara, termasuk menjadi kuasa hukum dalam kisruh antara Multivision dan Rachmawati Soekarnoputeri soal film Soekarno.

Dia mengaku tidak mendapat ancaman setelah identitasnya diketahui banyak orang. “Kenapa harus disembunyikan? Saya bagian dari bangsa Indonesia,” katanya saat ditemui Kamis pekan lalu di sebuah restoran di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.

Berikut penjelasan David kepada Faisal Assegaf dari Hamaslovers.

Hampir semua keturunan Yahudi menyembunyikan identitas mereka. Kenapa Anda berani berterus terang?

Saya merasa bagian dari bangsa Indonesia. Kalau mengenai Yahudi itu, keturunan dan agama. Saya merasa persaudaraan di Indonesia erat sekali. Kebanyakan teman-teman saya menganggap saya sebagai saudara, tidak pernah ada masalah. Makanya saya nggak merasa ada sesuatu harus disembunyikan.

Sejak kapan Anda mulai berterus terang sebagai orang Yahudi?

Sejak saya bergaul di dunia pengacara, semua orang tahu siapa saya. Waktu SD, SMP, dan SMA teman-teman permainan saya semua tahu saya Yahudi. Orang tua saya Yahudi kelahiran Surabaya. Tidak pernah ada keharusan atau kepentingan menyembunyikan. Kenapa harus disembunyikan? Saya bagian dari bangsa Indonesia.

Anda pernah mendapat intimidasi?

Nggak, tidak sama sekali.

Ada pihak intelijen berusaha mengingatkan Anda harus berhati-hati?

Nggak.

Atau orang-orang Yahudi kenalan Anda mengingatkan?

Tidak ada. Saya rasa begini, kebanyakan mereka ketakutan karena masih teringat zaman Nazi di mana orang Yahudi dibantai. Mereka usianya lebih tua dari saya berpikiran ke arah sana. Tapi kalau saya, termasuk generasi muda, saya merasa tidak ada ancaman terhadap saya. Saya mencintai Indonesia.

Kalau ditanya keturunan mana oleh orang baru kenal, Anda bakal bilang apa?

Saya keturunan Yahudi tapi kelahiran Surabaya.

Anda selalu bilang seperti itu?

Iya

Lantas bagaimana biasanya reaksi orang-orang baru kenal Anda?

Kebanyakan positif. Kebanyakan bilang orang Yahudi itu pintar-pintar. Kemudian mulai berdiskusi soal konflik di Timur Tengah. Saya bilang jangan dicampuradukkan masalah Israel dan Yahudi. Itu dua hal berbeda.

Saya secara terbuka selalu mengatakan karena saya bangsa Indonesia, sesuai pembukaan UUD 1945, kita antipenjajahan.

Lalu apa agama Anda di KTP?

Islam.

Kok bisa?

Jadi waktu ditanya agama apa, saya jawab Yahudi. Saya dibilang, “Nggak bisa. Pilihannya cuma lima. Anda harus pilih salah satunya. Akhirnya saya pilih Islam.

Alasannya?

Karena saya merasa Islam paling dekat dengan Yahudi. Saya saja kalau ke China yang saya cari restoran muslim. Faktanya memang begitu. Kalau saya ke negara-negara Eropa mayoritas makan babi, saya cari restoran muslim. Kalau halal saya tahu aman.

Istri Anda Yahudi?

Istri saya muslim.

Lalu bagaimana Anda bisa menikahi dia?

Sejak pacaran dia tahu saya orang Yahudi. Kita memang bertetangga di Jalan Thamrin, Surabaya. Saya di nomor 3, dia nomor 15. Jadi dia tahu keluarga saya dari kecil. Saya juga tahu keluarganya dari kecil. Saya pulang dari Amerika selesai studi pada 1983. Saya ketemu dia sudah gadis. Kami pacaran lalu menikah.

Setelah menikah, apakah istri Anda pindah ke agama Yahudi?

Nggak, dia tetap muslim.

Kalau dua anak Anda?

Kayaknya udah bercampur baur, ritual Yahudi dan Islam dilaksanakan. Kalau lagi Lebaran, merayakan Lebaran. Kalau lagi pas hari raya Yahudi, juga dirayakan.

Memangnya nggak ada penolakan dari keluarga besar perempuan?

Nggak ada sama sekali.

Atau dari lingkungan sekitar?  

Nggak ada.

Kapan Anda menikah?

1988.

Secara apa?

Catatan sipil.

Di mana?

Surabaya.

Bagaimana Anda melaksanakan ibadah karena tidak ada sinagoge di Jakarta?

Ibadah itu bisa dilaksanakan di mana saja. Yang penting Hari Sabbath. Mulai Jumat magrib hingga Sabtu magrib menyalakan lilin. Baru bangun tidur berwudu dan mau makan berdoa. Artinya, nggak formal-formal banget.

Kalau perayaan hari suci bagaimana?

Biasa saja, saya nggak merasa harus formal. Saya orangnya santai saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s