Menyusuri Terowongan Menembus Gaza

Dari gerbang perlintasan, saya bersama Muhammad dan Ismail menumpang omprengan menuju Kota Rafah. Jaraknya sekitar empat kilometer dari sana.

Kami akhirnya berhenti di sebuah simpang tiga. Untuk mengelabui penduduk sekitar, saya bersama Muhammad berpisah dengan Ismail. Kami berdua memasuki lorong berpasir, seperti jalanan lainnya di Rafah, sedangkan Ismail berjalan lurus. Maklum, kota kecil ini terletak di gurun Sinai. Kota ini terbelah dua: satu masuk Mesir, sisanya menjadi bagian dari Jalur Gaza.

Kami berhenti di dekat lapangan. Muhammad lantas menurunkan resleting celana jins birunya, berpura-pura ingin kencing, saya diminta mengunyah makanan yang sudah dia siapkan dalam kantong plastik: biskuit dan wafer. Setelah menyadari situasi aman, Muhammad menghubungi Ismail melalui telepon selulernya.

Kemudian kami berjalan keluar dari gang itu, belok kiri menuju masjid, sekitar 30 meter dari mulut lorong. “Kamu duduk di dalam,” kata Muhammad.

Saya memutuskan mengambil wudu buat salat. Belum selesai air membasuh dua kaki, Muhammad berteriak memanggil. Saya menghentikan wudu saya dan setengah berlari ke arah pintu masjid. Yallah Faisal (ayo Faisal). Saya buru-buru mengenakan kaus kaki dan mengikat tali sepatu saya.

Sebuah omprengan Mercedes berwarna pasir gurun sudah tiba-tiba memutar di depan masjid. Ternyata Ismail sudah di dalam, duduk di samping sopir. Saya dan Muhammad lantas masuk lewat pintu belakang. Mobil pun melaju ke dalam gang di samping masjid yang juga berpasir. Saya kira masih jauh, ternyata cuma seratus meter.

Akhirnya, kami masuk pintu samping rumah bercat biru muda. Setelah melewati satu pintu, kami masuk satu pintu lagi berwarna coklat. Di dalam sana, akhirnya saya benar-benar melihat mulut terowongan. Jantung saya yang sudah berdegup agak kencang sejak memutuskan masuk lewat terowongan kian bertambah kuat debarannya.

Pintu terowongan itu berada di ruangan terbuka, hanya dikelilingi tembok setinggi 12 batako dan ditutupi atap kayu serta pohon tut. Empat kursi plastik berwarna hijau sudah penuh oleh antrean warga yang ingin ke Jalur Gaza lewat terowongan. “Ahlan wa sahlan ya Faisal,” kata Muhammad Najar seraya memeluk sekaligus mencium kedua pipi saya, seperti kebiasaan orang Arab.

Saya lantas disuruh menunggu sekitar sejam dengan alasan paspor saya harus dicap oleh pemerintah Hamas. Najar akhirnya mengantongi paspor saya masuk ke dalam lorong bawah tanah itu. Selama menanti, saya melihat sejumlah orang keluar-masuk tanpa kelihatan cemas. Kebanyakan yang menggunakan terowongan adalah penduduk Rafah karena lebih mudah dan tidak ribet.

Selama itu pula, saya mendengar raungan dua jet tempur dan satu helikopter Israel. Mereka memang giat mengawasi perbatasan lantaran meyakini masih banyak terowongan bisa digunakan Hamas buat menyelundupkan senjata dan amunisi.

Nyali mulai menciut, kebimbangan menyelimuti saya. Pikiran saya terbayang jauh ke orang tua, istri, dan putra saya. Apalagi, terowongan itu cuma sedalam dua meter dan kanan-kirinya hanya dilapisi papan. “Berani nggak yah, apa mending batalin,” ujar suara hati.

Menurut Hamdi, penduduk sekitar yang biasa menyeberang lewat terowongan, lorong bawah tanah itu dibangun sembilan tahun lalu. “Kamu nggak usah takut, aman kok,” katanya seolah memahami kecemasan saya. “Setahu saya, Anda orang Indonesia pertama masuk ke Gaza lewat terowongan.”

Giliran saya akhirnya datang juga. Saya masuk ditemani Najar dan pekerja terowongan bernama Umar. Kami menuruni lima anak tangga dari papan. Suasana dalam terowongan terang lantaran barisan lampu neon. Saya tidak harus merunduk dan lebarnya sekitar satu meter. Sepanjang perjalanan, saya berdoa dalam hati agar jet tempur negara Zionis tidak mengebom permukaan tanah di atas terowongan sedang saya lewati.

Setelah berjalan berjalan lima menit menyusuri jalur sepanjang 200 meter itu, saya akhirnya tiba di tujuan. Seorang lelaki menyambut saya, sama seperti cara Najar. Saya pun sudah disediakan omprengan buat menuju Kota Gaza. Rupanya, terowongan itu berada di antara lokasi pembangunan rumah susun. Persisnya di bawah pondasi sebuah gedung. Setengah jam kemudian, saya tiba di Kota Gaza.

Faisal Assegaf (Rafah)

One thought on “Menyusuri Terowongan Menembus Gaza

  1. Pingback: Menyusuri Terowongan Menembus Gaza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s