Satu Atap Dua Tuhan

Tidak kuat bayar sewa, jemaat Yahudi numpang sembahyang di masjid.

Pemandangan pada sebuah Sabtu di bulan lalu ini pastinya tidak lazim dilihat. Sekelompok lelaki Yahudi ultra-orthodox (berjubah panjang dan topi serba hitam dengan brewok lebat, serta janggut panjang) memasuki dari sebuah masjid di kawasan Bronx, New York,  Amerika Serikat.

Mereka adalah anggota the Chabad of East Bronx dan ingin bersembahyang di Masjid Al-Iman. “Orang memiliki pandangan yang salah bahwa muslim membenci Yahudi,” kata Yaakov Wayne Baumann, 42 tahun. “Tapi inilah contoh mereka mau bekerja sama dengan kami.”

Dulunya, terdapat sekitar 630 ribu orang Yahudi di Bronx. Tapi sejak 2002, jumlahnya menurun menjadi 45.100, menurut hasil penelitian Dewan Hubungan Masyarakat Yahudi (JCRC). Sebaliknya warga muslim makin banyak. Di Parkchester saja saat ini terdapat lima masjid, termasuk Masjid Al-Iman.

Tempat ibadah ini berlokasi dekat pojok simpang jalan antara Wetchester Avenue dan Pugsley Street. Bangunan bercat hijau daun ini kelihatan kusam dan dipenuhi coretan.

“Di mana-mana tidak ada orang Yahudi dan muslim beribadah dalam satu bangunan,” ujar Patricia Tomasulo, pemimpin the Catholic Democratic. Dialah yang mempertemukan pemimpin komunitas Yahudi itu dengan pihak Al-Iman. “Ini benar-benar unik.”

Hubungan antara jemaat Yahudi dan Masjid Al-Iman diawali beberapa tahun lalu. Ketika itu masih bernama Jemaat the Young Israel. Menurut mantan bendarahara mereka, Leon Blackman (78 tahun), komunitas yang memiliki sinagoge di Virginia Avenue, Parkchester, kerap membagi-bagikan pakaian bekas buat orang-orang yang membutuhkan.

Salah satu penerima tetap sumbangan itu adalah Syekh Mussa Drammeh, pendiri masjid Al-Iman. Jemaahnya kebanyakan imigran dari Afrika. Imam masjid berusia 49 tahun ini berasal dari Gambia, Afrika Barat. Ia menetap di Amerika Serikat sejak 1946. Mulanya di Harlem sebelum pindah ke Parkchester. Di sinilah ia mendirikan masjid, pusat kajian Islam, dan madrasah.

Lantaran anggotanya banyak keluar, the Young Israel pada 2003 terpaksa menjual sinagoge mereka di 1375 Virginia Avenue. Semua aset selain barang-barang yang berhubungan dengan sembahyang dibagi-bagikan, termasuk kursi dan meja buat Drammeh.

Bleckman dan pengikutnya – kebanyakan orang-rang tua – lantas pindah ke gedung seberang dengan sewa US$ 2000 saban bulan. Namun mereka hanya mampu bertahan empat tahun. Selama 6-7 pekan, mereka tidak bisa sembahyang karena tidak memiliki sinagoge.

Tiga bulan sebelum akhirnya keluar, Bleckman sempat meminta bantuan dana ke the Chabad Lubavitch. Konsekuensinya, mereka memakai nama baru the Chabad of East Bronx.  “Orang-orang dari the Chabad mengatakan mereka datang untuk menolong kami,” katanya. “Kami menangis.”

Drammeh yang mengetahui hal itu menawarkan tempat ibadah gratis di Masjid Al-Iman. “Tidfak semua muslim seperti kami karena tidak semua muslim percaya muslim dan Yahudi tidak seharusnya saling membenci,” ujarnya.

Pada awalnya, Hana Kakabow tidak percaya dengan kenyataan itu. “Saya benar-benar terkejut,” kata istri dari Rabbi Meir Kakabow. Perempuan 26 tahun ini dilahirkan dan besar di Israel. Rabbi Meir sudah memimpin ibadat di sana sejak pindah dari Brooklyn dua tahun lalu.

Jangan-jangan Tuhan pun berganti jadwal melihat kenyataan di Al-Iman.

Tablet Magazine/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s