Langka Shekel di Kota Gaza

Sopir taksi memberikan sepotong biskuit atau permen karet sebagai ganti uang kembalian setengah shekel.


Pemandangan semacam ini menjadi kebiasaan baru di Kota Gaza sejak awal Desember tahun lalu. Penumpang berdebat soal kembalian setengah shekel dengan sopir taksi, termasuk yang dialami Muhammad Abu Sulaiman, mahasiswa Universitas Al-Azhar.

Ia menolak menerima sepotong biskuit sebagai pengganti uang kembalian setengah shekel (US$ 0,13). Ia memaksa sang sopir memberikan haknya itu. Tetap saja hasilnya nihil lantaran sopir taksi yang ia tumpangi tidak punya recehan.

“Jika saya menerima biscuit ketimbang setengah shekelberarti buat perjalanan pulang-pergi saya harus mengeluarkan empat shekel dari yang seharusnya tiga shekel,” katanya dengan nada bersungut-sungut. Ia tidak sendirian. Ada sekitar 30 ribu mahasiswa Universitas Al-Azhar yang juga menjadi korban akibat kurangnya uang setengah shekel di Gaza.

Memasuki Desember, Kementerian Transportasi Hamas menaikkan ongkos taksi dari satu shekel menjadi 1,5 shekel. Tarif baru ini hanya berlaku di tiga kawasan, termasuk Tufah (sebelah selatan Kota Gaza) yang menjadi tempat tinggal Muhammad.

Sumber-sumber di pemerintahan Hamas mengungkapkan otoritas tengah mempelajri rencana mengeluarkan koin plastik guna mengatasi kekurangan uang receh shekel. Bila rencana itu dijalankan, ini menjadi mata uang pertama yang dikeluarkan rezim setempat.

Rakyat Palestina memang tidak memiliki mata uang sendiri. Mereka memakai shekel (mata uang Israel) buat kehidupan sehari-hari. Dolar Amerika Serikat atau Dinar Yordania hanya digunakan buat membeli mobil, rumah, tanaha, atau biaya pernikahan.

Langkanya koin setengah shekel ini dipicu oleh kenaikan ongkos taksi dengan jumlah itu. Belum lagi koin berwarna kuning itu kerap dilebur guna dijadikan kawat listrik.

Seperti barang-barang lainnya, pasokan mata uang shekel sudah jauh berkurang setelah negara Zionis itu memblokade total Jalur Gaza sejak pertengahan Juni 2007. Alhasil, bank-bank di Israel tidak lagi mentransfer shekel ke wilayah itu.

Mata uang Israel memiliki lima jenis koin, yakni Agorah (tidak berlaku di seantero Gaza), koin setengah, satu, lima, dan sepuluh shekel.

Hamzah al-Masri, 20 tahun, membenarkan semua mahasiswa menjadi korban dari minimnya jumlah koin setengah shekel. Karena itu, kata mahasiswa juru bisnis administrasi di Universitas Islam Gaza, ini mengungkapkan ada rencana mereka menggelar protes.

Sopir taksi Mahmud al-Jojo menyatakan krisi ini dapat diselesaikan dengan menurunkan harga bahan bakar. Ia menambahkan para sopr taksi berkewajiban member sepotong biskuit atau permen karet kepada mahasiswa karena tidak ada kembalian setengah shekel.

“Saya ragu gagasan membuat koin palstik bakal menyelesaikan persoalan. Itu hanya akan memperkaya anggaran pemerintah Hamas,” ujar Muhammad, sopir taksi yang hanya bersedia ditulis nama depannya saja.

Hassan Ukasya membenarkan kenaikan tarif setengah shekel ini hanya terjadi di tiga area di Kota Gaza. “Denga menaikkan ongkos membuat sopir taksi tertarik mengangkut mahasiswa pulang,” katanya beralasan kepada kantor berita Xinhua.

Xinhua/Faisal Assegaf

One thought on “Langka Shekel di Kota Gaza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s