Ironi Revolusi Pascakematian Qaddafi

Oleh: Faisal Assegaf

Pemimpin Libya terguling Muammar al-Qaddafi akhirnya dibunuh setelah ditangkap hidup-hidup oleh pemberontak di kota kelahirannya, Sirte,  20 Oktober lalu. Ia telah memenuhi janjinya, terus bertempur untuk mencapai kemenangan atau mati sebagai syuhada.

Kematian Qaddafi yang begitu mengenaskan ini menjadi sebuah ironi dari kemenangan revolusi yang meletup di Libya sejak pertengahan Februari lalu. Pejuang revolusioner yang mengklaim ingin menumbangkan Qaddafi yang dicap zalim terhadap rakyatnya, malah bertindak serupa atas bekas pemimpin mereka itu.

Kelompok pemberontak yang katanya berjuang atas nama Islam dan hukum malah menistakan ajaran Islam dan melanggar hukum perang internasional yang diadopsi oleh negara-negara anggota NATO (Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara) yang mendukung mereka secara militer.

Rasulullah tidak pernah mengajarkan untuk membunuh musuh yang sudah tidak berdaya, sebuah prinsip yang juga dipakai dalam hukum perang internasional. Dalam sebuah riwayat, Imam Ali bin Abi Thalib (sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad) tidak jadi membunuh seorang kafir Quraisy karena ia bersyahadat. Meski ternyata itu hanya siasat agar ia terhindar dari maut.

Menurut syariat Islam, haram hukumnya membunuh dan merampas harta seorang muslim. Siapa yang berani menghilangkan nyawa seorang muslim sama saja membunuh seluruh umat manusia.

Yang terjadi sebaliknya, pemberontak asal Misrata seperti orang kesurupan dan dipenuhi dendam. Qaddafi yang ditemukan di sebuah lubang drainase dalam keadaan luka di bahu dan kaki, diseret, dipukuli, dan ditendang. Meski ia sudah memelas dengan menawarkan fulus dan emas. Hebatnya lagi, mereka berani-beraninya berlindung di balik nama Allah. Penyiksaan yang mereka lakukan diiringi kalimat takbir. Qaddafi akhirnya ditembak di pelipis sebelah kiri dengan pistol berlapis emas miliknya.

Bahkan, mereka lebih biadab ketimbang Qaddafi yang dianggap diktator. Mereka tidak segera menguburkan jenazah Qaddafi  yang menurut syariat Islam paling lambat dalam 24 jam.  Mereka malahan menjadikan mayatnya sebagai tontonan selama empat hari di sebuah pusat belanja di Kota Misrata hingga mulai mengeluarkan bau busuk.

Pertanyaan menggelitik yang muncul adalah bagaimana mungkin para pemberontak di lapangan berani mengambil keputusan untuk membunuh Qaddafi. Padahal, ia merupakan orang yang paling ingin didengar kesaksiannya oleh rakyat Libya dan dunia atas tudingan kejahatan yang ia lakukan. Jangan-jangan ada pihak-pihak yang sengaja ingin membungkam Qaddafi agar aib mereka juga tidak terbongkar.

Apalagi NTC (Dewan Transisi Nasional) yang sekarang merupakan pemerintahan sementara di Libya berupaya menutup-nutupi hal itu. Awalnya, mereka mengumumkan Qaddafi terbunuh dalam baku tembak. Lantas klaim itu berubah. Pemimpin yang berkuasa selama 42 tahun itu meninggal karena kehabisan darah akibat cedera yang ia derita. Rakyat Libya seharusnya dan masyarakat internasional begitu syok setelah sejumlah video amatir yang merekam detik-detik kematian Qaddafi beredar di Internet.

Setelah banjir kecaman, Perdana Menteri Mahmud Jibril baru menyatakan penyesalan atas nasib yang menimpa Qaddafi. Ia juga memerintahkan sebuah penyelidikan untuk mengusut penyebab kematian lelaki 69 tahun itu. Hasil otopsi menyimpulkan Qaddafi meninggal karena luka tembak di kepala.

Jangan lupa, sebagian besar pejabat NTC pernah menjadi bagian dari rezim Qaddafi. Mereka pernah menikmati kenyamanan dan keamanan di saat rakyat Libya lainnya kesusahan dan ketakutan. Rakyat Libya sepertinya melupakan latar belakang mereka. Padahal, moralitas politik mereka pantas dipertanyakan. Kenapa mereka baru mau berganti haluan setelah revolusi yang didukung negara-negara Barat meletus. Jika benar mereka tidak setuju dengan cara Qaddafi memerintah, mengapa tidak sejak awal menjadi oposisi.

Presiden NTC Mahmud Jibril tadinya menteri kehakiman sejak 2007. Ia baru mundur empat hari setelah protes besar-besaran terjadi pertama kali di Kota Benghazi. Saat Qaddafi berkuasa, Perdana Menteri Mahmud Jibril menjabat Ketua Dewan Pembangunan Ekonomi Nasional selama empat tahun (2007-awal 2011).

Kenyataan ironis lainnya adalah bantuan yang dijanjikan oleh negara-negara Barat untuk membangun Libya berasal dari aset milik keluarga Qaddafi yang mereka bekukan. Jumlahnya diperkirakan puluhan miliar dolar. Alhasil, mereka tidak mengeluarkan seperser uang dari kantong sendiri. Bahkan, Amerika Serikat akan memotong bantuan itu dengan dalih untuk ongkos memerangi Qaddafi.  Parahnya lagi, NTC seolah menjadi pengemis dengan meminta-minta aset yang semestinya menjadi hak rakyat Libya.

Pihak Barat yang membantu menumbangkan kekuasaan Qaddafi malah dapat untung besar. Seperti dijanjikan oleh NTC, konsesi kontrak minyak hanya akan diberikan kepada negara-negara yang telah memberikan bantuan. Jauh-jauh hari sebelum Sirte dan Bani Walid (dua basis pertahanan terakhir pendukung Qaddafi) jatuh ke tangan pemberontak, perusahaan-perusahaan minyak asing, seperti ENI dari Italia dan Total dari Prancis, sudah mulai beroperasi di Libya.

Sebab itu wajar saja jika muncul tudingan ada skenario besar dari pihak Barat untuk menjungkalkan Qaddafi dari tampuk kekuasaan. Perang di Libya dilatarbelakangi oleh motif ekonomi, yakni untuk menguasai sumber minyak di negara itu. Apalagi Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sedang dilanda krisis keuangan. Jadi mereka membutuhkan sumber dana baru untuk mengatasi masalah itu.

Qaddafi juga dipandang sebagai ancaman karena ingin membentuk blok dagang sendiri dengan menggandeng negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Ia juga pernah mengusulkan agar perdagangan minyak dilakukan dengan uang dinar emas dan bukan dolar Amerika. Jadi, bantuan Barat saat revolusi terjadi di Libya bukan atas nama kemanusiaan dan tidak ada yang gratis.

Dengan semua kenyataan ironis itu, tak berlebihan rasanya jika muncul keraguan apakah revolusi di Libya benar-benar murni karena keinginan rakyat atau ada kepentingan besar yang mendompleng. Boleh jadi, rezim baru nantinya tidak lebih baik ketimbang Qaddafi. Isyarat itu sudah terlihat setelah NTC berupaya merekayasa peristiwa kematian Qaddafi, sebuah ciri khas kediktatoran yang selalu menulis sejarah menurut kepentingan mereka sendiri. Apalagi, jika pemerintahan baru nantinya diisi oleh orang-orang yang pernah menjadi anak buah Qaddafi.

Dimuat di Jurnal Nasional, 27 Oktober 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s