Aroma Indonesia di Lingkungan Zionis

“Saya sudah empat tahun menghadiri perayaan kemerdekaan Israel di Singapura,” kata bekas sekretaris jenderal Himpunan Mahasiswa Islam.

Satu-satu undangan memasuki ruang konser di gedung School of the Arts di jantung Kota Singapura, Kamis malam pekan lalu. Tampang mereka macam-macam, Eropa, Yahudi, Cina, dan ini yang mengejutkan rupa Melayu.

Tapi bisa kita bisa saja salah sangka. Maklum, tidak sedikit warga Singapura keturunan Melayu. Hingga akhirnya lisan berbicara yang membuat Hamaslovers yakin mereka asal Indonesia. Setidaknya, ada sepuluh orang Indonesia yang hadir dalam peringatan ulang tahun ke-64 kemerdekaan Israel.

Lumrah saja, kita terperanjat ada warga Indonesia menghadiri peringatan hari lahir negara Zionis itu. Selama ini, sebagian besar rakyat Indonesia yang muslim mengutuk penjajahan Israel atas bangsa Palestina. Mayoritas rakyat bersama pemerintah teguh berprinsip tidak akan mengakui negara Israel hingga Palestina merdeka.

Hebohnya lagi, tamu dari Indonesia itu semua muslim. Mereka adalah politikus tersohor bersama istri berjilbab, dua perwakilan dari KADIN (Kamar Dagang dan Industri), pengusaha, dan pentolan dan bekas petinggi organisasi pemuda Islam. Selain bahasa Indonesia yang mereka gunakan, mereka kelihatan berbeda ketimbang tamu lain lantaran berpakaian batik. Ada bercorak kota-kotak warna merah dan batik coklat. Tiga di antaranya mengenakan setelan jas.

Rombongan asal Indonesia itu memilih duduk berpencar di empat barisan terakhir. “Dia kan sering datang ke Indonesia,” kata seorang petinggi KADIN merujuk pada Duta Besar Israel buat Singapura Amira Arnon. Dia mengungkapkan KADIN selalu mendapat undangan serupa saban tahun. Hamaslovers tahun lalu sempat mengendus kehadirannya bersama sejumlah pengusaha Israel di Jakarta. Salah satu agendanya, menemui petinggi KADIN.

Lantas muncul rombongan lain, yakni mantan politikus Golkar bersama istri dan sejumlah tokoh pemuda. “Saya sudah empat tahun menghadiri perayaan kemerdekaan Israel di Singapura,” kata salah satu dari mereka yang mengaku bekas sekretaris jenderal Himpunan Mahasiswa Islam ini. Bahkan, ia mengatakan bakal ada rombongan pemuda dari Indonesia yang akan berkunjung ke Israel bulan depan.

Sedangkan politikus yang juga pernah menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat itu mengaku sudah melawat ke Israel tiga tahun lalu. “Saya mengunjungi Hebron, Jericho, dan Yerusalem,” ujar pria berkaca mata ini. Dia juga sempat bertemu sejumlah anggota Knesset (parlemen Israel).

Istrinya tak kalah bangga bercerita soal kunjungan mereka ke negara Zionis itu. Menurut perempuan berjilbab ini, situasi Israel tidak seperti yang ia ketahui sebelumnya. “Di Knesset saja ada masjid karena ada anggota mereka keturunan Arab muslim,” katanya.

Semua orang Indonesia itu tidak kikuk berada di resepsi itu. Bahkan, mereka berbincang akrab dengan tuan rumah, yakni Duta Besar Israel buat Singapura Amira Arnon. Amira tampak senang menyambut tetamunya dari Indonesia itu. Bahkan, ia menyebut mereka kawan Israel.

Aroma undangan asal Indonesia itu boleh saja tercium wangi di hidung Arnon. Tapi bagi sebagian umat muslim, mungkin menyakitkan.

Faisal Assegaf (Singapura)

4 thoughts on “Aroma Indonesia di Lingkungan Zionis

  1. Tidak menghadiri undangan acara yang diadakan oleh Israel adalah kritik terhadap kebijakan luar negeri Israel terutama terhadap Palestina. Cara seperti itu bisa membawa Israel pada konsekuensi moral atas kebijakan mereka di Palestina. Dan saya rasa itu cukup efektif.
    tetapi menekan dan mengekspos mereka yang memilih untuk datang saya rasa kurang tepat. Setiap orang punya hak untuk menghadiri undangan dari siapapun.
    Saya secara pribadi aktif menulis mengenai kritik terhadap kebijakan Israel terutama terhadap masyarakat Arab. tetapi memaksa semua orang untuk pro-Palestina hanya akan menodai perjuangan itu sendiri, karena pemaksaan adalah prilaku otoritarian.
    tahun lalu saya hadir di seminar Asia-Pacific for Palestine, Gorge Galloway hadir, bersama Viva Palestine Malaysia saya sempat berbicara sangat singkat dengan beliau. kekhawatiran beliau adalah perjuangan Palestina dibahayakan oleh isu Yahudi vs Arab Islam, padahal ada masalah yang jauh lebih mendasar yaitu masalah kemanusiaan dan hak hidup manusia Palestina.

    Sukran.
    Viva Palestine.

  2. Satu kebodohan teramat panjang jika hubungan Indonesia-Israel dikaitkan ke agama Islam. Dendam Islam yang tidak jelas tersebut jangan menjadikan para muslim untuk hanyut didalam dendam yang bukan dilakukan oleh Bangsa Indonesia yang jelas jelas bukan bangsa Arab. ISlam adalah sebuah agama bukan sebuah suku atau bangsa sehingga tidak ada alasan kuat bahwa Indonesia menolak hubungan diplomatik dengan ISrael. Dendam nabi Muhammad yang notabene adalah bangsa Arab dari suku Quraisy tersebut janganlah menjadi dendam bangsa Indonesia yang adalah bebangsa Melayu-Jawa-Padang-Dayak-Batak-Ambon-Papua yang jelas sekali bukanlah bangsa Arab.
    Lalu dendam bangsa Arab tidak harus kita ikuti karena kita bukan bangsa Arab. Ingat kita bukanlah bangsa Arab tetapi bangsa Indonesia. Pisahkan antara kepentingan agama dengan kepentingan kemanusiaan dan politik. Palestina bukan milik ISlam semata dan tidak semua orang Palestina itu ISlam. Orang Arab Palestina juga banyak yang Kristen sehingga Kemerdekaan Palestina bukanlah perjuangan ISlam semata tetapi perjuangagn kita semua baik ISlam-Kristen-Hindu-Budha-Yahudi dan agama agama lainnya. Jadi Palestina bukanla milik Islam sendiri. Jangan dibodohkan oleh agama dan rasa benci yang ditimbulkan dari agama tanpa sebab. Sebab tidak ada sejarah anda bertikat dengan bangsa Israel. Itu hanyalah dendam Muhammad kepada Yahudi yang tidak dapat dia Islamkan (dimualafkan). Jadi dendam pribadi Muhammad hendaklah tidak menjadi dendamnya umatnya. Lucu seorang nabi kok mewariskan rasa dendam kepada kelompok tertentu sementara kita diluar Arab dan Yahudi adalah suku suku yang bukan Arab maupun Yahudi.
    Saya secara pribadi mendukung kemerdekaan Palestina 100% tanpa ada embel embel agama dibaliknya. Saya ingin Palestina menjadi merdeka sebab mereka juga adalah bangsa yang tercatat sebagai bangsa yang telah lebih dulu tinggal di tanah Palestina. Jadi jangan mengklaim sendiri bahwa perjuangan Palestina adalah perjuangan para muslim Indoensia.
    Yang membuat buruk sangka adalah media media yang ekstrim dimana politik dicampur dengan agama. Kebencian agama adalah juga kebencian politik. Sangatlah berbahaya jika menyatukan agama dengan politik akibatnya tidak ada bedanya kejahatan politik dengan kejahatan agama. Wahai para muslim berubahlah cara pandang anda terhadap agama ISlam dengan Politik ISlam. Politik Islam tidak harus berlandaskan agama Islam. Biarkanlah agama ISlam hadir dengan kecusiannya dan tidak terkena noda noda darah politisasi. Kasihan agama Damai itu menjadi berubah fungsi menjadi agama yang tidak damai oleh karena kepentingan plitik melalui agama yang dipolitikan.

  3. sy mencintai palesitina.. karna mereka muslim.. karena ada al aqsho disana… klo bukan karena islam.. palestina bukan apa2..

    klo bukan sebagian besar penduduk indonesia beragama islam… sy ga yakin negara mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan indonesia…

    Islam integral.. ngga hanya bicara tentang sholat n puasa..
    kami muslim adalah satu… jika ada muslim yang dizolimi dibagian bumi manapun.. kami merasakan sakit nya..

    bagi sy aneh jika ada yang bilang “Biarkanlah agama ISlam hadir dengan kecusiannya dan tidak terkena noda noda darah politisasi. Kasihan agama Damai itu menjadi berubah fungsi menjadi agama yang tidak damai oleh karena kepentingan plitik melalui agama yang dipolitikan.” karena sekarang ini posisi islam tengah dicabik2 oleh keserakahan politik… justru sekarang islam tengah berdarah2 dalam memperjuangkan hak2..nya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s