Ketika Perempuan Menjadi Katsa Mossad

Untuk pertama kalinya, Mossad mengizinkan sebuah media mewawancarai katsa perempuan.

Mereka salah satu aset terpenting buat Israel. Penduduk negara Zionis itu mesti berterima kasih kepada mereka karena bisa tidur nyenyak. Kalau Israel menang dalam perang mendatang, mereka juga turut berjasa.

Meski peran mereka begitu penting, kita tidak akan pernah membaca kisah mereka di surat-surat kabar, menyaksikan mereka lewat televisi, atau bahkan memuji keberhasilan mereka. Mereka tidak perlu pengakuan. Anda tidak mampu mengenali mereka karena mereka beroperasi secara rahasia. Mereka adalah perempuan dalam bayangan.

Situs Globes bulan lalu berhasil mewawancarai lima agen senior perempuan. Jabatan mereka sudah komandan, pangkat mereka setara kolonel dan brigadir jenderal di militer Israel. Seluruhnya masih aktif sebagai katsa.

Untuk pertama kalinya sejak Mossad dibentuk pada 1951, badan intelijen itu mengizinkan media buat mewawancarai agen (katsa) mereka. Tentu lewat prosedur berbelit. Paling mengejutkan kelima katsa senior ini sudah bersuami dan beranak. Mereka adalah Efrat, Ella, Yael, Nirit, dan Shira. Semua nama samaran.

Efrat adalah wakil kepala sebuah divisi, komandan perempuan paling senior di Mossad. Dia memimpin agen lelaki lulusan dari unit-unit elite angkatan darat dan bahkan pilot tempur. Dia bertemu suaminya dalam sebuah operasi. Pasangan ini telah dikaruniai tiga anak. Atas prestasi-prestasinya, dia dianugerahi the Israel Security Prize.

Meski sadar risiko bakal dihadapi, Efrat menegaskan dia begitu menikmati pekerjaannya. “Saya bahkan rela tidak dibayar.”

Yael termasuk agen legendaris. Dia sudah bertugas di pelbagai negara bertahun-tahun. Hampir semua tugas dia emban sendirian atau bersama tim berhasil diselesaikan dengan memuaskan. Saking berkomitmen terhadap profesinya, Yael menuntut segera ditugaskan lagi di luar Israel meski baru melahirkan.

Ella, 38 tahun, adalah ibu beranak tiga. Dia mengaku masih suka menangis kalau tiba-tiba mendapat tugas. “Saya meninggalkan semua kebahagiaan dan kehangatan rumah. Saya pergi untuk membahayakan nyawa dan kebebasan saya serta meninggalkan suami dan tiga anak saya yang masih kecil.”

Nirit adalah doktor di bidang ilmu kemanusiaan. Dia mengungkapkan keluarganya sempat tidak setuju ketika dia bergabung dengan Mossad. Dia tidak peduli kalau orang tidak tahu apa yang telah dia kerjakan buat Israel. “Jadi tidak perlu ada pengakuan dari orang lain,” dia menegaskan.

Perempuan-perempuan ini bekerja secara sembunyi-sembunyi dan merupakan agen senior Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Mereka cerdas, berani, kreatif, memiliki keahlian mumpuni soal senjata mutaknhir, bahasa asing, dan bermental baja.

Ancaman selalu membayangi nyawa mereka, keluarga mereka, dan bahkan kebebasan mereka. Mereka menghilang dari rumah dan muncul dengan pelbagai identitas. Kehidupan mereka bagai bunglon. Suatu hari bisa menjadi perempuan karir, lain waktu menyamar sebagai pedagang asongan. Mereka bekerja di luar, tanpa kantor. Mereka di jalanan sepanjang waktu, berganti identitas, dan sepanjang waktu pula beroperasi di negara musuh.

Fisik mereka harus tangguh lantaran tugas mereka sulit diprediksi. Seorang katsa perempuan bisa saja tidak tidur lima hari lima malam ketika mengintai sasaran. Perhatian sepenuhnya harsu ditujukan terhadap target, tidak boleh lolos dari pengawasan.

Menurut Ella, menjadi katsa Mossad merupakan tantangan secara fisik, intelektual, dan mental. “Yang ada dipikiranmu cuma berperang dengan musuh sepanjang waktu. Kamu berpikir soal bagaimana mengatasi hambatan dan melakukan hal-hal mustahil,” katanya.

Beberapa tahun belakangan katsa perempuan berhasil merangsek ke jajaran tinggi Mossad. Jabatan paling tinggi dipegang oleh perempuan adalah wakil direktur Mossad, dijabat oleh Shabtai Shavit pada 1989 hingga 1996.

Seorang pejabat senior Mossad mengakui lima katsa senior itu memiliki kemampaun tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. “Mereka belajar kemampuan mata-mata. Mereka lebih canggih, tangguh, dan ultra-sensitif terhadap lingkungan mereka.”

Ketenangan adalah salah satu kemampuan terpenting harus dimiliki seorang katsa. Ketika sesuatu tidak harapkan terjadi, mereka tidak boleh merasa malu atau terkejut. “Anda harus sangat pintar berbohong secara internal dan melaporkan kebenaran buat internal. Itu prinsip mutlak,” Shira menegaskan.

Globes/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s