Kabur Terkubur Bersama Struma

Pada 1942, sebuah kapal selam Soviet menembakkan torpedo dan menenggelamkan Struma, kapal berpenumpang hampir 800 pengungsi Yahudi, di Laut Hitam. Hanya satu orang selamat.

David Stoliar bersama istrinya, Marda, di rumah mereka di Kota Bend, Negara Bagian Oregon, Amerika Serikat.

“Tidak alasan bagi saya untuk selamat,” kata David Stoliar kepada majalah terbitan Jerman Der Spiegel. “Saya merasa diselamatkan oleh keberuntungan, murni keberuntungan.”

Hingga saat ini dia masih berjuang menghadapi rasa bersalah. Sejumlah ahli jiwa menyebut lelaki kini berusia 90 tahun ini menderita sindrom Holocaust. Marda, istrinya berumur lebih muda nyaris dua dasawarsa, menuntun dia hati-hati buat mengingat kembali kenangan terburuk itu.

David Stoliar besar di Rumania, tanah air bagi hampir 800 ribu orang Yahudi sebelum Perang Dunia Kedua. Sampai akhirnya pada musim panas 1940, keberadaan mereka terancam lantaran dibur pasukan Nazi Jerman dipimpin Adolf Hitler.

Ibunya mengungsi ke Paris (Prancis). Stoliar ketika itu 19 tahun ditinggal bersama ayahnya. Ternyata dia sudah dibelikan paspor dan tiket buat ke Palestina menumpang kapal bernama Struma. Kalau sekarang, harga tiket itu US$ 1 ribu atau setara Rp 9,8 juta.
Struma berencana mengikuti jejak kapal-kapal sebelumnya menuju Tanah Dijanjikan Tuhan versi bangsa Yahudi sejak permulaan perang. Banyak dari pelayaran ini kebanyakan ilegal dan berakhir di kematian. Inggris yang menguasai Palestina pelan-pelan menghentikan gelombang imigran Yahudi ke wilayah itu untuk menghindari perlawanan senjata bangsa Arab menyokong Nazi Jerman.

Struma tak ubahnya barang rongsokan. Struma bikinan 1867 tadinya kapal pelesir mewah. Tapi nasibnya menyedihkan setelah berganti fungsi menjadi kapal angkut sapi ternak. Tiang-tiangnya sudah lama hilang, hanya tersisa lambung kapal direkat dengan lempengan-lempengan logam. Mesin kapal bekerja sekali-sekali.

Meski begitu, dua kelompok Yahudi di Rumania tidak ragu menyewa Struma pada 1941 untuk kabur dari kejaran Nazi. Mereka menawarkan perjalanan ke sana lewat selebaran-selebaran. beberapa di antaranya bertulisan “Perjalanan menyenangkan!” dan “Selamat datang di Palestina!”

Stoliar mendaftar bersama calon mertua dan tunangannya, Ilse Lothringer. Namun ketika naik ke atas Struma di Pelabuhan Constanta, Laut Hitam, pertanda buruk telah tampak. Kapal yang seharusnya hanya untuk 150 penumpang malah dijejali hampir 800 orang. Mereka berdesakan di bangku tidur kayu tersebar di tiga dek. Apalagi, saat itu musim dingin paling parah.

“Seperti tumpukan ikan sardin,” ujar Stoliar. “Kami bahkan tidak bisa membalikkan badan. Tapi kami tidak bisa lagi turun.”

Setelah beberapa kali ditunda, mereka akhirnya berlayar pada 12 Desember 1941. Rutenya adalah Laut Hitam terus ke Selat Bosporus dan menyusuri Laut Tengah hingga berlabuh di Kota Haifa. Tapi baru beberapa kilometer meninggalkan pelabuhan, mesin kapal terbatuk-batuk dan akhrinya mati menjelang Selat Bosporus.

Satu kapal tongkang Turki dipakai buat menarik Struma ke Pelabuhan Istanbul. Seluruh poenumpang dilarang turun lantaran tidak mempunyai visa. Pemerintah Turki lantas mengibarkan bendera karantina berwarna merah dan kuning di atas Struma.

Pergumulan diplomatik mulai terjadi. Inggris menolak mengizinkan Struma melanjutkan pelayaran ke Palestina. Rumania tidak mau kapal itu balik dan Amerika Serikat tak mau ikut campur.

Turki tetap bersikap netral. Mereka memaksa penumpang tetap tinggal di atas kapal ddan kelaparan mulai terjadi. “Kami tidak dianggap manusia,” Stoliar mengeluhkan.

Kondisi di atas kapal bergegas memburuk. Makanan langka, seorang perempuan hamil keguguran. Bantuan cuma datang dari Simon Brod, pengusaha Yahudi setempat telah banyak menyelamatkan pengungsi akibat perang. Dia membawakan makanan dan minuman.

Turki lantas membuat keputusan sendiri. Pada 23 Februari 1942, sekelompok polisi menyerbu ke atas Struma. Mereka memotong rantai jangkar dan menyeret kapal kembali ke Laut Hitam. “Kami tahu kami tidak punya tujuan. Kami semua merasakan maut kian dekat,” tutur Stoliar.

Ajal itu tiba besok dini hari. Kebanyakan penumpang tertidur, termasuk Stoliar, saat ledakan terjadi. “Mungkin pukul tiga atau empat,” ucapnya. Saya terbangun karena tenggelam. Ketika saya muncul ke permukaan, kapal sudah tidak ada. Hanya puing-puing.”

David Stoliar, satu-satunya penumpang selamat setelah kapal Struma tenggelam akibat dihantam torpedo kapal selam Uni Soviet.

Yang mereka tidak tahu adalah sebuah kapal selam Uni Soviet dalam jarak satu kilometer menemabkkan satu torpedo ke arah Struma. baru beberapa dekade kemudian diketahui ada perintah rahasia dari pemimpin Soviet Joseph Stalin untuk menenggelamkan semua kapal netral di Laut Hitam.

Sebagian besar penumpang dan kru kapal orang Rumania terbunuh akibat ledakan, termasuk calon mertua Stoliar dan tunangannya, Ilse, tidur di dasar lambung. Satu sebab kaenapa Stoliar selamat dari ledakan lantaran dia tidur tepat di bawah dek.

Lebih dari seratus penumpang berupaya mengapung di laut sedingin es. Stoliar dan sebagian kecil lainnya berpegangan pada seabatang kayu bekas dek. Satu-satu penumpang mati kedinginan. “Akhirnya tinggal saya sendiri,” kata Stoliar.

Kemudian ada seorang pria berenang ke arah dirinya. Dia memperkenalkan diri memakai bahasa Rusia. Namanya Lazar Dikof, kepala juru mudi Struma. Keduanya duduk di atas bongkahan kayu, berbicara, berteriak, berusaha membuat satu sama lain tetap hidup.

Pagi berlalu berganti sore. Malam pun datang dan menjelang fajar Dikof meninggal.

Stoliar putus harapan. Dia mencoba bunuh diri dengan menyayat kedua pergelangan tangannya menggunakan pisau lipat. Usahanya percuma. “kedua tangan saya terlalu membengkak karena beku.”

Setelah 24 jam, satu kapal penjaga pantai muncul dan menyelamatkan Stoliar. Dia dibawa ke pelabuhan Sile dan dirawat di sebuah rumah sakit militer di Kota Istanbul. Sepekan kemudian dia dipenjara dengan tuduhan memasuki wilayah Turki secara tidak sah.

Stoliar sempat mendekam 71 hari hingga akhirnya dibebaskan setelah Inggris membolehkan dia ke Palestina. Dari Istanbul, dia menumpang kereta menuju Aleppo, lantas naik mobil ke Tel Aviv. Semua perjalanan itu diatur oleh Simon Brod.

Usai Perang Dunia Kedua, dia ingin melupakan pengalaman buruknya bersama Struma dan memulai hidup baru. Ibunya meninggal di Auschwitz (Polandia). Ayahnya selamat di Bucharest (Rumania) dan Stoliar membawa dia ke Palestina.

Bahkan istri pertamanya, Adria, dia nikahi di Kairo (Mesir) pada 1945, tidak pernah mengetahui kisah pashitnya itu.

Pada 1954, Stoliar berhenti bekerja dari sebuah perusahaan dagang di Tokyo (Jepang). Adria meninggal karena kanker. Dia menikah lagi sengan Marda, seorang perancang sepatu asal Negara Bagian Oregon (Amerika Serikat) kemudian tinggal di Paris. Setelah berkeliling dunia, mereka meutuskan tinggal di Bend, kota kecil di Oregon.

Setelah dua tahun menikah Stoliar baru menceritakan kisahnya sebagai penumpang kapal Struma.

Kali ini dia bersumpah tidak akan lagi bercerita soal itu. Dia masih merasa bersalah karena menjadi satu-satunya penumpang selamat. Sebanyak 786 penumpang lain, termasuk 101 anak, meninggal. “Kenapa yang lain mati tapi saya tidak?”

Der Spiegel/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s