Terusik Suara Adzan

Seorang anggota Knesset mengusulkan beleid yang melarang pemakaian pengeras suara di masjid.


Moshe (bukan nama sebenarnya) uring-uringan. Berkali-kali ia menutup kedua telinganya dengan bantal untuk mengusir suara adzan. Tetap saja ia bersungut-sungut. Seperti biasa, ia berteriak-teriak mengomel. Tindakan ini kerap ia lakukan saban adzan Subuh.

Bagi warga Caesarea ini, Subuh adalah waktu paling dibenci. Ia kesal lantaran tidur pulasnya kerap terganggu adzan dari pengeras suara masjid di permukiman Palestina. Masjid itu berada di Desa Jisr al-Zarqa yang berbatasan dengan Caesarea.  Ini merupakan sebuah kota kecil yang terletak di antara Tel Aviv dan Haifa.

Di daerah ini pula, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tinggal. Ia pun menyadari masalah gangguan dari pengeras suara masjid saban kali adzan berkumandang. Sebab itulah, ia mendukung rancangan beleid yang diajukan anggota Knesset (parlemen Israel) Anastassia Michaeli. Politikius dari Partai Yisrael Beitenu ini menuntut sebuah undang-undang yang melarang masjid menggunakan pengeras suara.

Ia mengklaim ratusan ribu warga Israel terusik tiap kali muadzin mengumandangkan adzan lewat pengeras suara. “Undang-undang ini berasal dari pandangan masyarakat dunia di mana kebebasan beragama tidak seharusnya menjadi faktor yang mengganggu kualitas hidup,” katanya.

Netanyahu mengaku menerima desakan agar melarang masjid memakai pengeras suara dari orang-orang yang merasa terganggu. Ia menegaskan persoalan ini juga terjadi di seluruh negara Eropa. Beleid (serupa) juga berlaku di Belgia, Prancis. Kenapa di sini (Israel) tidak boleh? Kita tidak perlu lebih liberal ketimbang Eropa,” ujar Netanyahu kepada para menteri dari Partai Likud yang ia pimpin.

Namun Wakil Perdana Menteri Israel Dan Meridor menyanggah pandangan Netanyahu. Menurut dia, jika aturan itu disahkan bakal makin meningkatkan ketegangan antara warga Yahudi dan muslim Palestina.

Pendapat ini disokong oleh Menteri bagi Kemajuan Pelayanan Pemerintah Michael Eitan. Ia menilai rancangan beleid itu untuk memusuhi kaum muslim. “Jika ingin menghapus suara berisik, perlu sebuah aturan yang berlaku di semua sector,” ia menegaskan.

Sebagai oranbg yang tinggal di Caesarea, Netanyahu pun sudah mengetahui kekesalan para tetangganya.  Tapi ia tidak dapat berbuat banyak karena tidak mendapat dukungan dari sebagian besar menteri dari partainya sendiri.

Ketua Dewan Desa Jisr al-Zarqa Azadin Amash menegaskan pihaknya juga tidak mau berseteru dengan warga Caesarea. “Karena itulah, kami membentuk sebuah komite bersama untuk membahas pelbagai persoalan, termasuk penggunaan pengeras suara di masjid,” katanya.

Haaretz/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s