Label Khianat Hingga Liang Lahat

Anggota Brigade Izzudin al-Qassam menyeret mayat pengkhianat menggunakan sepeda motor berkeliling Kota Gaza, pertengahan November 2012.

Mayat itu dibiarkan tergeletak begitu saja di pojokan sebuah jalan ramai di Kota Gaza pertengahan bulan lalu. Dengan kedua tangan terikat ke belakang serta wajah dan tubuh berlumuran darah. Warga yang menonton melontarkan sumpah serapah seraya meludah dan menimpuki dengan batu.

Jenazah nahas itu bernama Fadil Shaluf. Brigade Izzudin al-Qassam (sayap militer Hamas) mengaku membunuh lelaki 24 tahun ini bersama enam pria lainnya sebagai pengkhianat. Mereka dituding memberitahukan kepada anggota intelijen Israel soal lokasi peluncuran roket dan gudang senjata Hamas. Setelah dieksekusi, mayat mereka diseret dengan sepeda motor keliling Kota Gaza.

Pihak keluarga benar-benar terluka melihat perlakuan keji terhadap Fadil. “Fadil hidup miskin dan mati dalam keadaan papa,” kata Ahmad Shaluf, 28 tahun. “Mereka tidak hanya membunuh Fadil, tapi juga membunuh kami semua.”

Setelah beberapa jam, kerabat membawa pulang mayat Fadil. Tidak ada tetangga datang melayat. Tanpa spanduk bergambar dirinya dan arak-arakan mengantar ke liang lahat. Cuma keluarga yang mengusung tandu jenazah.

Ibunya Fadil memilih berdiam di rumah dan meratapi kematian putranya itu. Namun, dia tidak tahu sebabnya. Buat menghibur sang istri, Musallam Shaluf bilang Fadil terbunuh setelah serangan udara Israel menghantam penjara tempat dia mendekam. “Layaknya dia seorang syuhada,” katanya.

Keluarga mengungkapkan Fadil diculik pada Januari 2008 saat akan mencari ikan dan kepiting. Sembilan hari kemudian, Mussalam bisa menjenguk anaknya itu di tahanan. Ayah sepuluh anak ini melihat sejumlah jari kaki dan tangannya patah. Ada bekas luka bakar di beberapa bagian badannya. Fadil mengaku digantung dengan kepala terbalik saat diinterogasi.

Pengadilan Januari tahun lalu memutus Fadil terbukti bersalah atas dakwaan berkhianat. Tapi pengacara menuding balik kliennya itu terpaksa mengaku karena tidak tahan siksaan.

Ahmad Shaluf membantah sepupunya itu berkhianat. Bahkan, dia menjelaskan, Fadil pernah membantu empat pejuang Hamas berlayar hingga perairan Mesir. Dia menegaskan mendiang juga tidak mempunyai lebih dari satu kartu perdana. “Dia bahkan tidak bisa mengetik namanya di telepon seluler.”

Dia menambahkan Fadil tinggal di gubuk reot. “Kalau dia berkhianat, dia sudah bisa membeli mobil dan pakaian,” Ahmad menegaskan.

Keluarga boleh saja membantah, namun cap pengkhianat sudah terlanjur menempel di jidat Fadil hingga liang lahat.

New York Times/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s