Lika-Liku Mossad di Teheran

Lima ahli nuklir Iran menjadi sasaran pembunuhan, satu selamat.

Udara dingin masih membekap  Teheran. Seperti biasa, selesai shalat subuh, Rabu pekan lalu, Mustafa Ahmadi Rosyan, bersiap-siap untuk pergi bekerja di fasilitas pengayaan uranium di Natanz.

Rosyan, 32 tahun, adalah wakil direktur di Natanz, reaktor nuklir terbesar di Provinsi Isfahan, Ahli kimia ini direkrut setelah lulus dari Universitas Teknik Syarif. Meski bukan paling brilian ia dipilih lantaran berasal dari keluarga saleh dan setia terhadap rezim berkuasa. Setelah menikah, ia bergabung dengan Basij, milisi yang dikontrol oleh Garda Revolusi.

Di sebuah rumah perlindungan di jantung ibu kota, beberapa agen Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) memantau situasi di lokasi-lokasi penting, termasuk gerbang kantor intelijen Iran dan jalan-jalan yang bakal dilewati Rosyan. Agen lainnya mengikuti komukiasi radio antara polisi dan tentara.

Menjelang pukul 8 pagi, sang sopir sekaligus pengawal, Reza Qashqai, tiba di rumah Rosyan, kawasan Cheezar (pinggiran utara Teheran). Desa yang masuk wilayah perluasan Teheran ini dihuni keluarga-keluarga tradisional.

Ia sadar bahaya yang kerap mengintip bosnya itu. Karena itu, tiap kali tiba di sana, ia memeriksa semua bagian mobil dinas Peugeot 405 berwarna perak itu. Tepat pukul 8, Rosyan meninggalkan rumah menuju kantornya. Sorang agen Mossad yang sejak tadi mengawasi, mengirim pesan berkode kepada komandan operasi bahwa sasaran dalam perjalanan.

Seorang agen Mossad dengan sepeda motor keluar dari garasi menuju Jalan Gol Nabi yang selalu dilewati mobil Rosyan. Dengan bertopeng, ia meliuk-liuk di tengah kemacetan. Setelah memastikan sang penumpang adalah target yang direncanakan, ia menempelkan bom magnet berdaya ledak kuat. Ia lantas ngebut.

Sembilan detik kemudian ledakan hebat terjadi. Rosyan terbunuh di lokasi, sedangkan Qashqai cedera parah. Ia meninggal beberapa hari kemudian di rumah sakit.

Menurut seorang sumber di Israel, misi pembunuhan atas Mustafa adalah pekerjaan intelijen yang dilakoni berbulan-bulan oleh tim amat terlatih. “Tidak boleh ada kesalahan. Jika gagal risikonya bukan hanya bagi para agen tapi juga bisa menjadi skandal internasional,” kata sumber itu kepada the Sunday Times.

Kasus ini terjadi di tengah makin memanasnya hubungan Iran dan Barat. Amerika Serikat bersama Israel dan negara-negara Eropa telah menerapkan sanksi sebagai tekanan agar Negeri Mullah itu menghentikan program nuklir mereka. Spekulasi soal rencana Israel menyerang fasilitas nuklir Iran juga menguat. Dua hari sebelum kejadian, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengumumkan Iran mulai mengayakan uranium di reaktor bawah tanah di Fordo, dekat kota Qom.

Rosyan adalah ahli nuklir keempat yang terbunuh dalam dua tahun terakhir. Korban pertama adalah Masyud Ali Muhammadi. Lelaki setengah abad ini merupakan ahli fisika kuantum dari UNiversitas Teheran. Ia pernah menjadi mentor Rosyan dalam program nuklir.

Rosyan memiliki spesialisasi dalam membuat membrane polimerik yang digunakan buat memisahkan gas. Teknologi pemisahan gas ini diperlukan untuk pengayaan uranium.

Ratusan orang yang menghadiri pemakamannya Jumat pekan lalu menuntut pemerintah membalas kematian Rosyan. “Dua sasaran selalu ada dalam pikiran Mustafa,” ujar rekannya, Reza Najafi. “Memerangi Israel dan menjadi syuhada. Ia telah mendapatkan keduanya.”

Israel tidak berkomentar atas kejadian itu. Namun panglima militer Letnan Jenderal Benny Gantz mengatakan kepada parlemen tahun ini merupakan waktu paling kritis bagi Iran karena hal-hal yang direncanakan bakal terjadi.

Upaya sabotase terhadap nuklir Iran

11 Januari 2012
Ahli nuklir Mustafa Ahmadi Rosyan terbunuh setelah bom meledakkan mobilnya yang sedang melaju.

28 November 2011
Sebuah ledakan terjadi di reaktor Natanz. Kerasnya ledakan terdengar hingga ke sejumlah wilayah di Isfahan.

12 November 2011
Sebuah ledakan menghantam gudang senjata di Teheran. Sebanyak 17 anggota Garda Revolusi, termasuk satu ahli rudal tewas, dan 15 lainnya cedera.

23 Juli 2011
Dua orang berboncengan motor menembak mati Dariush Rezainejad. Lelaki 35 tahun ini adalah professor fisika dan ahli pemindahan neutron.

24 Mei 2011
Sebuah ledakan menimbulkan kebakaran di kilang minyak Abadan, barat daya Iran. Inisden itu terjadi saat kunjungan Presiden Mahmud Ahmadinejad. Ia selamat tanpa cedera. Peristiwa itu menewaskan satu orang dan enam lainnya luka.

29 November 2010
Ahli nuklir Majid Shahriyari tewas setelah bom meledakkan mobilnya. Dalam insiden terpisah, fereydun Abbasi-Davani selamat setelah dirawat di rumah sakit. Ia luka parah dalam serangan bom monil. Setelah sembuh, ahli nuklir yang masuk dalam daftar sanksi PBB diangkat menjadi direktur badan tenaga atom Iran.

12 Januari 2010
Ahli nuklir Masyud Ali Muhammadi tewas setelah bom di luar rumahnya meledak. Ia merupakan pendukung tokoh oposisi Mir Hussein Musawi.

Haaretz/the Australian/the Sunday Times/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s