Berharap Garuda dan Bintang Daud Berpelukan

Normalisasi hubungan dagang Indonesia dan Israel dilakukan sejak Gus Dur berkuasa pada 2001.

Duta Besar Israel buat Singapura Amira Arnon ramah sekali menyambut para tamunya dari Indonesia. Tidak ada kesan kikuk. Semua berjalan biasa saja meski kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik.

Tapi menurut Arnon, keinginan membuka hubungan resmi dengan Indonesia selalu ada di hati para pemimpin Israel. Sebab, Indonesia dipandang sangat penting bagi negara Zionis itu lantaran jumlah penduduk dan kekayaan alam melimpah. “Saya sangat berharap besok atau sesegera mungkin,” katanya kepada Hamaslovers, Kamis malam pekan lalu.

Harapan serupa juga dilontarkan Rabbi Abergeil. Ia mengatakan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel bsa saja terwujud. “Karena masyarakat Indonesia tidak mengenal buadaya anti-Semit,” ujarnya. Apalagi, ia menambahkan, umat Islam di Indonesia kebanyakan moderat.

Belum ada hubungan diplomatik, bukan berarti warga Israel tidak bisa melawat ke Indonesia. Mereka bisa masuk dengan menggunakan paspor lain. Kebanyakan warga Israel memiliki dua paspor. Bahkan, Arnon yang merupakan pejabat pemerintah Israel  kerap datang ke Jakarta.

Seperti Arnon, Rabbi Abergeil juga kerap berkunjung ke Indonesia. Ia tidak ingat sudah berapa kali saking seringnya. Ia mengaku datang menemui temannya, beberapa keluarga Yahudi di Jakarta dan Surabaya. Bahkan, ia mengatakan pernah bertemu seorang ulama di Jawa Timur.

Sejatinya, hubungan bisnis antara pengusaha Indonesia dan Israel mulai terbina ketika Presiden Abdurrahman Wahid berkuasa pada 2001. Almarhum yang akrap disapa Gus Dur ini memang dikenal dekat dengan negara Yahudi itu. Ia termasuk salah satu penasihat di Yayasan Perdamaian Shimon Peres.

Menurut seorang pengusaha yang menjadi agen bisnis Israel di Indonesia, di zaman Gus Dur inilah normalisasi hubungan dagang dengan Israel terjadi. Melalui surat keputusan Menteri Perdagangan Luhut Panjaitan, transaksi bisnis berlangsung. “Pada 2006, KADIN menandatangani nota kesepahaman dengan IEI (Institut Ekspor Israel) saat mereka berkunjung ke sana,” katanya.

Seorang warga Singapura yang mengaku menjadi salah satu perunding dalam pembukaan hubungan dagang Indonesia dengan Israel membenarkan soal itu. Karena itulah, ia yakin hubungan diplomatik dengan negara Yahudi itu bisa terbentuk di masa depan. “Jangan beharap selama masih ada orang seperti Netanyahu (Perdana Menteri Benjamn Netanyahu) dan Lieberman (Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman). Mungkin di masa generasi muda seperti Anda.”

Netanyahu (pemimpin Partai Likud) dan Lieberman (ketua Partai Yisrael Beitenu) memang dikenal berhaluan keras. Intifadah kedua meletup setelah Netanyahu mengunjungi Al-Aqsha. Lieberman menegaskan tidak akan pernah mau menyerahkan Yerusalem Timur buat ibu kota Palestina.

Harapan itu setidaknya memunculkan dua persaingan. Kita tunggu saja mana duluan: hubungan diplomatik Indonesia –Israel terbentuk atau berdirinya negara Palestina merdeka.

Faisal Assegaf (Singapura)

2 thoughts on “Berharap Garuda dan Bintang Daud Berpelukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s