Rintihan Gadis Gaza

“Doa saja tidak cukup buat menolong kami,” kata Heba Ziad.

Raungan jet tempur F-16 Israel terdengar jelas meski lewat telepon. “Rasanya seperti terbang di atas kepala kami,” kata Heba Ziad, 26 tahun, warga kawasan Abu Albas, Kota Gaza, saat dihubungi Hamaslovers melalui telepon selulernya Rabu malam lalu.

Suaranya tercekat menahan takut, matanya sembab menahan sedih. Dalam hitungan detik, tangis gadis yatim ini pecah mengoyak jiwa. “Faisal berdoalah untuk kami, berdoalah buat kami.” Lamat-lamat suara renyah anak kedua dari lima bersaudara ini menghilang, berganti dengan dentuman ledakan dan raungan burung-burung besi negara Zionis itu.

Israel malam itu tengah mengamuk. Negara Bintang Daud ini membombardir Kota Gaza dengan alasan membumihanguskan basis-basis teroris Hamas. Menurut militer Israel, seharian itu mereka menyasar lebih dari seratus lokasi dicurigai sebagai tempat meluncurkan membuat roket. Sorenya, mereka berhasil menewaskan Ahmad al-Jaabari, komandan Brigade Izzudin al-Qassam (sayap militer Hamas).

Heba muncul kembali dalam tiga helaan napas. Dia menceritakan tidak tidur semalaman lantaran serangan udara Israel berlangsung seperti guyuran hujan. Heba sekeluarga berkumpul di lantai dua flat hunian mereka. Dia berpelukan erat dengan ibu dan adiknya yang masih duduk di sekolah menengah atas.

Kondisi kian mencekam lantaran mati lampu. Kondisi macam ini memang biasa terjadi di Kota Gaza yang hanya memiliki satu pembangkit listrik dengan bahan bakar kiriman Israel semaunya. “Kami tidak bisa keluar buat membeli apapun. Rasanya tidak ada tempat aman lagi meski di dalam rumah,” ujarnya.

Ketika Hamaslovers melawat ke sana akhir bulan lalu, saban pagi dan sore listrik selalu mati. Hanya rumah bergenset yang bisa menikmati penerangan di waktu malam.

Heba sekeluarga memang sudah terbiasa hidup susah. Sudah tiga generasi mereka mengontrak flat seharga US$ 200 saban bulan. Ayahnya, mendiang Ziad Muhammad al-Syarif terbunuh dalam serangan Israel beberapa tahun lalu. Ziad aslinya dari Kota Ashkelon (dalam bahasa Arab disebut Al-Majdal) yang kini menjadi wilayah Israel. Buyutnya termasuk dalam sekitar 700 ribu warga Palestina terusir dari tanah kelahiran mereka ketika negara Yahudi itu berdiri 64 tahun lalu.

Sejak kehilangan ayahnya, sarjana lulusan bahasa Inggris dari Universitas Al-Aqsa ini menjadi sandaran keluarga. Kakak sulungnya hanya bekerja sebagai pelayan restoran dan penghasilannya cuma cukup buat dirinya sendiri. Tiga adiknya masih sekolah. Heba banting tulang mengajar bahasa Inggris di sejumlah tempat kursus.

Heba berusaha keras menahan tangis. “Sejak dalam kandungan, kami sudah terbiasa mendengar ledakan bom Israel, tapi kami manusia biasa. Saya takut sekali Faisal.”

Hubungan telepon terputus. Namun, satu kalimat dari Heba masih terngiang hingga kini. “Doa saja tidak cukup buat menolong kami.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s