Rekonsiliasi Separuh Hati

Oleh: Faisal Assegaf

Setelah perundingan berbulan-bulan, Hamas dan Fatah akhirnya awal bulan ini mencapai kesepakatan damai di Ibu Kota Doha, Qatar. Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misya’al dan pemimpin Fatah sekaligus Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas setuju membentuk pemerintahan bersama.

Rekonsiliasi kedua faksi terbesar di Palestina ini memang sangat penting. Apalagi, Abbas yang biasa disapa Abu Mazin, telah mengumumkan pemilihan umum bakal digelar 4 Mei mendatang. Tentu saja, pemerintahan persatuan itu bertugas mempersiapkan pesta demokrasi kedua dalam enam tahun terakhir.

Namun perjanjian antara Hamas dan Fatah ini begitu rapuh. Sebab, ini sesuatu yang dipaksakan dan menjadi dilema bagi kedua kelompok. Patut diingat, jabat tangan antara dua musuh bebuyutan ini berlangsung di tengah gelombang revolusi yang sedang menyapu negara-negara Arab. Dua pemimpin ini mungkin menyadari perseteruan mereka dan diperparah oleh kondisi ekonomi amat sulit bisa memicu unjuk rasa besar-besaran rakyat Palestina.

Abbas mafhum ia tidak bisa lagi memaksakan kehendak untuk berdamai dengan Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak menghentikan proyek permukiman Yahudi di Tepi Barat. Padahal, ini menjadi syarat Abbas untuk mau kembali berunding. Netanyahu hanya mau berdialog tanpa syarat.

Rakyat Palestina boleh jadi sangat frustasi. Mereka saban hari dibekap ketakutan akibat penjajahan Israel. Berdamai dengan negara Zionis itu rasanya seperti mimpi. Jadi segala perkembangan politik yang kian menambah penderitaan bisa memicu protes massal berujung kekerasan.

Rekonsiliasi ini sejatinya cuma akal-akalan Abbas untuk menaikkan popularitas Fatah yang jatuh setelah terjadi pertukaran 1.050 tahanan Palestina dengan Gilad Shalit, serdadu Israel yang ditawan Hamas lebih dari lima tahun. Padahal sebelumnya, sebagian besar rakyat Palestina mengelu-elukan Abbas dan partainya karena berani mengajukan permintaan pengakuan kedaulatan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Upaya itu gagal. Inilah anehnya. Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara lebih berkuasa ketimbang Majelis Umum yang terdiri dari seluruh anggota PBB. Amerika Serikat  – satu dari lima anggota tetap Dewan Keamanan yang memiliki veto – menolak memberi status keanggotaan penuh bagi Palestina di PBB. Padahal, para pejabat Otoritas Palestina mengklaim telah mendapat dukungan lebih dari seratus anggota PBB.

Selama ini, Palestina hanya sebagai peninjau dan tidak memiliki hak suara. Usaha semacam itu bakal terus pupus lantaran Amerika merupakan sekutu istimewa Israel. Gedung Putih menegaskan negara Palestina hanya bisa terbentuk lewat perundingan dengan Israel.

Meski begitu, harga yang dibayar Abbas untuk berdamai dengan Hamas sungguh mahal. Fatah ditinggal para penyokong dananya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pembekuan pendapatan pajak US$ 100 juta per bulan yang menjadi hak Otoritas Palestina. Washington pun menunda pengucuran bantuan bagi rezim Abbas.

Jalan serupa yang ditempuh Misya’al juga dilematis. Berdamai dengan Fatah sama saja makin memperuncing perseteruan dengan pimpinan Hamas di Jalur Gaza, Haniyah dan Zahar menentang rekonsiliasi itu. Apalagi, Misya’al sepakat Abbas bakal memimpin pemerintahan sementara itu. Kalau mau bercermin pada hasil pemilihan parlemen Januari 2006, Haniyah yang mesti bertahan di posisi itu. Apalagi, masa jabatan Abbas sebenarnya sudah habis sejak Januari 2009.

Beberapa laporan menyebutkan perpecahan antara pimpinan Hamas di Gaza dan Damaskus sudah berlangsung lama ketika Misya’al secara terang-terangan menolak kepemimpinan Syekh Ahmad Yassin. Misya’al dianggap lebih moderat dalam menghadapi Israel. Bagi pimpinan Hamas di Gaza, menerima Abu Mazin sebagai kepala pemerintahan sama saja mengaku kalah terhadap Fatah.

Friksi juga terlihat saat Misya’al memutuskan berakhirnya gencatan senjata dengan Israel menjelang agresi militer negara Zionis itu, Desember 2008. Mahmud Zahar dan Ahmad al-Ja’bari memperingatkan keputusan itu sebuah langkah terburu-buru sebab persiapan untuk berperang menghadapi Israel belum selesai. Namun Damaskus tidak mempedulikan hal itu.

Pertentangan juga muncul dalam perundingan soal pertukaran tahanan Palestina dengan Gilad Shalit. Serdadu Israel ini telah ditawan sejak Juni 2006. Pada Maret 2010, dilaporkan Zahar dipaksa keluar dari sebuah  karena sepakat terhadap pengurangan jumlah tahanan yang harus dibebaskan Israel. Sedangkan Al-Ja’bari menuntut Israel menerima daftar yang dibuat oleh Hamas.

Misya’al juga menempuh jalan berbeda dengan Haniyah dalam menyikapi revolusi yang tengah berlangsung di Suruiah. Ia mengecam kebrutalan Presiden Basyar al-Assad dan memilih meninggalkan kantornya di Ibu Kota Damaskus. Ia menentang perintah Iran yang merupakan penyokong utama Hamas, untuk bertahan.

Sedangkan Haniyah sebaliknya. Ia makin dekat dengan Teheran. Dalam lawatannya ke Negeri Mullah itu baru-baru ini, ia menegaskan perlawanan bersenjata satu-satunya cara untuk menghadapi penjajah Israel. Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei bersumpah akan terus mendukung Hamas hingga Israel angkat kaki dari seluruh wilayah Palestina. Republik Islam Iran memang tidak mau mengakui negara Israel.

Rekonsiliasi kian tidak bergigi lantaran negara-negara besar, terutama Amerika dan Israel, mengancam tidak akan mengakui pemerintahan bersama lantaran Hamas tergabung di dalamnya, Washington bersama Tel Aviv dan Uni Eropa, telah menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris. Sikap Barat inilah yang mengakibatkan pemerintahan bersama Hamas dan Fatah bubar pada pertengahan Juni 2007.

Dengan segala dilema yang dihadapi kedua pihak, perdamaian antara Hamas dan Fatah hanya bersifat semu. Jadi jangan bermimpi dua faksi bertikai ini bisa benar-benar bersatu lantaran berbeda ideologi. Maklum, ini rekonsiliasi setengah hati.

Dimuat di Jurnal Nasional, 24 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s