Mordechai Vanunu: Tak Ada Negara Bisa Menekan Israel

Pembocor program rahasia nuklir Israel Mordechai Vanunu

Kami sudah berteman delapan tahun, yakni sejak Mordechai Vanunu dibebaskan dari penjara. Selama itu pula, dia menjalani status tahanan kota.

Dia cukup terkejut lantaran saya sudah lama tidak menelepon. “Apakah kamu masih hidup? Apa kamu masih bekerja sebagai wartawan?” Saya pertama kali mengenal Vanunu ketika mewawancarai dia pada Juli 2004. Sejak itu, hubungan kami berlanjut, berkomunikasi lewat telepon, pesan pendek, atau surat elektronik.

Status Vanunu memang bebas bersyarat. Dia tidak boleh mendekati pelabuhan, bandar udara, kantor perwakilan asing, atau menerima wawancara dengan media asing.

Karena hubungan dengan Vanunu inilah, saya masjuk dalam daftar Mossad. Artinya, saya tidak akan pernah bisa melawat ke negara Zionis itu hingga nama saya dihapus dalam daftar itu.

Ceritanya begini. Saban kali mewawancarai Vanunu, saya mengirim bukti wawancara ke surat elektroniknya. Ketika ditahan kembali karena melanggar bebas bersyarat, polisi dan agen intelijen Israel menemukan bukti itu. Mereka terkejut mengetahui ada wartawan dari Indonesia mewawancarai Vanunu. “Faisal saya terpaksa menyebut nama kamu,” ujar Vanunu ketika itu.

Tidak lama berselang, agen Mossad bernama David Ben Luhu menemui saya di lobi Hotel Grand Hyatt. Di sana, dia berupaya mengintimidasi dan mengancam saya.

“Kamu telah mewawancarai musuh negara kami.”
“Itu berbahaya bagi kamu.”
Saya tidak peduli, musuh negara atau kawan negara Anda,” jawab saya.
“Bagi saya Vanunu adalah narasumber sangat menarik.”

Melihat saya melawan, dia menanyakan siapa saja kenalan saya di Israel. Lantas saya menunjukkan sejumlah daftar nama di telepon seluler saya. Ada Tzipi Livni, Gideon Ezra, Yuval Steinitz, Raanan Gissin, dan Noam Katz. Selepas itu, dia mulai melunak. Dia berpesan agar saya berhati-hati.

Seorang agen Israel di Indonesia membenarkan pula saya masih masuk daftar hitam Mossad. Terbukti, saya tidak dapat visa untuk sekolah ke sana.

Bagi pegiat perdamaian, Vanunu adalah pahlawan, namun bagi Israel dia pengkhianat. Sebab membocorkan rahasia nuklir Israel kepada surat kabar the Sunday Times pada 1986, dia ditangkap oleh Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Lewat pengadilan rahasia – tanpa didampingi pengacara – Vanunu divonis 18 tahun penjara, sebelas tahun di antaranya dia mendekam di sel isolasi.

Ahli nuklir pernah bekerja di reaktor Dimona, gurun Negev (selatan Israel) ini sangat bermimpi bisa meninggalkan negara Zionis itu. Sampai-sampai dia bertanya apakah mungkin memperoleh paspor Indonesia. Dia berharap suatu saat bisa berkunjung ke Jakarta. Meski begitu, dia mengakui boleh dibilang mustahil Israel bakal membiarkan dia pergi.

Berikut penuturan Vanunu saat dihubungi Faisal Assegaf dari Hamaslovers melalui telepon selulernya, kemarin malam.

Bagaimana pendapat Anda soal kemungkinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terpilih lagi?

Saya tidak tertarik berbicara soal pemilu Israel. Saya cuma ingin ngomong mengenai kebebasan saya.

Bagaimana status Anda saat ini?

Masih tahanan kota. Pemerintah israel tidak mengizinkan saya meninggalkan negara ini.

Apakah Anda sudah mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi?

Sudah, namun mereka menolak permohonan saya.

Anda yakin suatu saat bisa meninggalkan Israel?

Israel negara adikuasa, tidak ada yang bisa menekan mereka.

Bagaimana dengan kampanye internasional menuntut Anda segera dibebaskan?

Mereka tidak bisa apa-apa.

Bagaimana keadaan Anda?

Baik-baik saja.

Di mana Anda tinggal sekarang?

Di sebuah apartemen di Yerusalem Timur (sebelumnya Vanunu menetap di Gereja Saint George, Yerusalem).

Dengan siapa?

Bersama sejumlah teman warga Palestina.

Bagaimana perlakuan orang Palestina terhadap Anda?

Mereka baik dan menyukai saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s