Mesir Lebih Berbahaya ketimbang Iran

Oleh: Faisal Assegaf

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu boleh jadi sudah mulai serius memperhatikan perkembangan politik di negara tetangga mereka, Mesir. Sebab, apa yang terjadi di sana setelah Presiden Husni Mubarak terguling Februari tahun lalu sungguh di luar dugaan.

Situasi keamanan di Negeri Sungai Nil itu tidak terkontrol. Sedikit-sedikit muncul kericuhan. Bentrokan kecil saja, seperti antar pendukung tim sepak bola, bisa meluas menjadi kerusuhan. Sentimen antinegara Zionis di masyarakat kian meningkat. Apalagi, setelah kelompok Ikhwanul Muslimin dan Salafi menang pada pemilihan parlemen Desember tahun lalu dan Januari tahun ini.

Pemimpin berhaluan keras dari Partai Likud ini tentunya masih ingat unjuk rasa ratusan warga Mesir di depan Kedutaan Besar Israel di Ibu Kota Kairo September tahun lalu. Insiden itu terjadi sebelum kelompok Islam berkuasa di parlemen. Kejadian itu merupakan buntut atas terbunuhnya lima polisi perbatasan mesir dalam baku tembak dengan  tentara Israel di perbatasan Sinai.

Demonstran berhasil merangsek masuk. Mereka membakar kantor kedutaan sekaligus dokumen-dokumen penting. Bendera bintang Daud diturunkan dan ludes dibakar api. Duta Besar Israel buat Mesir Yaakov Amitai bersama diplomat dan keluarga mereka terpaksa ditarik pulang.

Kebencian terhadap negara Yahudi itu kian terang benderang setelah Partai Kebebasan dan Keadilan dari Ikhwanul Muslimin dan Partai An-Nur dari kelompok Salafi mendominasi lembaga perwakilan rakyat mesir. Baru bersidang, majelis rendah dengan suara mutlak merekomendasikan pemerintahan mendatang harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel.

Sejumlah calon presiden pun kian memanaskan permusuhan dengan negara Bintang Daud itu buat menarik dukungan pemilih. Salah satu calon kuat yang pernah menjabat menteri luar negeri semasa rezim Mubarak, Amr Mussa, menegaskan Perjanjian Camp David sudah mati dan terkubur. Kandidat lain yang pernah menjadi pengurus Ikwanul Muslimin, Ahmad Abu al-Futuh, juga tidak kalah garang. Ia menyatakan kesepakatan damai dengan Israel merupakan ancaman bagi keamanan nasional.

Netanyahu harus sadar Mesir selepas revolusi berbeda dengan ketika Mubarak berkuasa selama tiga dekade. Ketika itu, Tel Aviv seolah mengontrol kebijakan Timur Tengah Kairo, terutama menyangkut proses perdamaian Palestina dan Israel. Bahkan, Mubarak segan membuka gerbang Rafah yang berbatasan dengan Jalur Gaza saat wilayah itu dilanda krisis kemanusiaan akibat blokade Israel sejak Juni 2007.

Tentu saja keberpihakan Mubarak terhadap Israel tidak gratis. Mesir menjadi negara terbesar kedua setelah Israel yang memperoleh bantuan militer Amerika. Washington dan Tel Aviv juga lebih menunjuk Kairo sebagai mediator perdamaian ketimbang Arab Saudi yang juga berpengaruh di kawasan itu. Apalagi, Yordania yang juga memibina hubungan diplomatik dengan Israel, tidak masuk hitungan.

Dengan semua perkembangan itu, Netanyahu sudah sepantasnya mengalihkan perhatian dari Iran ke Mesir. Negeri Mullah itu bukanlah ancaman nyata. Walau kecurigaan Teheran mengembangkan senjata nuklir terbukti, tentu bukan perkara mudah bagi kedua negara berperang secara terbuka.

Patut diingat pula, ketika masih ada sejumlah negara memiliki bom nuklir, senjata pemusnah massal itu malah menjadi jaminan dunia bisa damai. Sebab, dengan daya hancur ribuan kali ketimbang bom atom yang dijatuhkan Amerika di dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, sangat mungkin Israel berpikir keras bila ingin menyerang Iran. Negara-negara kekuatan nuklir itu adalah Amerika, Rusia, Inggris, Prancis, Cina, Pakistan, India, Korea Utara, dan Israel.

Kalau perang meletus dan kedua pihak sama-sama memakai senjata pemusnah massal itu, kerugian bukan hanya dialami Israel dan Iran. Kehancuran bakal melanda seluruh kawasan dan bahkan mungkin menyebar ke seantero jagat. Pastinya, tidak ada satu pun negara ingin peradaban manusia hancur sebelum kiamat terjadi.

Tel Aviv seharusnya menyadari Iran tidak secara langsung mengancam kelangsungan mereka. Namun, ancaman sejati datang dari kelompok-kelompok anti-Israel yang terus disokong Teheran. Masyarakat internasional selama ini meyakini milisi Syiah terkuat di Libanon Selatan, Hizbullah, dan Hamas di Jalur Gaza, merupakan sayap militer Iran buat memerangi negara Bintang Daud itu.

Apalagi, Mesir di bawah kontrol kelompok Islam mulai merapat ke arah Iran. Setidaknya itu terlihat saat  Ikhwanul Muslimin berlapang dada menyambut kunjungan Perdana Menteri dari Hamas, Ismail Haniyah. Kairo juga dengan tangan terbuka menerima Wakil Ketua Biro Politik Hamas Musa Abu Marzuq  bersama keluarganya menetap di sana.

Pimpinan Hamas telah keluar dari lokasi persembunyian mereka di Ibu Kota Damaskus, Suriah, setelah negara itu dilanda konflik bersenjata. Kalau Abu Marzuq memilih Mesir, Ketua Biro Politik Khalid Misya’al kembali ke Amman, Yodania. Sejumlah tokoh Hamas lainnya ada yang pulang ke Gaza.

Artinya, Mesir mulai merangkul salah satu musuh utama negara Yahudi itu. Hamas terakhir berperang dengan Israel tiga tahun lalu. Organisasi yang dicap teroris oleh Amerika dan Israel ini memang tidak mau mengakui Israel dan bersumpah menghancurkan rezim Zionis itu.

Kenyataan itu bakal makin meperkuat posisi Hamas yang sejak awal disokong Iran dan Suriah. Mesir dibawah rezim Islamis bakal dengan senang hati membuka perbatasan Rafah. Sehingga pelbagai kebutuhan sekitar 1,5 juta warga di daerah itu bisa terpenuhi, termasuk keperluan militer Hamas, yang selama ini terganjal blokade Israel akan mudah meluncur ke Gaza.

Para pemimpin Israel juga tidak boleh lupa, Perjanjian Camp David yang ditandatangani Perdana Menteri Israel Golda Meir dan Presiden Mesir Anwar Sadat tidak sepenuhnya diterima rakyat Mesir. Dua tahun setelah kesepakatn damai itu, Sadat tewas ditembak dalam sebuah parade militer. Apalagi, bangsa Mesir masih punya dendam terhadap Israel  karena kalah dalam Perang Enam Hari (Juni 1967) dan Perang Yom Kippur (1973).

Alhasil, bukan Iran yang menjadi ancaman terbesar bagi Israel saat ini, seperti pernah dinyatakan oleh Netanyahu. Dengan memperhatikan dinamika politik Mesir dan sejarah perang di antara kedua pihak, Netanyahu wajib siaga atas setiap perkembangan di negara tetangganya itu.

Kalau Amr Mussa atau Ahmad Abu al-Futuh menang pada pemilihan presiden dan memenuhi janji kampanye mereka, Mesir kembali menjadi musuh Israel. Jangan-jangan bakal ada perang baru di antara kedua negara.

Dimuat di Jurnal Nasional, 21 Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s