Dag Dig Dug di Sderot

Sirene tanda bahaya meraung saban pukul enam pagi.

Bukan sekadar makan, minum, dan tidur buat bertahan hidup di Sderot, kota berjarak hanya satu kilometer dari Kota Bait Hanun, utara Jalur Gaza. Para penduduk di sana mesti selalu waspada sekaligus cekatan jika serangan roket datang.

Ketika sirene tanda bahaya meraung-raung, hanya seperempat menit waktu untuk menyelamatkan diri, lari ke tempat perlindungan. “Suasana di Sderot saban hari mencekam, terutama saat perang terjadi,” kata Anav Silverman, relawan kemanusiaan, saat dihubungi Hamaslovers melalui telepon selulernya kemarin malam.

Perawan asal Amerika Serikat keturunan Yahudi ini menambahkan kadang roket-roket Qassam juga terbang di waktu malam. Sebab itu, dia mengaku jarang bisa tidur pulas. “Deg-degan, tengah malam juga bisa ada serangan.”

Kecemasan sekitar 24 ribu penduduk Sderot tidak hanya dirasakan saat perang. Maklum saja, serangan roket Qassam oleh pejuang Palestina datang hampir saban hari. Sejak pecah intifadah kedua 12 tahun lalu, lebih dari enam ribu roket menghujani kota seluas lima kilometer persegi ini. Kebanyakan berlangsung antara pukul 06.00 hingga 08.00 pagi, ketika anak-anak pergi sekolah atau sedang bermain. Kalau malam biasanya, roket Qassam datang jam 16.00 atau 17.00.

Seperti kata Laura Bialis, pembuat film dokumenter asal Kota Los Angeles, Amerika Serikat, yang pernah menetap di Sderot. Dia menegaskan rutinitas harian saya ditentukan oleh Hamas. “Alarm jam saya adalah tzeva adom (sirene tanda bahaya) selalu meraung saban pukul enam pagi,” ujar ibu satu putri ini. Dia menikah dengan musikus rock asli Sderot bernama Avi Vaknin.

Kini Laura sekeluarga tinggal di Ibu Kota Tel Aviv. Namun, saban Sabtu mereka mengunjungi keluarga suaminya di Sderot buat merayakan Sabbath. Mereka mengikuti jejak sebagian besar warga di sana, pindah dari kota berbahaya itu.

Tiga tahun terakhir, pemerintah Israel menggelontorkan lebih dari Rp 1,2 miliar untuk menjadikan Sderot aman buat ditinggali. Tiap apartemen dan rumah mendapat satu bunker perlindungan. Tetap saja, Laura enggan kembali ke sana, tempat ia menemukan pasangan hidupnya.

Tapi Laura masih ingat yang mesti dilakukan saban kali menyetir mobil di Sderot. Buka kaca jendela dan kecilkan volume suara radio sehingga bunyi tzeva adom bisa kedengaran. Copot sabuk pengaman dan bersiap lari ketika mendengar bunyi sirene bahaya karena cuma tersisa 15 detik untuk berlindung di tempat aman. Dag dig dug rasanya bermukim di Sderot.

Tablet Magazine/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s