Israel, Dinista dan Dicinta

Saat revolusi melanda Timur Tengah, banyak orang Arab meminta tinggal di Israel.

Bagi sebagian besar negara-negara Arab dan berpenduduk mayoritas Islam, sentimen anti-Israel begitu kuat. Mulai dari alasan agama hingga masalah penjajahan negara Zionis itu terhadap bangsa Palestina.

Setidaknya, itu tercermin dari tidak adanya pengakuan terhadap negara Bintang Daud itu. Di antara 52  negara anggota Organisasi Islam (OKI), hanya Mesir sejak 1979 (Perjanjian Camp David) dan Yordania mulai 1994 yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel setelah meneken perjanjian damai.

Namun kenyataan itu mulai berubah sejak munculnya gelombang revolusi yang melanda negara-negara Arab. Dimulai dari Tunisia yang menggulingkan Presiden Zainal Abidin bin Ali berlanjut ke Mesir (jatuhnya rezim Husni Mubarak), dan saat ini Libya (tergulingnya Muammar al-Qaddafi). Protes besar-besaran antipemerintah juga masih berlaku di Yaman dan Suriah. Bahrain, Arab Saudi, dan Aljazair masih sekadar riak .

Kementerian Luar Negeri Israel, seperti dilaporkanYediot Ahronot hari ini, mengklaim telah menerima ribuan surat elektronik yang menyatakan tertarik berkunjung atau tinggal di Israel. Bahkan, ada yang berniat bergabung di militer dan menjadi anggota Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel).

“Mereka Semua Ingin Menjadi Agen,” tulis surat kabar paling laris di negara Yahudi itu. Permohonan itu kebanyakan datang dari warga Arab di Afrika Utara (seperti Mesir, Tunisia, Aljazair, dan Maroko). Ada pula permintaan dari Arab Saudi dan Irak. Alasannya mulai dari butuh pekerjaan, pinjaman, kuliah, bertemu teman yang dikenal lewat Facebook, sampai mencari suaka.

Ini sungguh mengherankan. Apalagi, Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman dikenal sangat anti-Arab. Politikus dari Partai Yisrael Beitenu ini pernah mengajukan rancangan undang-undang yang mewajibkan warga negara Israel keturunan Arab bersumpah setia kepada rezim Zionis. Untungnya gagasan kontroversial itu tidak mendapat dukungan Knesset (parlemen Israel).

Banyak dari permohonan itu disampaikan lewat Attawasul, situs berbahasa Arab milik Kementerian Luar Ngeri Israel. Ada pula surat yang dikirim langsung ke IDF (angkatan bersenjata Israel) dan Mossad. Bahkan, kata juru bicara situs itu, Adel Hinou, surat elektronik yang masuk datang dari anggota parlemen dan partai politik. “Alasan mereka bermacam-macam,” katanya.

Seperti surat dari Dawud, teknisi komputer asal Irak yang ingin mendapat suaka politik di Israel. “Israel satu-satunya negara (di kawasan Timur Tengah) yang menghormati kebebasan individu.”

“Rakyat Israel terkuat dan paling beradab di kawasan,” tulis seorang pemuda Iran yang ingin menjaka seluruh anggota keluarganya tinggal di Israel.

Humam dari Irak meminta pinjaman untuk mengobati ayahnya yang sakit. “Saya tahu kalian (orang-orang Israel) senang menolong orang lain.”

Hinou mengaku membalas tiap surat yang masuk. “Tapi kebanyakan (permintaan mereka) ditolak secara halus.

Forward/Jewish Chronicle/Yediot Ahronot/Faisal Assegaf

2 thoughts on “Israel, Dinista dan Dicinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s