Dunia Tanpa Palestina

Oleh Faisal Assegaf

Saban 14 Mei rakyat Israel dan para penyokong gerakan Zionis di seluruh dunia memperingati berdirinya negara Israel. Tahun ini, peringatan itu berlangsung buat ke-65 kali.

Mereka memang pantas merayakan keberhasilan Israel terus bertahan. Sebuah negara kecil namun bertaji di tengah kepungan dunia Arab dan Islam yang terang-terangan memusuhi dan dendam terhadap Israel. Meski tetap berlaku rasis, diskriminatif, dan ekpansionis terhadap bangsa Palestina, rezim Zionis mampu menghadapi tekanan internasional.

Selama 2010 hingga 2012 mereka bahkan bisa membuka sebelas kantor perwakilan diplomatik, termasuk satu di negara teluk. Padahal dalam periode itu Israel melancarkan dua operasi militer sangat mengejutkan masyarakat dunia, yakni serbuan pasukan komando di atas Mavi Marmara, kapal pembawa bantuan kemanusiaan bagi warga Jalur Gaza, dan gempuran udara terhadap wilayah berpenduduk sekitar 1,6 juta jiwa ini.

Jangankan melihat Israel lenyap dari peta dunia seperti khayalan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, negara Yahudi itu tetap perkasa di panggung politik global. Hanya sekadar kecaman menerpa, bukan sanksi apalagi pengadilan sebagai penjahat perang dan kemanusiaan.

Yang terjadi sebaliknya, Palestina kian terpinggirkan. Memang benar, Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhir November tahun lalu di Kota New York, Amerika Serikat, mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Namun itu cuma di atas kertas. Kenyataannya, rakyat dan wilayah Palestina tetap dalam cengkeraman Israel.

Sadar atau tidak, Palestina pelan tapi pasti sangat mungkin bakal sirna dari dunia. Israel bersama Amerika, sekutu istimewa mereka, disokong para pemuka Yahudi pro-Zionis, terus berupaya mewujudkan tujuan itu. Sebagai bukti, dalam skala internasional tidak pernah ada niat serius dari lima negara paling berpengaruh dan memegang hak veto di Dewan Keamanan PBB buat mewujudkan negara Palestina merdeka dan berdaulat.

Mereka lebih mendorong ke arah perundingan damai untuk mencapai solusi dua negara. Sebuah gagasan hampir mustahil diraih lantaran ada tiga ganjalan utama, yakni soal batas wilayah, pemulangan pengungsi Palestina bersama keturunan mereka, dan tuntutan menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina. Alhasil, isu mengenai Palestina hanya sebuah retorika dan menjadi komoditas politik.

Dari tiga faktor itu, Yerusalem Timur merupakan isu mustahil dirundingkan. Di sana terdapat Tembok Ratapan (kotel dalam bahasa Ibrani) yang disucikan umat Yahudi. Mereka meyakini dinding ini adalah sisa dari Kuil Sulaiman Kedua dibangun di kompleks Masjid Al-Aqsha. Selain itu, Yerusalem Timur seperti Makkah dan Madinah di Arab Saudi. Kota itu memiliki nilai ekonomi tinggi karena tidak perlu menghamburkan banyak fulus supaya peziarah berkunjung.

Dalam tataran kebijakan dalam negeri mereka, Israel malah boleh dibilang sudah berhasil melenyapkan Palestina. Meski terdapat sejumlah partai mengklaim kelompok kiri dan tengah yang menyokong perdamaian dengan Palestina, pada hakikatnya mereka juga menolak membagi dua Yerusalem dengan Palestina. Persis tercantum dalam Hukum Dasar Yerusalem disahkan oleh Knesset (parlemen Israel) pada September 1980. Padahal, PBB menetapkan Yerusalem sebagai kota sengketa dan belum ada putusan siapa berhak memiliki kota suci bagi tiga agama samawi ini (Islam, Yahudi, dan Nasrani).

Ironisnya, pemerintah Israel sudah mampu mengubah wajah Yerusalem Timur, kota mereka rebut selepas Perang Enam Hari 1967. Tadinya didominasi orang Palestina, lewat proyek permukiman menjadi wilayah kaum Yahudi. Menurut Jewish Institute for Israel Studies, pada 2010 terdapat 64 persen warga Yahudi mendiami Yerusalem Timur. Dua tahun sebelumnya, 117.400 orang Arab bermukim di sana dan 158.900 lainnya pemukim Yahudi. Namun kawasan Kota Tua di Yerusalem Timur masih dikuasai orang Palestina dengan perbandingan 36.681 dan 3.847.

Sejak israel berdiri, negara ini sudah mengganti semua nama kota dari bahasa Arab ke dalam bahasa Ibrani. Sebagai contoh adalah Asheklon. Kota di selatan Israel ini tadinya bernama Al-Majdal. Sidirut menjadi Sderot, Isdud berganti Ashdod. Bahkan mirisnya, sebagian besar telinga kaum muslim lebih akrab dengan nama Yerusalem ketimbang Al-Quds.

Sebagian besar orang Islam di dunia ini barangkali tidak pernah ingat lagi atau bahkan tidak tahu kapan terjadi pembantaian kamp Sabra dan Shatila di Ibu Kota Beirut, Libanon, pada 1982 menewaskan antara 762 hingga 3.500 pengungsi Palestina. Mereka sudah dipastikan tidak pernah mendengar atau membaca soal pembantaian di Desa Deir Yassin, dekat Yerusalem, sebulan sebelum proklamasi kemerdekaan Israel. Tragedi dimulai pada Jumat subuh, 9 April 1948, ini menewaskan sekitar 250 orang, termasuk 25 perempuan hamil.  Kepala anak-anak dipotong di depan ibu mereka.

Masyarakat internasional tidak pernah memperingati Nakba, yakni terusirnya sekitar 700 ribu orang Palestina saat Israel berdiri. Jumlah mereka sudah beranak pinak di pelbagai negara ini membengkak dan diperkirakan kini sudah lima juta jiwa. Dunia lebih kerap mengenang Holocaust, pembantaian oleh tentara Nazi Jerman selama Perang Dunia Kedua. Israel mengklaim enam juta warga Yahudi terbunuh.

Seusia dengan negara Israel, nasib bangsa Palestina belum menemukan titik terang. Persatuan benar-benar diperlukan untuk menjadi sebuah negara merdeka dan berdaulat tidak pernah bisa terwujud akibat kepentingan banyak pihak, termasuk negara-negara besar. Israel berhasil memisahkan Tepi Barat dengan Jalur Gaza dan Yerusalem. Mereka sukses mengadu domba dua faksi terbesar di Palestina, Hamas di Gaza dan Fatah di Tepi Barat.

Frustasi kemungkinan besar mulai melanda para pendukung Palestina. Apalagi sebagian besar kaum muslim meyakini konflik Palestina dan Israel tidak akan pernah selesai hingga kiamat. Jika ini yang terjadi, dunia tidak akan lagi peduli terhadap mereka.

Situasi kian tidak menguntungkan bila sudah muncul ancaman global, seperti perubahan iklim, penyakit menular flu burung, atau perlombaan memproduksi senjata nuklir dan kimia. Perhatian masyarakat internasional bakal lebih terbetot ke arah isu-isu semacam itu lantaran dapat menimbulkan kematian massal dan menghancurkan peradaban manusia modern.

Alhasil, mimpi Ahmadinejad yang akan terwujud malah sebaliknya. Bukan Israel yang terhapus dari peta dunia, namun tidak akan pernah ada negara Palestina dalam atlas global.

Dimuat di Jurnal Nasional, 18 Mei 2013

3 thoughts on “Dunia Tanpa Palestina

  1. Diberkatilah Israel, ………. Diberkatilah Palestina, ……… Diberkatilah Dunia, ……….
    Marilah kita wujudkan ketenangan kedamaian kesejahteraan di Israel dan Palestina, ………
    Maka marilah kita membersihkan hati dan mensucikan/kuduskanlah jiwa kita agar Dia, Yg Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah Abraham/Ibrahim dan Israel/Yakub mencintai dan memberkati kita, ………. Dan kita semua dijauhkan dari laknat/kutuk/teror/horor/error yg menimpa kita, ……….. Amin YRA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s