Belajar Mencintai Israel

Negara-negara Arab Teluk sadar isu Palestina mengganjal niat mereka menjalin hubungan dengan Israel.

Di sela lawatannya ke Qatar, April 2008, menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni berjumpa Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Abdullah.

Februari 2009, beberapa hari setelah Israel selesai menggempur Jalur Gaza, kepala protokol Kementerian Luar negeri Qatar mengundang Roi Rosenblit, kepala kantor kepentingan Israel di Ibu Kota Doha, ke kantornya. Rosenblit tahu apa yang bakal dia hadapi.

Sebab, beberapa hari sebelumnya Perdana Menteri Qatar Hamad bin Jassim marah besar atas perang merenggut 1.400 nyawa orang Palestina, sedang di pihak Israel hanya tiga terbunuh. Lewat siaran langsung stasiun televisi Aljazeera, dia mengumumkan periode normalisasi hubungan dengan negara Zionis itu perlu dihentikan.

Diplomat Qatar itu menyambut Rosenblit hangat seperti biasa, menyediakan teh dan zaatar, kemudian menyerahkan sebuah amplop. Isinya, pemerintah Qatar dengan bahasa santun meminta Israel menutup kantor perwakilan mereka di Jalan Al-Buhturi nomor 15, Doha. Para diplomat negara Bintang Daud itu juga mesti meninggalkan Qatar.

Sejak saat itu Israel tidak lagi memiliki hubungan diplomatik resmi dengan negara-negara Arab di Teluk Persia. Atau bahkan sebaliknya?

Banyak pihak percaya Tel Aviv masih memelihara hubungan dengan sejumlah negara Teluk tapi secara rahasia. Israel secara lantang berharap bisa memperkuat kerja sama dengan mereka.

Pada 18 Juli lalu, Kementerian Luar Negeri Israel membuka akun Twitter khusus bagi penduduk di kawasan Teluk. Mereka tergabung dalam organisasi Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, Bahrain, dan Kuwait.

Kurang dari sebulan, Kedutaan Besar Israel virtual untuk GCC ini kebanjiran lebih dari 1.100 pengikut. Saat Idul Fitri akun itu menggelar obrolan dengan Rafi Barak, sorang direktur jenderal dari Kementerian Luar Negeri Israel. Dia berkali kali menyampaikan slogan Israel berminat berdamai dan membina hubungan dengan semua negara tetangga.

Seorang warga Kuwait bertanya bagaimana dia bisa berkunjung ke Israel karena tidak ada Kedutaan Israel di negaranya. “Anda bisa mengajukan visa ke kantor perwakilan Israel di luar negeri,” kata Barak seraya menyampaikan warga Arab bisa mendatangi Kedutaan Israel di Ibu Kota Amman, Yordania.

Benoit Chapas, pejabat Uni Eropa urusan negara Teluk, menanyakan apakah Israel berencana membuka kembali kantor perwakilan mereka di kawasan Teluk. “Kami akan senang melakukan itu,” jawab Barak.

Kenyataannya, Israel telah membuka kantor perwakilan diplomatik di negara Teluk Persia. Berdasarkan anggaran belanja tahun ini, sepanjang 2010-2012, Israel telah membuka sebelas kantor perwakilan baru di seluruh dunia, termasuk satu di kawasan Teluk Persia. Namun di mana dan berapa diplomat ditugaskan masih rahasia.

Sejumlah diplomat senior juga tidak bisa memastikan soal itu. Ada yang bilang informasi dalam dokumen anggaran tahunan Israel itu salah. Sebagian mengatakan memang ada kantor perwakilan Israel di negara Arab Teluk, namun menolak menjelaskan lebih lanjut.

Tidak semua orang di Kementerian Luar Negeri Israel setuju dengan pembukaan kedutaan virtual itu. “Kegiatan virtual ini bakal membuat kegiatan nyata berisiko,” ujar seorang diplomat.

Israel dan dunia Arab sejatinya sudah menjalin hubungan selama beberapa dekade, kebanyakan berjalan sembunyi-sembunyi. Pada 1990-an, setelah Perjanjian Oslo 1993 diteken antara Presiden Otoritas Palestina Yasir Arafat dan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin, ikatan ekonomi dan politik menguat. Situasi ini membuat Kamar Dagang Israel mengeluarkan buku panduan berbahasa Ibrani soal bagaimana berbisnis di negara-negara Teluk Persia.

Pada 1994, Perdana Menteri Yitzhak Rabin mengunjungi Oman dan disambut Sultan Qabus bin Said as-Said. Setahun kemudian, beberapa hari setelah pembunuhan Rabin, Perdana Menteri Israel Shimon Peres menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi.

Pada Januari 1996, Israel dan Oman – selalu dianggap sebagai sahabat Tel Aviv di GCC – menandatangani perjanjian buat saling membuka kantor dagang. “Oman meyakini langkah ini akan mengarah pada melanjutkan proses perdamaian dan meningkatkan stabilitas di kawasan,” kata Kementerian Luar Negeri Israel saat itu. Mereka menyatakan tugas utama kantor perwakilan ini untuk membangun hubungan dagang dan ekonomi dengan Oman serta kerja sama di bidang air, pertanian, kesehatan, dan komunikasi.

Selang beberapa bulan, Peres melawat ke Oman dan Qatar buat meresmikan kantor dagang Israel di ibu kota kedua negara.

Menurut seorang diplomat Israel, kantor dagang di Muscat dan Doha itu masing-masing berisi tiga diplomat. Kantor ini beroperasi seperti kedutaan, tapi tanpa bendera Bintang Daud di halaman sebagai penanda.

Namun hubungan dengan Oman ini cuma bertahan empat tahun. Setelah meletup intifadah kedua, penguasa Oman menyadari opini publik anti-Israel. Sehingga mereka mesti menghentikan kerja sama dan menutup kantor perwakilan Israel di Oman. Kementerian Luar Negeri Israel menyesalkan keputusan itu. “Saat krisis sangat penting jalur komunikasi antara kedua negara tetap dibuka.”

Meski kantor di Jalan Al-Adhiba, Muscat, ditutup, pemerintah Oman diam-diam mengizinkan diplomat Israel tetap menjalankan tugas mereka selama hubungan itu masih bisa dirahasiakan.

Qatar menyusul jejak Oman sembilan tahun kemudian. Seperti Sultan Qabus, Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah al-Thani tetap menyarankan diplomat Israel bekerja seperti biasa asal masih dalam pengawasan mereka.

Beberapa bulan kemudian, Syekh Hamad dua kali menawarkan kepada Israel buat memperbaiki lagi hubungan, termasuk membuka kembali kantor perwakilan di Doha. Sebagai balasan, Qatar meminta Israel membolehkan sejumlah negara Teluk Persia berperan penting dalam membangun kembali Gaza. Mereka menuntut pula Tel Aviv secara terbuka menyampaikan penghargaan atas peran Qatar dan mengakui pentingnya negara itu di kawasan.

Menurut koran Haaretz, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tadinya menerima, namun akhirnya menolak. Alasan utamanya Qatar juga mendesak agar diizinkan mengirim semen dan bahan bangunan lainnya ke Gaza dalam jumlah besar. Israel menilai tuntutan itu bisa mengganggu keamanan mereka. “Qatar tidak bisa berharap perbaikan hubungan dengan Israel tanpa sepakat membuka lagi kantor dagang,” tutur seorang pejabat senior Israel, seperti tercantum dalam kabel diplomatik dibocorkan WikiLeaks.

Sejauh ini baru Oman dan Qatar menyatakan secara terbuka ingin memelihara hubungan diplomatik dengan Israel. Boleh jadi negara Yahudi ini masih menjalin kontak dengan sebagian besar negara di Teluk Persia. Hubungan rahasia ini menjadi wewenang Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel).

Misalnya, Bahrain. Manama dan Tel Aviv tidak pernah membina hubungan diplomatik, tapi pada 2005 Raja Hamad bin Isa al-Khalifah bilang kepada seorang duta besar Amerika, negaranya menjalin hubungan dengan Mossad. Raja Hamad juga ingin memperluas kerja sama di bidang lainnya. Tapi syaratnya sungguh sulit. Solusi dua negara mesti terwujud.

Dokumen WikiLeaks lainnya mengungkapkan para pejabat kedua negara beberapa kali bertemu, termasuk pertemuan antara Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni dan Menteri Luar Negeri Bahrain Syekh Khalid bin Ahmad al-Khalifah pada 2007 di Kota New York, Amerika Serikat.

Dua tahun kemudian, Syekh Khalid mengisyaratkan ingin berjumpa Netanyahu buat menghidupkan lagi proses perdamaian. Tapi dia mengurungkan niat itu.

Tidak sulit mencari tahu alasan negara-negara Teluk ingin mendekati Israel. Sebab Israel adalah negara adikuasa di kawasan itu. Apalagi Israel bersumpah bakal menghalangi saban langkah Iran mengembangkan senjata nuklir. Berpuluh-puluh tahun lalu, negara-negara Teluk bersnekgeta soal wilayah dengan Iran, meski Israel juga sama mengerikan dengan Iran lantaran berkekuatan nuklir. “Mereka yakin Israel bisa membuat keajaiban,” ujar Yacov Hadas Handelsman, kini duta besar Israel buat Jerman, saat bertemu sejumlah pejabat senior Amerika empat tahun lalu.

Lebih dari itu, negara-negara Teluk ini memiliki kepentingan bersama, yakni mencemaskan perkembangan kelompok Islam mereka anggap radikal, seperti Hamas, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbullah.

Menurut sejumlah ahli, Uni Emirat Arab, Arab saudi, dan Kuwait lebih khawatir terhadap Ikhwanul Muslimin ketimbang Iran. “Israel dan negara-negara Teluk berusaha menciptakan stabilitas dan mereka bekerja sama untuk itu. Ini menyebabkan banyak kesempatan buat membina hubungan asal tetap dapat dirahasiakan,” tutur Profesor Joshua Teitelbaum, peneliti senior dari Begin Sadat Center for Strategic Studies di Universitas Bar-Ilan.

Opini penduduk di negara-negara Arab selalu menolak Israel. Sejumlah ahli menilai Musim Semi Arab seperti sebuah ironi lantaran tidak memudahkan negara-negara Teluk lebih dekat dengan Israel. Para penguasa di sana mesti berpikir dua kali jika ingin membuka tangan terhadap negara Zionis itu.

Bukan lantaran mereka begitu mencintai dan peduli nasib bangsa Palestina. Bahkan sebaliknya, mereka merasa terganggu dengan konflik Palestina-Israel. “Konflik itu mengganggu mereka karena pertikaian ini menguatkan kekuatan radikal di Timur Tengah,” kata Teitelbaum

Alhasil, semua bakal berlangsung seperti biasa. Kerja sama ekonomi dan intelijen antara negara-negara Teluk Persia dan Israel bakal berlangsung diam-diam hingga negaa Palestina merdeka dan berdaulat terwujud.

Meski banyak ganjalan dan rintangan, mereka bakal terus belajar buat mencintai Israel.

Times of Israel/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s