Dilema Hamas Soal Masa Depan Gaza

Oleh: Faisal Assegaf

Beginilah pemandangan saban hari saat Oktober lalu saya ke Kota Gaza. Toko-toko mal memang buka, namun jarang pengunjung lantaran harga kelewat mahal. Sebagai gambaran, wafer batangan di Jakarta bisa diperoleh dengan Rp 1.500, di sana mesti merogoh hingga Rp 9-11 ribu.

Anak-anak memang bisa bersekolah hingga kuliah, namun selepas itu mereka bakal menjadi pengangguran. Tidak ada kerjaan lantaran Israel menghentikan mengambil pekerja dari Gaza. Alhasil, para pemuda kebanyakan dari mereka kerjanya cuma jalan-jalan saban sore hingga malam. Untuk menghilangkan depresi, tidak sedikit yang kecanduan narkotik. Atau kalau mau mulia di mata orang-orang, menjadi anggota Hamas, Jihad Islam, atau kelompok perjuangan lainnya dengan harapan mati syahid ketimbang hidup susah.  

Para gadis – sebagian besar berwajah sedap dipandang – gelisah lantaran hingga usia mereka cukup menikah tidak ada yang berani melamar. Bagaimana mungkin buat meminang, maharnya saja rata-rata US$ 7 ribu. Menurut seorang gadis bernama Heba, untuk hidup berkeluarga secara cukup mesti berpenghasilan minimal US$ 500 saban bulan. Namun yang terjadi, pendapatan rata-rata warga Gaza US$ 130. Bahkan, menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 80 persen warga Gaza mengandalkan bantuan kemanusiaan buat hidup sehari-hari.

Semua penderitaan ini berawal dari blokade Israel sejak lima tahun lalu. Krisis kemanusiaan meletup akibat kurangnya pasokan bahan bakar, bahan pangan, obat-obatan dan sebagainya. Petaka sekitar 1,6 juta warga di sana kian diperparah oleh dua kali perang: Desember 2008-Januari 2009 dan November 2012.

Dalam laporannya Agustus lalu, PBB memperingatkan delapan tahun lagi Gaza tidak layak huni. Pada 2020, penduduk berjumlah sekitar 2,13 juta, kebanyakan usia muda. Di masa itu, Gaza memerlukan tambahan 440 sekolah, pasokan listrik 550 megawatt, 71 ribu flat, lebih dari seribu dokter, dua ribu perawat, dan 800 ranjang rumah sakit.

Boleh jadi, kebutuhan itu mustahi dipenuhi. Sekarang saja, rumah sakit kekurangan obat-obatan dan peralatan medis. Air layak minum hanya sepuluh persen dan barangkali tidak bisa dipakai lagi pada 2016. Pasokan listrik jauh dari kebutuhan. Gaza mati lampu dua kali sehari: selepas subuh dan menjelang maghrib.

Berbicara soal masa depan Gaza seperti menghadapi persoalan dilematis bagi Hamas. Ini tidak lepas dari masalah politik dan keamanan. Kalau penduduk Gaza menyandarkan masa depan mereka kepada Hamas berarti mereka harus selalu siap menghadapi gempuran militer negara Zionis bisa datang kapan saja. Sebab, kelompok berusia seperempat abad itu hingga kini masih teguh memegang ideologi, yakni tidak akan pernah mengakui berdirinya negara Israel dan bahkan bersumpah bakal melenyapkan negara Bintang Daud itu dari seluruh wilayah Palestina.

Karena itu, gencatan senjata tercapai saban kali konflik berakhir hanya bersifat sementara. Hamas dan kelompok pejuang lainnya bakal senantiasa menembakkan roket ke wilayah Israel. Masyarakat jangan sampai salah kaprah menilai hal ini. Hamas tidak salah menyerang Israel. Mereka berhak lantaran mereka berjuang melawan penjajah.

Tindakan serupa juga diambil oleh pasukan negara Yahudi itu. Mereka kerap beroperasi di sepanjang perbatasan. Dengan alasan keamanan, mereka tidak segan menembak warga Palestina tidak bersenjata mendekati pagar pembatas. Pesawat pengintai tanpa awak juga terbang saban hari di atas langit Gaza.

Membiarkan rezim Hamas berkuasa di Gaza sama saja melanggengkan isolasi terhadap wilayah seluas 360 kilometer persegi itu.  Gaza sudah seperti penjara terbuka raksasa, lalu-lintas orang dan barang sangat terbatas lantaran semua perbatasan, darat, laut, dan udara dengan Israel ditutup.

Memang benar, sejak Presiden Muhammad Mursi dari kelompok Ikhwanul Muslimin berkuasa, gerbang Rafah terbuka saban hari. Namun, itu tidak cukup buat mengangkat perekonomian Gaza. Apalagi, situasi politik di Negeri Sungai Nil itu masih tidak menentu sejak rezim Husni Mubarak terguling Februari tahun lalu.

Namun mesti diingat, selama Mesir masih menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, kebijakan negara itu terhadap konflik Palestina-Israel masih bisa dipengaruhi oleh Amerika Serikat sebagai sekutu istimewa Israel. Maklum saja, Kairo menjadi penerima bantuan luar negeri terbesar Washington, yakni US$ 1,3 miliar saban tahun sejak Perjanjian Camp David diteken pada 1979.

Hamas juga tidak bisa diandalkan buat mensejahterakan rakyat Gaza. Bantuan kemanusiaan internasional belum cukup untuk itu. Hamas saja masih mengandalkan sumbangan dan para pengagum rahasia mereka untuk kepentingan militer buat menghadapi Israel. Setidaknya, belum ada saudagar tajir Arab yang mampu membeli klub kaya macam Manchester City di Inggris atau Paris Saint Germain di Prancis bersedia menanggung derita warga Gaza.

Dengan menekankan pendekatan militer terhadap Israel, Hamas ternyata kian populer, setidaknya setelah perang delapan hari bulan lalu. Apalagi, roket-roket Fajr-5 buatan Iran dan M-75 berhasil menjangkau Ibu Kota Tel Aviv, Israel, dan Yerusalem yang dikuasai sepihak oleh negara Zionis itu. Ketika berhasil menukar satu serdadu Israel bernama Gilad Shalit dengan 1.050 tawanan Palestina, Hamas juga dipuja.

Tentu saja, kebijakan garis keras ini harus dibayar mahal oleh penduduk sipil. Gaza kerap menjadi daerah latihan perang sekaligus ladang pembantaian oleh militer Israel. Warga Gaza sering dibayangi ketakutan sekaligus kelaparan. Namun, haluan ini jauh lebih bijak ketimbang jika Hamas mau bekerja sama dengan musuh bebuyutannya itu.

Kalau pilihan kedua diambil, Hamas harus melucuti seluruh senjata mereka. Hamas juga wajib mengakui keberadaan negara Israel. Akibatnya, Hamas bakal menjadi macan ompong dan itu sama saja membiarkan Israel terus menjajah warga Gaza. Bahkan, bisa saja mereka kembali menguasai Gaza setelah Perdana Menteri Ariel Sharon pada 2005 membuat keputusan kontroversial: menarik semua pasukan dan pemukim Yahudi dari kawasan itu.

Alhasil, sulit bagi warga Gaza mendambakan masa depan cerah. Ingin sejahtera dan nyaman berarti mereka harus berada di bawah kontrol Israel. Berarti menjadi bangsa terjajah dan ini sebuah nista. Terus melawan konsekuensinya harus siap diselimuti ketakutan dan kelaparan. Meski begitu, ini jauh lebih mulia. Pilihan paling bagus tentu saja lebih baik hidup susah tapi merdeka ketimbang hidup sejahtera namun terjajah.

Dimuat di Jurnal Nasional, 26 Desember 2012 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s