Kisah Pertemuan Rahasia Menteri Luar Negeri Indonesia dan Israel

Hassan Wirajuda bertemu Silvan Shalom pada 2005 di Jenewa, Swiss.

Menteri Luar Negeri Israel Silvan Shalom

Cerita politisi, tokoh pemuda, pengusaha, atau bahkan tokoh agama Islam asal Indonesia bermesraan dengan Israel sudah lumrah terjadi. Barangkali ini salah satu rahasia belum pernah terungkap: Indonesia dan Israel pernah menggelar pertemuan rahasia tingkat menteri luar negeri.

Kejadiannya pada 2005. Berawal dari keinginan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar Indonesia menjadi penengah dalam konflik antara Palestina dan Israel. Lantas ada perintah dari Jakarta kepada Makarim Wibisono, Kepala Perwakilan Tetap Indonesia untuk Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Hak Asasi Manusia (UNCHR) di Jenewa, Swiss.

Sejak Januari 2005, Indonesia terpilih sebagai ketua sidang ke-61 UNCHR. Organisasi ini menggelar sidang tahunan saban Maret hingga April. Lembaga dibentuk setahun setelah PBB dibikin itu setahun kemudian berganti nama menjadi UNHRC (Dewan Hak Asasi Manusia PBB).

“Pak Makarim meminta saya mengatur pertemuan dengan perwakilan tetap dari Israel,” kata seorang sumber saat ditemui Hamaslovers kemarin malam di sebuah hotel di Jakarta.

Seperti sudah bisa ditebak, Israel terkejut sekaligus riang mendengar inisiatif Indonesia itu. Mereka menyambut gembira tawaran bertemu. Hingga akhirnya diatur agar pertemuan antara Makarim dan Kepala Perwakilan Tetap Israel buat UNCHR Izhak Levanon seolah tidak sengaja. Tempat dipilih adalah sebuah restoran di lantai dua Hotel Noga Hilton, Jenewa.

Makarim dan Levanon sama-sama didampingi satu orang dalam pertemuan bersejarah itu. Namanya juga Israel. Mereka banyak musuh dan selalu diliputi kecemasan. “Dalam pertemuan itu ada dua agen Mossad berjaga-jaga dalam jarak tidak terlalu jauh,” ujar sumber itu. Bahkan dia menyebut Levanon selalu pergi dengan kawalan satu mobil dan kerap menggunakan nomor polisi umum bukan korps diplomatik.

Rapat itu berlangsung sekitar sejam. Makarim menyampaikan gagasan Yudhoyono supaya Indonesia bisa menjadi mediator dalam konflik Palestina-Israel. Levanon tersenyum lebar. Kedua diplomat sepakat mempertemukan menteri luar negeri dari kedua negara. Juga dibuat agar tidak mencolok dan tanpa ada wartawan. “Kalau menteri luar negeri Anda bisa datang, saya jamin kalau perlu malam ini menteri luar negeri saya datangkan,” kata Levanon.

Sepekan kemudian keduanya bertemu lagi di tempat yang sama. Makarim dan Levanon menyampaikan atasan masing-masing menyatakan bisa datang. Kalau Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda memang dijadwalkan berpidato dalam sidang tahunan UNCHR, sedangkan Menteri Luar Negeri Israel Silvan Shalom datang secara khusus buat menemui Wirajuda.

Dipilihlah waktu di sela sidang tahunan UNCHR. Lokasi ditentukan di sebuah hotel di jantung Jenewa. Tepatnya dalam sebuah ruangan khusus di lantai dasar. Semua biaya ditanggung oleh pihak Indonesia sebagai pengundang. Pertemuan disetujui pukul sebelas dan ditutup dengan makan siang. Setengah jam sebelum acara dimulai dua agen Mossad telah berjaga di pintu masuk. Tiga lainnya mengecek ke dalam ruangan buat memastikan tidak ada alat penyadap atau kamera pengintai.

Akhirnya Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dan Menteri Luar Negeri Israel Silvan Shalom benar-benar bertemu muka. Masing-masing didampingi lima orang. “Dari Israel bahkan ada seorang rabbi,” kata sumber itu.

Shalom sumringah dan mengiyakan mendengar inisiatif Indonesia itu. Namun pembicaraan kedua pejabat tinggi itu seolah menabrak dinding tebal.Israel mengajukan syarat begitu sulit buat dilaksanakan Indonesia. Indonesia harus membuka hubungan diplomatik dengan Israel. “Kalau itu disetujui, peran apa saja diminta bisa kami penuhi,” janji Shalom seperti ditirukan sumber yang sama.

Sejatinya, syarat itu sangatlah wajar. Tidak mungkin seorang mediator bisa menjalankan perannya dengan baik kalau hanya membina hubungan dengan satu dari dua pihak bertikai.

Wirajuda terhenyak. Mulutnya terkunci. Sebab tidak mungkin bagi pemerintah memenuhi permintaan Israel itu. Sudah tentu bakal terjadi gejolak di negara berpenduduk muslim terbesar sejagat ini. “Kami pun bakal diprotes konstituen kami karena memberi peran mediator kepada negara tidak mau mengakui negara kami,” tutur Shalom.

Pertemuan bersejarah tapi mandek itu cuma berlangsung sekitar 45 menit. Meski begitu, Shalom berharap kedua pihak bisa terus menjalin kontak di masa depan.

Rupanya rapat rahasia itu bocor. Wartawan telah menunggu di luar. Untung saja lokasi dipilih banyak jalan keluar. Wirajuda dan Yudhoyono selamat dari kecaman di dalam negeri.

Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s