Cap Buruk Keluarga Pengkhianat

Keluarga mereka dikucilkan seumur hidup.

Anggota Brigade Izzudin al-Qassam sedang mengeksekusi seorang informan Israel.

Sebagai istri seorang pengkhianat, E.N. (40 tahun) sekeluarga barangkali mesti menerima cap buruk itu seumur hidup. Tidak ada lagi yang mau bertetangga dengan mereka di Jalur Gaza.

Perempuan tengah hamil tua ini pun tidak mengizinkan anak-anaknya main keluar. Dia tidak mau mendengar para putranya diejek sebagai anak mata-mata Israel.

Seorang putranya tiga tahun lalu terpaksa keluar dari sekolah. Sebab, tidak ada lagi yang mau bergaul dengan pemuda 18 tahun ini setelah mengetahui ayahnya bekerja buat kepentingan negara Zionis.

“Saya seharusnya bekerja untuk menghidupi ibu dan saudara perempuan saya,” katanya dengan nada sedih. “Tapi tidak ada yang mau mempekerjakan saya karena tak seorang pun mempercayai putra pengkhianat.”

Warga Gaza tidak pernah lupa nama para pengkhianat. Betapapun kasus mereka sudah lama. Berkhianat adalah skandal tidak akan ikut terkubur bersama mayat pelaku. Stigma buruk akan melekat kepada keluarga, terutama anak-anak. Mereka hidup terisolasi.

Sejak menguasai Gaza pertengahan 2007, Hamas menempatkan pencarian pengkhianat sebagai salah satu agenda utama mereka. Kementerian Dalam negeri Hamas Maret lalu menawarkan ampunan bagi mata-mata Israel jika menyerahkan diri dalam sebulan.

Sehari sebelum program amnesti ini berakhir pada 11 April, dua pengkhianat bersama keluarga mereka berhasil menyeberang ke Israel lewat perlintasan Bait Hanun, utara Gaza.

Sebulan kemudian, dua pengkhianat bersaudara ini ingin kembali ke kampung halaman mereka karena pihak keluarga juga tidak betah tinggal di Israel. Namun aparat berwenang negara Bintang Daud itu menolak permintaan mereka karena khawatir dua mata-mata ini akan dibunuh oleh Hamas.

Beberapa kemudian, Israel mengizinkan keluarga dua pengkhianat ini balik ke Gaza. Tapi dua informan itu tidak dibolehkan.

E.N. salah satu istri pengkhianat, tidak pernah tahu suaminya bekerja buat musuh bebuyutan Palestina itu. Dia baru sadar setelah suaminya menyuruh dia dan anak-anak segera meninggalkan Gaza.

Dia terpaksa menuruti kemauan suaminya karena mencemaskan nyawa suaminya. “Saya pikir kami akan ke Tepi Barat, ternyata kami dibawa ke Acre. Saya memilih pulang meski Hamas mau menghukum saya,” ujarnya.

Rakyat Palestina memandang menjadi mata-mata Israel merupakan kejahatan tidak bisa dimaafkan. Fatin Salim, guru berumur 24 tahun, termasuk oarng yang menyokong hukuman mati bagi para pengkhianat. “Informan Israel pantas dihukum mati karena mereka tidak hanya terlibat dalam pembunuhan (bangsa Palestina), tapi juga karena mereka mengkhianati tanah air mereka.”

Tidak peduli sekeji apapun informan itu dibunuh, warga Palestina tidak pernah bersimpati kepada mereka.

Akhirnya yang menjadi korban adalah keluarga mereka, seperti E.N. Diabersama anak-anaknya kini harus hidup terkucilkan, dicemooh, dan menjadi bahan gunjingan.

Al-Monitor/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s