Keraguan Netanyahu Soal Nuklir Iran

Oleh: Faisal Assegaf

Laporan terbaru Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pekan lalu seolah dukungan terhadap Israel yang sudah lama mencurigai Iran memang sedang mengembangkan senjata nuklir. Dalam laporan itu, badan internasional yang berpusat di Wina, Austria, ini menyimpulkan upaya Negeri Mullah itu memperoleh senjata pemusnah massal telah dimulai sejak 2003.

Karena tidak mendapat izin inspeksi, IAEA pada Oktober tahun lalu terpaksa menggunakan foto satelit untuk mengklaim tempat-tempat yang menjadi pusat pengembangkan senjata nuklir di Iran. Melalui foto satelit pula, Tel Aviv pada awal tahun ini sejatinya sudah mendapatkan bukti Iran memiliki sebuah fasilitas nuklir rahasia. Teheran pun mengaku secara terbuka bakal membangun sepuluh reaktor nuklir.

Dengan segala perkembangan terjadi baru-baru ini – terutama laporan IAEA – yang makin menguatkan kecurigaan negara-negara Barat soal isu nuklir Iran, yang menjadi tanda tanya besar masyarakat internasional saat ini: beranikah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan menyerbu semua fasilitas nuklir Iran itu. Apalagi, muncul spekulasi yang menyebut negara Zionis itu bakal melancarkan operasi militer terhadap musuh terbesarnya itu bulan depan. Jangan-jangan pemimpin garis keras dari Pafrtai Likud itu bakal membiarkan kecurigaan selama ini menjadi kenyataan lantaran tidak ada hyang bisa diperbuat.

Menghancurkan fasilitas nuklir negara musuh bukan pengalaman baru buat Israel. Pada satu malam di bulan Juni 1981,beberapa jet tempur F-16 Israel mengebom reaktor nuklir Osirak, dekat Ibu Kota Bagdad.  Lewat Operasi Orchard, tujuh F-15 negara Yahudi itu pada dinihari 6 September 2007 berhasil menyerang reaktor Al-Kibar milik Suriah. Fasilitas n ukjlir itu terletak di tengah gurun seluas 250 kilometer persegi, 30 kilometer dari Deir el Zor dan 130 kilometer dari perbatasan Irak.

Namun, bakal sasaran kali ini bukan lawan sembarangan. Iran diyakini sebagai negara yang bisa menandingi kekuatan militer Israel di Timur Tengah. Sebab itu, Netanyahu pantas dan bahkan wajib bimbang untuk memutuskan perang dengan Iran. Kalau pun nekat, Israel akan menerima dua dampak negatif, baik secara militer atau politik.
Jika saja kecurigaan Israel selama ini salah, senjata konvensional negara Persia itu tidak dapat diremehkan. Fasilitas-fasilitas militer strategis Israel kemungkinan besar bakal menjadi sasaran serangan balasan Iran, tanpa kecuali reaktor nuklir Dimona di Gurun Negev.

Melancarkan agresi atas Iran sama saja meledakkan seluruh Timur Tengah. Iran sudah berhasil menguji coba peluru kendali jarak jauh  “Syahab-3” yang mampu menjangkau seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan itu (di Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi), pastinya termasuk Israel. Sejumlah pejabat Iran sudah jauh-jauh hari memperingatkan akan menyerang balik target-target vital dua negara itu.

Israel juga akan menghadapi dua musuh lainnya sekaligus, yakni Hamas di wilayah selatan Israel dan Hizbullah di sebelah utara. Negara Bintang Daud itu terbukti tidak mampu melumatkan kekuatan dua kelompok anti-Israel itu dalam dua perang terakhir: melawan Hizbullah pada Juli-Agustus 2006 dan Hamas (Desember 2008-Januari 2009). Dua organisasi itu sudah menjadi binaan Iran bertahun-tahun dan siap berkorban membela negara itu.

Apalagi bila Iran benar-benar memiliki senjata nuklir. Bukan sekadar korban tewas dan cacat yang melimpah. Tentunya kehancuran peradaban yang akan dihadapi umat manusia. Daya ledak bom nuklir sekarang ini beribu kali lebih hebat ketimbang bom atom yang dijatuhkan Amerika di dua kota di Jepang: Hiroshima dan Nagasaki yang mengakhiri Perang Dunia Kedua.

Posisi Israel di mata dunia juga bakal makin terpuruk karena kembali mengobarkan perang baru. Tentunya cap sebagai penjahat perang dan kemanusiaan bakal makin kuat menempel di kening pemimpin Israel. Di tengah gelomban g revolusi yang sedang menyapu Timur Tengah, menyerbu Iran dengan alasan senjata nuklir akan dicurigai sebagai upaya mengganti rezim yang sedang berkuasa.

Masyarakat internasional akan memandang Iran sebagai korban kebijakan diskriminatif negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris, yang memang getol  ingin menghentikan program nuklir Teheran. Bagaimana mungkin program nuklir Iran yang belum terbukti memproduksi senjata pemusnah massal dikatakan sebagai ancaman bagi perdamaian dunia. Tapi di lain pihak, IAEA dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak berani meneraokan sanksi keras kepada  negara-negara yang secara terbuka dan terbukti memiliki bom nuklir – Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, Cina, Korea Utara, Pakistan, India, dan Israel – supaya segera meljucuti senjata nuklir mereka.

Lantaran Iran dapat dikatakan representasi kekuatan Islam yang mampu menandingi dan berani melawan hegemoni Amerika Serikat dan Israel, alhasil, serangan terhadap fasilitas-fasilitas nuklir di negara itu bisa meningkatkan sentimen anti Amerika dan Israel. Gagasan membuka kembali lembaran baru mengenai hubungan antara Islam dan Barat yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Barack Hussein Obama di Kairo dua tahun lalu jadinya cuma sekadar retorika.

Posisi Obama tidak kalah dilematis. Dukungan sebagian besar warga Israel dan keturunan Yahudi di Amerika, seperti ditunjukkan sejumlah jajak pendapat, mengharuskan ia member lampu hijau bila Israel benar-benar jadi melancarkan operasi militer. Keputusan itu amat penting guna mendapat kepercayaan dan dukungan dana dari donator Yahudi yang bisa memperngaruhi hasil pemilihan presiden tahun depan. Apalagi sebagian besar anggota Kongres dari Partai Demokrat (partainya Obama) merupakan keturunan Yahudi.

Keraguan Netanyahu untuk menyerbu Iran ini sama saja dengan kebimbangan banyak orang bahwa dunia juga bisa bebas dari senjata nuklir. Sebab, bom nuklir terbukti mampu meningkatkan posisi tawar sebuah negara.

Dimuat di Jurnal Nasional, 15 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s