Berjabat Tangan Lewat Hubungan Dagang

Hubungan dagang langsung antara Israel dan Indonesia mulai tercipta sejak larangan dicabut 13 tahun lalu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Ketika pengusaha Israel Steve Stein pertama kali menggagas upaya hubungan dengan Indonesia – negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar sejagat dan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel – respon dia terima selalu sama. “Orang-orang mengatakan itu tidak akan pernah terjadi. Jangan buang waktu Anda,” kata Stein kepada surat kabar The Jerusalem Post Agustus 2010.

Maklum saja, sebagian besar umat Islam di Indonesia menolak hubungan dengan Israel lantaran negara Zionis ini masih menjajah Palestina. Pemerintah bersikap serupa sesuai amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yakni kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di seluruh dunia harus dihapuskan.

Namun Stein tetap melanjutkan ide gilanya itu. Pada 1992, dua tahun sebelum Israel dan Yordania meneken perjanjian hubungan diplomatik, Stein tiba di Jakarta untuk pertama kali. “Saya memulai dengan sebuah visi mencoba membuat perbedaan,” ujarnya. “Mencoba mengubah pandangan dengan mendekati semua pihak.”

Hasilnya mulai terlihat setelah dia lima tahun bolak balik Tel Aviv-Jakarta. Dia ditunjuk menjadi konsultan bagi Asuransi Jasindo, perusahaan asuransi milik pemerintah. Dia ditugaskan membuka hubungan dagang dan investasi di antara kedua negara.

Awal milenium kedua, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Muhammad Jusuf Kalla memutuskan mencabut larangan hubungan dagang langsung antara perusahaan swasta Indonesia dan Israel. Keputusan itu tertuang dalam surat bernomor 26/MPP/Kep/11/2000 tertanggal 1 Februari 2000. Setahun kemudian, Menteri Perdagangan Luhut B. Pandjaitan membenarkan soal pencabutan larangan itu.

Langkah ini mendapat tanggapan positif dari negara Zionis itu. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Perindustrian Israel Ehud Olmert mencabut beberapa syarat untuk mendapat izin impor dari Indonesia dan Malaysia. Kebijakan ini diambil buat mengurangi beban kerja beberapa industri, seperti di sektor komunikasi, elektronik, dan perlaatan medis masih menggunakan komponen impor untuk merakit produk.

Sebulan setelah keputusan Kalla itu, Asuransi Jasindo dan Assure Ltd. (perusahaan asuransi milik pemerintah Israel) meneken perjanjian kerja sama. Mereka bakal memberi jaminan kredit ekspor bagi pengusaha dari kedua negara. Masih di bulan yang sama, Jasindo mengumumkan membuka kantor cabang pertama mereka di Israel.

Hasilnya tidak percuma. Nilai perdagangan Indonesia dan Israel terus meningkat. Dua tahun setelah langkah revolusioner itu, nilai impor Israel dari Indonesia mencapai USD 55 juta atau kini setara Rp 538,4 miliar.

Selepas tsunami menyapu Aceh, Desember 2004, Stein memperluas kerja sama Israel dan Indonesia di bidang kesehatan dan penanggulangan bencana alam. Dia berjasa mengirim 75 ton bantuan kemanusiaan rakyat Israel buat korban tsunami.

Dua dasawarsa sudah Stein menjembatani hubungan Indonesia dan Israel. Usaha tadinya dicibir kini menjadi buah bibir. “Karena saya tahu ini menguntungkan bagi rakyat Indonesia dan Israel.”

Jerusalem Post/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s