Bisnis Zionis di Negeri Muslim

Meski bermusuhan, pengusaha Israel berbisnis dengan negara-negara Arab dan berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia.

Motti (bukan nama sebenarnya), pengusaha yang memiliki koneksi di pelbagai negara Arab, cuma bengong ketika beberapa bulan lalu sebuah perusahaan makanan ternama di Israel mendekati dirinya. Ia diminta memeriksa kemungkinan eskpor ke Iran. Perusahaan itu member tahu sebuah perusahaan dari Negeri Mullah itu mendekati mereka melalui pihak ketiga di luar negeri.

Motti menolak karena tidak ingin melanggar embargo. Namun ia baru sadar kemudian sejumlah perusahaan dan pebisnis setempat mengadakan hubungan dagang tidak langsung dengan musuh nomor satu Israel itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah tiga kali menerapkan sanksi lantaran Iran menolak menghentikan program nuklir mereka. Kecurigaan negara-negara Barat yang disponsori Amerika Serikat dan Israel berubah menjadi keyakinan setelah badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengumumkan Teheran memang sedang mengembangkan senjata nuklir.

Sebab itu ia tidak terkejut saat Bloomberg akhir Desember lalu melansir laporan yang menyebutkan perusahaan komunikasi Allot dari Israel menjual peralatan pengintai dan pengawas Internet ke Iran melalui distributor di Denmark. Hubungan dagang itu sudah berjalan lima tahun.

Setelah tiba di Denmark label buatan Israel dicopot dan barang dikemas kembali. Lantas alat-alat itu dijual ke Iran lewat penengah. Menurut tiga mantan pegawai Allot, hubungan dagang Israel dan Iran sudah menjadi rahasia umum.

“Berdagang dengan Israel adalah cerita kuno,” kata Profesor Uri Bialer dari Universitas Hebrew, Yerusalem. Ia adalah ahli hubungan internasional yang pernah meneliti hubungan Israel dan Iran.

Ahli Iran sekaligus pemilik GMI (Gulf Market Intelligence), Nachum Shiloh, menegaskan adalah hal yang masuk akal pengusaha Iran mengimpor barang dari Israel. “Tidak semua orang Iran saban bangun pagi berpikir bagaimana menghancurkan Israel,” ujarnya.

Pebisnis Israel juga merambah Arab Saudi, Irak, dan bahkan hingga Indonesia serta Malaysia. “Para pengusaha Arab tertarik dengan teknologi Israel. Mereka mencari peluang untuk mendapat itu melalui Internet dan media social, seperti Facebook, Twitter, dan LinkedIn,” kata Eliran Malul dari lembaga Arab Markets, yang biasa menjadi broker bisnis dengan negara-negara Arab.

Hukum di Israel mengharamkan perdagangan dengan Libanon, Suriah, dan Iran, langsung atau tidak langsung. Ketiga negara ini dianggap trio teroris. Iran merupakan pendukung rezim di Libanon dan Suriah. Negeri Persia itu juga mendanai dan melatih Hizbullah, milisi terkuat di Libanon Selatan. Libanon dan Suriah juga menjadi tempat berlindung bagi Hamas dan Hizbullah yang anti-Israel.

Hingga akhir 1970-an sebelum rezim Shah di Iran jatuh, Israel memli minyak secara diam-diam dari negara itu. Padahal, Iran juga ikut dalam embargo minyak oleh dunia Arab atas negara Zionis itu.

Hubungan dagang rahasia antara Israel dan Iran ini pernah menjadi skandal. Salah satu yang legendaries adalah Iran-Contra pada 1980-an. Israel menjadi pihak ketiga dalam penjualan senjata Amerika ke Iran, selanjutnya dipasok buat pemberontak Contra di Nikaragua. Salah satu tokoh yang terlibat adalah Amiram Nir, saat itu penasihat perdana menteri Israel untuk terorisme. Ia tewas dalam kecelakaan pesawat secara misterius di Meksiko pada 1988.

Pebisnis Israel, Nahum Manbar, menjadi tokoh dalam episode berikutnya. Ia telah menjalin hubungan dagang dengan Iran selama bertahun-tahun sebelum ditangkap. Pada 1998, divonis bersalah menjual senjata kimia ke negara itu. Selang beberapa bulan ia dibebaskan dari penjara.

Skandal mutakhir terkuak Mei tahun lalu. Departemen Luar Negeri Amerika mengungkapkan Ofer Group (perusahaan raksasa Israel) telah menjual satu kapal tanker mkinyak ke perusahaan kapal pemerintah Iran. Kapal itu dijual oleh anak perusahaan, Tanker Pacific, melalui pihak ketiga seharga US$ 8,5 juta. Sejumlah kapal milik Tanker Pacific ternyata sudah pernah berlabuh di Iran dalam beberapa dekade terakhir.

Konsekuensinya, Ofer Group masuk daftar hitam karena melanggar sanksi ekonomi atas Iran. Entah bagaiaman, beberapa bulan kemudian, konglomerasi ini dicabut dari daftar itu.

Perkembangan paling menarik adalah keinginan Arab Saudi untuk mewujudkan perdamaian antara Israel dan Arab melalui “Inisiatif Saudi” yang diluncurkan pada 2002. Sayangnya, Tel Aviv menolak gagasan itu.

Meski begitu, sejumlah perusahaan Israel mengekspor peralatan berteknologi mutakhir ke Saudi melalui Amerika. Ini dimungkinkan lantaran hubungan erat Saudi dan negara adikuasa itu. Termasuk rompi antipeluru buatan Rabintex Industries. Perusahaan dari negara Yahudi ini juga menjual perisai badan ini untuk dipakai tentara Amerika yang bertugas di Saudi.

Industri plastik Israel juga menjual produk mereka ke negara Petro Dolar itu. Beberapa di antaranya buatan pabrik Turki milik pemodal dari Israel. “Saya memperkirakan tingginya statistic perdagangan dengan Turki agak bias lantaran ada eskpor ke negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel,” ujar Liel, mantan duta besar Israel untuk Turki.

Negara-negara kaya di kawasan Teluk juga menjadi sasaran utama bagi pebisnis Israel. Mereka ikut ambil bagian dalam proyek raksasa pembangunan kompleks property Palm Islands di Dubai Uni Emirat Arab melalui perusahaan pelapis atap dari Italia.

Sejumlah perusahaan teknologi mutakhir Israel juga beroperasi di Dubai.  Salah satu sektor yang mereka rambah adalah bidang keamanan. Sebagai contoh, sebuah perusahaan keamanan dari Israel dikontrak menjaga ladang-ladang minyak di sebuah negara Teluk.  Israel juga mengekspor teknologi medis, pertanian, dan air ke negara-negara Teluk. Namun semua hubungan bisnis itu bergantung pada situasi politik kawasan.

Ketika Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) diyakini  terlibat dalam pembunuhan tokoh senior Hamas, Mahmud al-Mabhuh, di Dubai pada Januari 2010, semua pengusaha Israel tiarap. “Anda perlu sensitif terhadap situasi. Hentikan, bahkan jangan mengirim surat elektronik hingga semua berlalu. Para pengusaha Israel itu sudah kembali berbisnis di Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar,” ujar Naava Mashiah, broker bisnis untuk Timur Tengah yang tinggal di Jenewa (Swiss).

Menurut Mashiah yang dua kali setahun bepergian ke kawasan Teluk, berbisnis dengan negara-negara Arab merupakan salah satu cara untuk mengatasi kebuntuan dalam proses politik. Mashiah juga tergabung dalam Israeli Peace Initiative, sebuah gerakan yang anggotanya juga meliputi elite bisnis di Israel untuk mendekatkan hubungan antara negara Bintang Daud itu dengan dunia Arab.

“Israel makin terisolasi di dunia dan kelompok kami ingin mengatasai soal ini. Salah satu caranya lewat ikatan bisnis dengan negara-negara Arab.”

Merambah hingga Indonesia

Dengan penduduk sekitar 240 juta, Indonesia merupakan peluang pasar amat besar bagi produk-produk buatan Israel.  Akhir 1990-an, Kementerian Luar Negeri Israel berupaya membina hubungan dagang dengan Indonesia dan Malaysia. Beberapa tahun sebelum Perjanjian Oslo diteken pada 1993, Koor Trade Group membuka kantor cabang di Indonesia.

Dalam situs resmi mereka (www.koortrade.com), perusahaan yang berdiri sejak 1960-an ini mengaku telah memiliki 12 kantor cabang di sejumlah lokasi strategis, termasuk Thailand, Singapura, Hong Kong, Indonesia, Burma, Vietnam, Meksiko, Australia, Polandia, Kroasia, dan Rusia. Perusahaan ini bergerak di berbagai bidang, seperti telekomunikasi, keamanan, dan teknologi informasi.

“Indonesia dan Malaysia adalah sebuah cerita besar dan kami berupaya keras membangun hubungan ekonomi dengan mereka,” kata Alon Liel, yang ketika itu menjabat direktur jenderal di Kementerian Luar Negeri Israel.

Hubungan dagang dengan Indonesia terus berlangsung secara diam-diam. Singapura menjadi basis bagi pebisnis Israel untuk masuk ke Indonesia. Pada 2007, anak perusahaan Ormat Industries meneken kontrak senilai US$ 200 juta untuk menyuplai listrik listrik selama 30 tahun. Ormat adalah bagian konsorsium dalamproyek ini, di mana pendaan terbesar dari sebuah bank di Jepang.

Sebuah kantor dagang Indonesia-Israel dibuka dua tahun lalu guna memudahkan pengusaha Israel menanamkan modal di negara ini. Sejumlah delegasi bisnis Indonesia juga pernah melawat ke Israel. Perlu dicatat, nilai impor Israel dari Indonesia delapan kali lebih besar ketimbang nilai ekspor mereka. “Ini sebuah hubungan ekonomi dengan potensi amat besar,” ujar Ketua Kamar Dang Israel-Indonesia Emanuel Shahaf

Lain ceritanya dengan Malaysia. Jalinan bisnis sulit dibuat. “Mereka muslim lebih radikal. Ketika orang-orang Indonesia menutup mata, sebuah perusahaan Malaysia memerlukan izin khusus dari pemerintah untuk membina hubungan dagang dengan perusahaan Israel,” kata Shahaf.

Pada 2004, didirikan Indolink yang berkantor di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. Lembaga ini bertujuan membantu usahawan Indonesia yang ingin mencari peluang bisnis di negara Yahudi itu. Fokus bisnis mereka adalah suplai produk dan teknologi unggulan dari Israel.

Dua tahun sebelumnya berdiri IIPAC (Indonesia-Israel Public Affairs Committee) yang ingin menjajaki kerja sama dengan Israel dan lembaga Yahudi internasional.

Di luar tudingan sebagai negara kolonialis, rasialis, dan diskriminatif, Israel memang pantas dijadikan sebagai mitra bisnis. Produk mereka berkualitas tinggi sekaligus inovatif. Walau berpenduduk sekitar 7 juta, hampir saban minggu muncul inovasi dan paten baru.

Maklum saja, Israel mempunyai lebih dari 140 ilmuwan dan insinyur per 10 ribu penduduk, dua kali lebih banyak ketimbang Jepang dan hampir dua kalinya Amerika. Secara per kapita, Israel nomor dua setelah Amerika dalam jumlah publikasi sains dan pendaftaran paten. Lebih dari seperlima warga Israel bergelar sarjana.

Industri berteknologi tinggi Israel meliputi lebih dari 3.000 produsen, , 2.000 stra-up, dan sekitar 200 proyek inkubator yang melahirkan 70 perusahaan saban tahun dengan dukungan 60 perusahaan kapital.

Seperti kata sekretaris jenderal Asosiasi Pebisnis Palestina (PBA) dalam sebuah konferensi di Tel Aviv pada 2005. “Kami orang-orang Palestina suka membeli dari Israel karena Israel berarti bagus.”

Apalagi fulus memang tidak mengenal ideologi atau agama, kawan atau musuh.

Haaretz/www.indolink.co.il/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s