Cinta Gadis Yahudi Saleha

Orang tua sang gadis menolak Moshe karena ia belajar di sekolah umum dan tidak mengenakan yarmulke.

Satu malam yang dingin dan berangin pada Desember 2004. Empat gadis remaja memasuki Jerusalem Pizza di kawasan Monsey, New York, Amerika Serikat. Ini restoran cepat saji dengan menu halal (kosher dalam bahasa Ibrani) buat warga Yahudi.

Mereka segera melepaskan mantel dan menuju meja kosong. Tiga orang berseragam Bais Yaakov, sekolah perempuan Yahudi orthodoks di Monsey: sepatu dan kaus kaki panjang berwarna hitam, rok berlipat hampir menyentuh mata kaki, dan kemeja garis-garis vertikal warna biru.

Moshe Schulman, pelayan di restoran itu, masih ingat gadis satunya lagi tampil beda. Dengan rambut pirang dikepang kuda, sepatu karet, kaus kaki pendek berwarna putih, dan rok mini berbahan denim. Atasannya berupa kaus oblong warna biru terang bertulisan FBI.

Moshe terpana menyaksikan penampilan gadis berambut blonde itu. Maklum saja, ia dibesarkan di lingkungan keluarga Yahudi ultra-orthodoks di daerah Monsey. Sejak dini, ia diajarkan untuk tidak memandang, menyentuh, apalagi berbicara dengan gadis. Para rabbi yang mengajarkan dia di sekolah menegaskan semua itu baru boleh dikerjakan setelah ia menikah. Persis seperti ajaran Islam, lelaki dilarang memandangi, menyentuh, atau berbicara dengan perempuan bukan muhrimnya.

Pandangannya berubah setelah orang tuanya bercerai saat ia berusia 16 tahun. Moshe keluar dari yeshiva (sekolah seminari Yahudi) Meshivta of North Jersey dan pindah ke sekolah umum di SMA East Ramapo. Ia kelihatan canggung. Ini pertama kali dalam hidupnya tidak ada rabbi mengatur apa mesti ia makan atau pakai, dan siapa bisa diajak bicara.

Sambil mencuri pandang, Moshe memperhatikan gadis berkaus FBI itu melahap pizza. Ia mencoba menerka-nerka kenapa si cantik itu berbeda dengan ketiga temannya. Ia berharap pujaannya itu berpandangan sekuler, seperti cara berpakaiannya. “Matanya bagai kristal berwarna biru dan senyumnya sangat manis. Mungkin ini namanya jatuh cinta,” ujar Moshe mengenang.

Besok malamnya, ketika sedang beres-beres di restoran, terdengar bunyi telepon. Seorang gadis memberi tahu perempuan berkaus FBI itu mengaku suka kepada dirinya. Senang bercampur terkejut, Moshe lantas berbicara dengan cinta pada pandangan pertamanya itu. Mereka lalu bertukar nomor telepon. Moshe berjanji menelepon setelah tiba di rumah. Saking senangnya, ia mengepalkan tinju ke udara sambil berteriak “Ya!”.

Tiba di rumah, Moshe langsung menghubungi pujannya itu. Sang gadis mengungkapkan FBI itu singkatan dari hebat, cantik, dan pintar (Fabulous, Beautiful, and Intelligent). Bukan nama biro penyelidik federal Amerika. Ia mengaku benci seragam sekolahnya, orang tua, dan lingkungan Yahudi ortodoks. Dua sejoli dimabuk asmara ini saling memuji ketampanan dan kecantikan masing-masing.

Karena sudah larut malam, obrolan dihentikan. Moshe sebenarnya ingin berbincang terus sampai pagi. Selepas itu, ia tidak bisa tidur. Wajah dan senyum manis sang gadis menari-nari dalam khayalannya.

Sepekan kemudian, gadis itu menghubungi Moshe. Ia mengadu ibunya sudah dapat bocoran dari tetangganya kalau putrinya itu sering ngobrol dengan Moshe saban malam di telepon, kecuali Sabtu. Maklum, itu hari suci bagi orang Yahudi. Mereka dilarang berkegiatan apa pun. Tidak boleh bekerja, menyalakan api, atau memasak. Ia juga bilang ibunya mengancam akan merampas telepon selulernya kalau masih menghubungi Moshe. Keduanya lantas membuat rencana bertemu pada Sabtu sore di Bais Rochel, yeshiva khusus perempuan.

Di hari yang disepakati, sang gadis sudah menunggu, duduk di atas batu di depan yeshiva. Ia mengenakan mantel dan baju terusan berwarna hitam. Hidung dan kedua pipinya merona kemerahan. Moshe lantas mengajak dia duduk di lapangan rumput di belakang sekolah. Nafasnya memburu, ia ingin sekali mencium gadis itu, seperti teman-teman sekolahnya dan adegan film.

Hari menjelang malam. Gadis itu buru-buru bangkit. Moshe mengungkapkan dirinya takut itu pertemuan terakhir mereka. Keduanya lantas berpelukan. Harum rambut sang gadis kembali menggoda Moshe. Ia berterus terang ingin mencium pujaannya itu. Permintaan itu dikabulkan dengan syarat hanya pipi, bukan ciuman bibir. “Seperti pemuda baik,” ujar gadis itu. Setelah mendaratkan ciumannya di pipi sang kekasih, mereka lantas berjalan bergandengan tangan meninggalkan lokasi.

Setelah tiba di tempatnya bekerja pada Sabtu malam, Moshe kedatangan tamu, pasangan suami istri. Mereka duduk di meja yang pernah diduduki gadis berkaus FBI bersama ketiga temannya. Ibu itu mendekati Moshe dan mengatakan mereka ingin berbicara persoalan pribadi. Ternyata mereka adalah orang tua kekasihnya.

Moshe pun duduk berhadapan dengan keduanya. Ayah sang gadis hanya memainkan janggut tebal dan panjangnya. Obrolan dimulai oleh istrinya. Ia mengaku tidak suka Moshe berhubungan dengan putrinya lantaran ia bukan pemuda saleh: belajar di sekolah umum dan tidak memakai yarmulke (peci khas Yahudi). “Saya benar-benar tidak suka,” ia menegaskan.

Si ibu meminta Mloshe menghubungi putrinya. Ia diperintahkan memutus hubungan. “Saya tidak bisa melakukan itu,” kata Moshe.

Ayah sang gadis akhirnya nimbrung. “Putri saya gadis saleha, sedangkan kamu bukan. Hubungan ini tidak boleh berlanjut.”

Dengan menahan kemarahan, Moshe meninggalkan calon mertuanya itu.

besok paginya, gadis itu menghubungi Moshe lewat telepon rumah sebab orang tua sudah mengambil telepon selulernya. Ia minta maaf atas kejadian semalam. Belum habis pembicaraan, ayah sang gadis berteriak agar putrinya itu menutup telepon. “Tinggalkan saya,” teriak gadis itu.

“Tutup telepon itu,”  ayahnya membalas dengan suara lantang. Tak lama kemudian, telepon dibanting.

Moshe berupaya melupakan gadis itu, namun sangat sulit. Setelah dua pekan, ia sadar tidak akan bisa memiliki pujaannya itu kalau ia tidak mau menjadi Yahudi ortodoks. Ia pun belajar melupakan gadis berkaus FBI itu dan mulai berbicara dengan gadis-gadis di sekolahnya.

Tablet Magazine/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s