Terowongan Cepat Saji

Warga Gaza keranjingan makan KFC.

Pesanan KFC masuk ke Jalur Gaza lewat terowongan.

Usianya belum genap 27 tahun, namun hingga kini dia belum pernah melahap menu bikinan KFC (Kentucky Fried Chicken), restoran cepat saji terkenal asal Amerika Serikat. Padahal, dia sudah tiga kali ke Ibu Kota Kairo, Mesir.

Heba Ziad, gadis tinggal di Abu Albas, Kota Gaza, ini terkejut lantaran baru tahu sekarang warga Gaza bisa memesan KFC. Dia penasaran dan ingin mencoba. Namun semangatnya langsung kendor ketika tahu harga ditawarkan kelewat mahal buat sebagian besar penduduk di sana, termasuk dirinya. “Saya tidak akan mencoba, seratus shekel (US$ 30) terlalu mahal buat saya,” katanya saat dihubungi Hamaslovers lewat telepon selulernya hari ini.

Lain halnya dengan Rafat Shororo. Setelah menunggu enam tahun, dia akhirnya pekan ini bisa mencicipi kembali menu bergambar sang pendiri KFC Kolonel Harland Sanders. Dia terakhir kali makan KFC di Negeri Sungai Nil. “Rasanya seperti mimpi dan perusahaan ini telah membuat mimpi saya menjadi nyata,” katanya sambil menjilati sisa ayam di jemari kanannya.

Al-Yamama, perusahaan jasa pengantaran ini telah memulai layanan antar KFC sebulan lalu. Mulanya, karyawan mereka memesan makan siang dari restoran KFC di Kota Al-Arisy, Mesir, sekitar 56 kilometer dari Kota Gaza. Pesanan tiba dalam tiga jam setelah melewati terowongan sepanjang perbatasan Rafah. Selepas itu, mereka menampilkan menu-menu KFC di laman Facebook perusahaan.

Dalam beberapa jam saja, lebih dari 20 orang menelepon minta dibawakan menu KFC. Supaya tidak rancu, Yamama membatasi pesanan hanya berupa ayam dan kentang goreng, selada, dan kue apel. Saban pekan, mereka kebanjiran puluhan pesanan.

Harga ditawarkan memang lebih tinggi tiga kali lipat ketimbang menu KFC di Al-Arisy yang hanya US$ 30. Menurut bos Yamama, Khalil Efrangi, pihaknya mengambil untung US$ 6 dari tiap paket KFC. “Hak kami (warga Gaza) menikmati makanan dirasakan oleh orang-orang di seluruh dunia,” ujarnya.

Satu-satunya restoran KFC di Al-Arisy beroperasi pada 2011. Setahun kemudian, cabang serupa dibuka di Kota Ramallah, Tepi Barat.

Harga sepaket KFC US$ 30 juga bukan masalah bagi Ibrahim al-Ajla, 29 tahun. Meski mengakui lebih enak dimakan dalam keadaan panas, dia berniat memesan lagi lewat Yamama. “Saya pernah makan KFC di Amerika dan Mesir dan saya kangen rasanya.”

Pemilik terowongan, Abu Iyad, mengaku kaget soal layanan antar KFC. Biasanya yang lewat terowongannya adalah bahan pangan, bahan bangunan, dan kadang orang. Dia juga tidak bisa membayangkan ada orang Gaza rela membeli menu KFC seharga seratus shekel. “Saya bisa membeli empat ekor ayam untuk harga satu paket KFC,” tuturnya.

Yamama harus bersiap bakal kehilangan bisnis barunya ini. Pengusaha Adib al-Bakri memiliki empat gerai KFC dan Pizza Hut di Tepi barat sudah memperoleh izin membuka restoran KFC di Gaza.

Kalau itu terwujud, harganya tentu tidak akan kemahalan dan tidak perlu menunggu hingga empat jam buat menikmati makanan tersohor itu. Heba Ziad pun bakal mempunyai kesempatan mencicipi ayam goreng KFC.

Christian Science Monitor/New York Times/Faisal Assegaf

One thought on “Terowongan Cepat Saji

  1. Pingback: Terowongan Cepat Saji – Islamic Geographic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s