Tanah Tuhan Jadi Rebutan

Menurut survei, warga Palestina di Yerusalem Timur lebih suka Yerusalem jadi ibu kota Israel.

Yerusalem Timur, Tepi Barat.

Sekali lagi, pemimpin Israel menegaskan Yerusalem adalah milik mereka. “Tembok Ratapan telah menjadi milik kami selama tiga ribu tahun. Dinding ini dan negara Israel akan tetap menjadi milik kami selamanya,” kata Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pertengahan bulan ini, pada puncak perayaan hari suci Hanukkah di Kotel (Tembok Ratapan dalam bahasa Ibrani).

Tembok ini berada di dalam kompleks Masjid Al-Aqsha. Kaum Yahudi sejagat menganggap ini sebagai tempat suci mereka. Mereka meyakini dinding ini sebagai sisa dari Kuil Sulaiman Kedua setelah yang pertama dihancurkan. Hanukkah memang diperingati buat mengenang kuil itu.

Bukan hanya Tembok Ratapan di Yerusalem. Kota tua nan bersejarah ini juga menjadi kota suci bagi penganut Nasrani dan Islam. Sebab, di sana terdapat pula Masjid Al-Aqsha (berkubah hijau, sedang Masjid Umar berkubah emas) yang pernah menjadi kiblat pertama kaum muslim. Dari masjid ini pula, Nabi Muhammad melaksanakan mikraj setelah isra dari Masjid Al-Haram di Kota Makkah. Sedangkan orang Kristen memiliki gereja Makam Yesus. Mereka juga bisa menziarahi rute perjalanan Yesus hingga tiang salib di Bukit Golgota.

Pantas saja Yerusalem kerap menjadi rebutan. Posisinya sangat bergengsi bagi tiga agama samawi itu. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan Yerusalem di bawah kontrol mereka. Namun, negara Zionis itu mencaplok kota ini selepas menang Perang Enam Hari 1967.

Knesset (parlemen Israel) merestui penguasaan itu lewat Hukum Dasar yerusalem disahkan pada September 1980. Undang-undang itu menegaskan Yerusalem adalah ibu kota abadi Israel dan tidak dapat dibagi dua dengan negara mana saja, termasuk Palestina. Sejak itu, semua kantor pemerintah, termasuk istana presiden dan kediaman resmi perdana menteri Israel, dipindah dari Tel Aviv ke Yerusalem Barat.

Para pemimpin dan rakyat Palestina disokong umat Islam mendukung Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara itu nantinya. Karena itu, status Palestina sebagai calon ibu kota negara Palestina selalu menjadi agenda utama saban perundingan antara Palestina dan Israel. “Kami bersumpah terus berjuang buat menguasai Al-Aqsha (Yerusalem),” ujar pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza, Mahmud Zahar, kepada Hamaslovers akhir Oktober lalu.

Meski begitu, hasil jajak pendapat terhadap sekitar 270 ribu warga Palestina menetap di Yerusalem Timur. Survei dilansir awal Januari tahun lalu di Ibu Kota Washington D.C., Amerika Serikat, ini menanyakan apakah mereka bakal memilih menjadi warga Israel atau Palestina setelah negara Palestina terbentuk nantinya.

Jawabannya poling oleh Pechter Middle East Polls bekerja sama dengan Dewan Hubungan Luar Negeri ini bisa membikin kita kaget. Hanya 30 persen responden ingin menjadi warga Palestina, sedangkan 35 persen lebih memilih bergabung dengan negara Zionis. Sisanya, belum dapat memutuskan.

Bila Yerusalem ditetapkan sebagai ibu kota Palestina, 40 persen orang Palestina di Yerusalem Timur ingin pindah ke wilayah Israel, hanya 37 persen memilih bertahan di sana. Sebagai perbandingan, jika Yerusalem menjadi ibu kota Israel, cuma 27 persen yang akan pindah ke wilayah Palestina dan 54 persen lainnya menyatakan akan tetap bermukim di kota itu.

Mereka yang memilih menjadi warga Palestina lantaran alasan nasionalisme dan patriotisme. Orang Palestina tertarik menjadi warga Israel karena kebebasan, pendapatan lebih tinggi, kesempatan memperoleh pekerjaan lebih besar, dan asuransi kesehatan. Namun dua kelompok ini sama-sama cemas bakal kehilangan akses ke Masjid Al-Aqsha.

Kedua golongan ini punya kekhawatiran sendiri. Mereka yang ingin menjadi warga Palestina cemas bakal sulit mendapat pekerjaan dan tidak bisa masuk ke Israel, tidak mendapat layanan kesehatan, menganggur, dan pelbagai kesulitan lainnya. Orang Palestina yang ingin bergabung dengan Israel juga resah akan diskriminasi, sulit memperoleh izin mendirikan bangunan, dan sukar mengunjungi kerabat di Palestina.

Dr. David Pollock, peneliti senior dari the Washington Institute, menegaskan hasil survei itu layak dipercaya. Dia juga ikut mengawasi pelaksanaan jajak pendapat dan menganalisis hasilnya. “Saya mengira para pemimpin Palestina tidak akan terlalu suka dengan hasil ini,” katanya kepada Haaretz.

Dia menjelaskan hasil survei ini menjadi pekerjaan rumah bagi kedua pihak bertikai. Palestina harus bisa meyakinkan kalau Yerusalem menjadi wilayah mereka, semua keuntungan diperoleh orang Palestina selama ini bisa tetap terpelihara, bahkan kalau bisa kian meningkat.

Israel juga harus bisa memastikan jika Yerusalem benar-benar sah milik mereka, orang Palestina tidak bakal menjadi warga negara kelas dua seperti selama ini terjadi.

Tentu saja, negara Bintang Daud ini tidak akan rela mengabulkan tuntutan Palestina itu. Semasa Yassir Arafat masih hidup, Israel pernah mengusulkan Abu Dis, di luar Yerusalem Timur, sebagai ibu kota alternatif Palestina.

Kalau menjadikan agama dan sejarah sebagai alasan buat mengklaim Yerusalem. Semua itu masih bisa diperdebatkan. Dasar paling logis mengenai perebutan Yerusalem lantaran kota suci ini memiliki nilai ekonomi tinggi.

Statusnya sebagai kota suci bagi kaum muslim, Yahudi, dan Nasrani membuat Yerusalem seperti Makkah dan Madinah di Arab Saudi. Tanpa perlu promosi, orang bakal berlomba-lomba saban tahun berziarah ke Yerusalem. Yang muslim menengok Masjid Al-Aqsha, Nasrani menziarahi Gereja Makam Yesus, dan orang Yahudi berdoa di Tembok Ratapan.

Tentu saja, banjir peziarah ini membuat negara menguasai Yerusalem memperoleh pemasukan. Dalam tulisan berjudul The Economics of Jerusalem, Laila Farsakh dari Universitas Massacusetts, Boston, Amerika Serikat, menyebut pendapatan dari sektor wisata saban tahun US$ 2,4 miliar hingga US$ 4,5 miliar atau setara Rp 23,18 triliun – Rp 43,45 triliun.

Angka ini sama dengan empat persen dari Produk Nasional Bruto Israel. Raihan ini juga seperlima dari jumlah pemasukan Kota Yerusalem.

Kedua pihak dipastikan akan terus mempertahankan klaim masing-masing atas Yerusalem. Alhasil, konflik berkepanjangan antara kedua bangsa sangat mungkin tidak akan pernah berakhir hingga kiamat. Cuma Tuhan bisa memutuskan siapa paling berhak atas Yerusalem.

Arutz Sheva/Haaretz/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s