Nista Mossad di Kota Amman

Netanyahu terpaksa meminta maaf kepada Yordania atas misi gagal membunuh pemimpin Hamas, Khalid Misyaal.

Sudah menjadi rahasia umum bertahun-tahun di Timur Tengah, Israel dan Yordania bekerja sama sangat erat menggarap proyek-proyek rahasia. Sebab itu, Raja Hussein tidak kaget saat menerima telepon dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, 25 September 2007.

Netanyahu meminta Raja Hussein segera menerima Direktur Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) Danni Yatom. Menurut para diplomat, Yatom biasa melawat ke Ibu Kota Amman, Yordania. Raja Hussein mengira pertemuan itu bakal membahas soal Hamas yang diyakini bertanggung jawab atas dua serangan bunuh diri di Kota Yerusalem, dua bulan lalu.

Yatom malah menyampaikan kabar sangat mengejutkan. Mossad telah melaksanakan misi membunuh tokoh politik Hamas, Khalid Misyaal. Raja Hussein amat gusar dan marah besar. Apalagi, berita itu pertama kali dia dengar dari orang lain. Dua agen menyamar sebagai pelancong asal kanada sudah ditahan dan Yatom datang buat meminta Raja membebaskan mereka.

Tiga jam kemudian, Raja Hussein menggelar rapat darurat membahas masalah itu. Para pejabat teras yang hadir terperanjat karena sang raja sudah mengetahui peristiwa itu. mereka berpikir untuk tidak memberi tahu dulu Raja Hussein karena situasi di lapangan masih membingungkan. Namun selentingan soal percobaan pembunuhan itu sudah menyebar luas.

Rupanya kejujuran Yatom menjadi senjata makan tuan. Hubungan kedua negara terjun ke titik terendah sejak Perang Teluk 1990-1991. Raja Hussein secara terbuka mengancam membatalkan semua perjanjian damai telah diteken sejak tiga tahun lalu.

Nista juga melumuri wajah Mossad. Bukan sekadar mereka terpaksa memberi tahu racun dipakai buat membunuh Misyaal, tapi kantor mereka di Amman juga ditutup. Kegagalan ini sekaligus menjadi sejarah paling kelam dari sekian operasi pembunuhan telah dilakoni Mossad. Raja Hussein juga mengusir dua dari tiga agen mereka yang bekerja dalam Kedutaan Besar Israel di Ibu KOta Amman.

Ketiga anggota Mossad itu bertugas permanen di tempatkan secara permanen atas izin Yordania. Tugas mereka menjalin kontak dengan badan intelijen dan keamanan negara itu buat mencegah Yordania menjadi tempat transit atau lokasi kegiatan terorisme.

Orang-orang dekat Raja Hussein mengungkapkan dia terkejut sekali dengan berita Yatom dan dia menolak permohonan membebaskan dua agen Mossad itu. “Dia merasa seperti telah ditusuk dari belakang,” kata seorang pejabat yang hadir dalam rapat darurat itu. “Dia sangat marah.”

Raja Hussein memang pantas marah. Dia merasa sudah berbuat lebih ketimbang pemimpin Arab lainnya. Meski hubungan diplomatik baru berjalan tiga tahun, Yordania lebih jauh melangkah ketimbang Mesir yang berdamai duluan dengan negara Zionis itu. Raja Hussein menilai upaya pembunuhan di tengah keramaian pagi di wilayahnya sama saja menghina kedudukannya sebagai kepala negara. Di kian kesal karena sekarang disuruh membebaskan dua agen Mossad yang berusaha meracuni Misyaal.

“Apa yang telah dilakukan Israel adalah menyentuh sisi paling sensitif dari perasaan Raja Hussein,” ujar ahli politik tersohor, Radwan Abdullah. “Itu sama saja menantang Raja.”

Ceritanya begini. Delapan agen Mossad pada pertengahan September menyusup ke Yordania. Menurut sejumlah diplomat, setidaknya dua dari mereka menggunakan paspor palsu Kanada.

Sekitar pukul 10 pagi, Kamis, 25 September, dua agen ditugaskan sebagai pelaksana sudah bersiaga di sekitar kediaman Misyaal, pinggiran Amman. Empat orang lagi mengawasi kantor Misyaal. Dua agen menggunakan Hyundai sewaan berwarna hijau lantas membuntutui Misyaal dari rumah menuju kantor.

Menurut cerita sopir pribadi Misyaal, ketika tiba di kantor, satu agen langsung menyergap bosnya itu beberapa saat setelah turun dari mobil. Dia langsung memasukkan sesuatu ke dalam kuping kiri Misyaal.

“Saya merasakan suara sangat keras dalam kuping saya,” kata Misyaal. “Seperti suara bom, seperti disetrum. Kemudian tubuh saya bergetar seperti disetrum.” Dua jam kemudian, Misyaal muntah-muntah lalu pingsan.

Racun buatan itu bernama Fentanyl dan banyak digunakan buat pembiusan. Dalam dosis kecil dan terkontrol, Fentanyl bisa mengurangi rasa sakit. Menurut para dokter di Eropa, efek dari Fentanyl 50-100 kali lebih kuat ketimbang morfin dan jika dosisnya kelewat besar akibatnya sungguh fatal. Racun ini menyebar sangat cepat mengikuti metabolisme dalam tubuh. Fentanyl bisa dimasukkan lewat mulut atau melalui suntikan.

Ismail al-Faridi, pemilik toko pakaian yang melihat kejadian itu, menceritakan bersama pengawal Misyaal, Muhammad Abu Saif (30 tahun) bergegas mengejar dua agen Mossad itu hingga ke Hyundai yang diparkir sekitar 180 meter dari kantor Misyaal. Dua agen itu berhasil kabur.

Abu Saif segera menghentikan taksi lewat dan buruannya itu. Sekitar 804 meter dari lokasi peristiwa, para agen Mossad itu keluar dari mobil dan berlari ke arah tempat keramaian. Dua gaen itu akhirnya berhasil diringkus. Empat lainnya bersembunyi di Kedutaan israel.

Banyak pihak meyakini Netanyahu memerintahkan membunuh Misyaal sebagai balasan atas bom bunuh diri di yerusalem yang menewaskan 16 orang Israel. Politikus dari Partai Likud ini menganggap Misyaal sebagai tokoh Hamas paling bertanggung jawab.

Padahal, kegiatan Misyaal dan pentolan Hamas lainnya di Amman sangat dibatasi. Seorang diplomat menggambarkan sebagai propaganda dan retorika tingkat rendah. Dia percaya Brigade Izzudin al-Qassam di Damaskus mendalangi serangkaian serangan bunuh diri di Negara Bintang Daud itu.

Insiden ini menandai empat hari krisis politik dua negara. Selama dua hari Raja Hussein berkukuh bila Misyaal mati atau Israel menolak memberi penawar racun, dia akan menutup Kedutaan Israel dan mengadili dua agen Mossad ditangkap di pengadilan militer.

Tel Aviv tidak bergeming. Setelah Raja Hussein menghubungi Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, baru Israel memberi penawar racun. Kesehatan Misyaal berangsur pulih dua hari kemudian.

Tapi ketegangan belum usai. Besoknya Raja Hussein menuntut Israel membebaskan pemimpin Hamas Syekh Ahmad Yassin dan 60 atau 70 tahanan Hamas lainnya. “Netanyahu tentu menolak permintaan itu,” kata seorang pejabat Yordania.

Perundingan mulai membuahkan hasil Ahad malam. Israel melepaskan Syekh Yassin yang baru menjalani delapan tahun dari hukuman seumur hidupnya. Di mendarat di Amman pada 1 Oktober dan kembali ke Gaza sebagai pahlawan. Sejumlah tokoh Hamas juga ikut menghirup udara segar. Sebagai balasan, Amman membolehkan delapan agen Mossad yang ikut dalam misi membunuh Misyaal pulang ke negara mereka.

Atas desakan Yordania dan Amerika pula, Netanyahu terpaksa terbang dan tiba di Amman Ahad dini hari. Dia meminta maaf sekaligus berjanji kejadian serupa tidak bakal terulang. Saking kesalnya, Raja Hussein menolak bertemu Netanyahu. Dia mengirim Putra Mahkota Pangeran Hassan sebagai wakilnya. “Ini salah satu hal paling aneh pernah terjadi terhadap saya,” kata Pangeran Hassan mengomentari permohonan maaf sekaligus penyesalan Netanyahu itu.

New York Times/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s