Khayalan Damai Saudagar Gaza

Khoudary cinta mati dengan tanah airnya Gaza.

Namanya Jawdat N. Khoudary, salah satu saudagar paling tajir di seantero Jalur Gaza. Dia juga termasuk orang ambisius,

Perusahaan konstruksi miliknya dengan pendapatan US$ 15 juta saban tahun, Saqqa & Khoudary, akan membangun dua rumah sakit di Gaza dengan dana bantuan dari Turki dan Arab Saudi. Dia mempekerjakan 60 karyawan tetap dan 140 buruh harian.

Khoudary pecinta barang antik dan leluhurnya sudah menetap di Gaza lebih dari dua abad. Dia empat tahun lalu membangun museum arkeologi pertama di wilayah seluas 360 kilometer persegi itu. Dia mendanai pula penggalian purbakala di utara Gaza.

Di lahan bekas perkebunan jeruk seluas lebih dari sembilan ribu meter persegi, kini dia tanami puluhan ribu kaktus dari seluruh dunia. Dia jual tiap pot US$ 1 atau kurang dari itu. Dalam bahasa Arab, kaktus disebut sabr, artinya sabar. “Ini kita perlukan di Gaza, bersabar,” kata Khoudary, 52 tahun, saat mengajak keliling kebun kaktusnya dua bulan lalu. “Kita harus berlatih sabar dengan menanam kaktus lantaran tumbuhnya sangat lama.”

Meski kaya, dia juga tidak luput dari kecemasan saat perang delapan hari melanda Gaza. Gencatan senjata baru disepakati Kamis dini hari pekan lalu. Konflik bersenjata itu menewaskan 162 orang dan mencederai 1.200 lainnya.

Di hari kedua gempuran Israel, Khoudary bersama istri dan lima anak mereka mengungsi ke rumah ayahnya di dekat pantai. Besoknya, dia balik ke rumahnya sendiri, sedangkan yang lain tetap di sana. “Hari pertama adalah situasi paling sulit,” ujarnya. Dia mengaku tidak bisa menikmati buku sejarah kesukaannya atau tidur lelap.

Khoudary akhirnya memilih asyik dengan iPadnya sambil mendengarkan berita lewat radio dan televisi. Dia tidak mau menjawab panggilan telepon dari sejumlah rekan menanyakan bagaimana kondisi di Gaza saat itu. “Sekarang jika ada gempuran, saya tidak akan takut atau cari perlindungan, saya akan terus menyeruput kopi dan mengisap rokok.”

Cadangan rokok Marlboro merah kegemarannya bisa sampai 20 hari. Dia memang perokok berat dan saban hari bisa menghabiskan hingga dua setengah bungkus rokok putih itu.

Dengan hartanya, Khoudary bisa saja bermukim di negara lain, tapi dia terlalu cinta dengan tanah airnya itu. Dia kerap bepergian ke Israel tiap bulan dan telah melawat ke 40 negara buat urusan bisnis. Dia pernah mencoba tinggal di Mesir, namun tidak betah.

Pemilik Al-Mathaf, salah satu hotel termahal di Gaza, ini sangat berharap tidak ada lagi perang. “Kami ingin terus hidup, kami ingin meraih mimpi-mimpi kami.”

Kemungkinan besar, harapan Khoudary ini sekadar khayalan. Israel tentu tidak bakal membiarkan bangsa Palestina jajahannya maju.

New York Times/Faisal Assegaf

One thought on “Khayalan Damai Saudagar Gaza

  1. Pingback: Khayalan Damai Saudagar Gaza – Islamic Geographic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s