Menyambut Lahirnya Negara Semu Palestina

Oleh: Faisal Assegaf

September tahun ini bisa saja menjadi salah satu saat paling bersejarah bagi bangsa Palestina. Seperti disampaikan Menteri Luar Negeri Otoritas Palestina Riad Malki, pada tanggal 23, Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas akan menyampaikan permohonan secara resmi kepada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Isinya agar lembaga yang katanya paling berpengaruh di dunia itu dapat memberika n pengakuan terhadap Palestina sebagai sebuah negara dengan ibu kota Yerusalem Timur dan batas sebelum Perang Enam Hari 1967.

Sejumlah pejabat Otoritas Palestina pernah mengklaim sudah 113 dari 193 negara anggota PBB yang menyatakan akan memberi dukungan terhadap rencana itu. Abbas mengambil langkah ini setelah Ddewan Keamanan PBB Juli lalu gagl meloloskan resolusi soal pengakuan kemerdekaan Palestina akibat veto dari Amerika Serikat. Washington pun berkomitmen untuk memveto kembali langkah terbaru itu sebab mereka ingin terwujudnya sebuah negara Palestina atas dasar perjanjian damai dengan Israel.

Jika Sidang Majelis Umum berhasil mengesahkan resolusi itu. Boleh jadi itu kado istimewa buat rakyat Palestina atau negara-negara lain yang selama ini memberikan dukungan terhadap perjuangan mereka. Namun, jangan keburu puas dulu. Negara baru itu nantinya adalah sebuah negara semu jika melihat kenyataan yang masih ada di lapangan.

Jalur Gaza dan Tepi Barat yang bakal menjadi wilayah negara Palestina itu terpisah. Secara geografis, kedua kawasan itu berada di antara wilayah kedaulatan Israel. Sejak kemenangan Hamas pada pemilihan umum Januari 2006, Israel tidak memberikan izin bagi warga Gaza berkunjung ke Tepi Barat dan juga sebaliknya, negara Zionis itu tidak membolehkan penduduk Palestina di Tepi Barat melawat ke Gaza, meski untuk urusan keluarga. Apalagi, Israel telah menerapkan blokade total selama empat tahun terakhir dan menyatakan wilayah yang dihuni sekitar 1,5 juta orang itu sebagai wilayah musuh.

Secara politik, Gaza berada di bawah kekuasaan Hamas yang radikal dan anti-Israel. Kelompok yang didirikan Syekh Ahmad Yassin pada 1985 ini bersumpah tidak akan pernah mengakui keberadaan negara Yahudi itu. Sedangkan Fatah yang dipimpin Abbas mengontrol Tepi Barat. Organisasi yang dibentuk mendiang pemimpin Palestina Yassir Arafat itu berpandangan moderat dan bersedia berunding dengan Israel.

Kedua organisasi ini sangat sulit dipersatukan. Setidaknya itu terlihat dari pengalaman sebelumnya. Hamas yang meraih suara terbanyak pada pemilihan umum terakhir tidak berhasil menggalang pemerintahan bersama dengan Fatah akibat rebutan kursi kabinet untuk posisi-posisi strategis. Bahkan pemerintahan persatuan nasional yang terbentuk berdasarkan kesepakatan Makkah, Maret 2007, hanya bertahan empat bulan. Sampai sekarang pun, proses rekonsiliasi antara Khalid Misya’al dan Abbas masih menemui jalan buntu.

Perlu diingat pula, pembangunan Tembok Pemisah di Tepi Barat yang panjangnya sekitar 750 kilometer masih terus berlangsung. Proyek yang katanya untuk melindungi permukiman Yahudi dari serangan teror rakyat Palestina ini sudah berjalan sejak sembilan tahun lalu. Pembangunan tembok ini telah merampas paksa tanah-tanah milik warga Palestina.

Tembok-tembok yang sudah berdiri juga makin mengekang warga Palestina untuk melakukan kegiatan. Bayangkan saja, hanya ada satu pintu keluar-masuk untuk tiap kota yang dilewati. Bahkan, banyak warga Palestina yang tidak bisa lagi ke lahan-lahan pertanian mereka karena sudah berada di luar pagar Tembok Pemisah dan berada dalam otoritas Israel.

Selama ini pun, warga Palestina di Tepi Barat sudah susah ke mana-mana lantaran terdapat sekitar 650 pos pemeriksaan di sana. Paling cepat satu jam untuk melewati ketatnya pengecekan yang dilakukan tentara Bintang Daud itu, seperti yang selama ini dialami Fadwa Barghuti. Ia adalah istri dari pemimpin intifadah Marwan Barghuti yang sedang menjalani hukuman lima kali seumur hidup di Penjara Hadarim, di luar Ibu Kota Tel Aviv, Israel.

Israel pun sudah menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota abadi mereka dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina. Knesset (parlemen Israel) mengesahkan kebijakan itu lewat Jerusalem Basic Law pada 1980. Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 478 menyatakan undang-undang itu melanggar hukum internasional. Resolusi yang disahkan pada 20 Agustus 1980 ini disokong oleh 14 negara anggota Dewan Keamanan, sedangkan Amerika abstain.

Meski begitu, semua kantor pemerintah Israel, termasuk kediaman resmi perdana menteri, berada di Yerusalem. Tidak hanya itu, untuk memuluskan jalan menguasai seluruh wilayah Yerusalem, termasuk kota tua, mereka terus memperluas permukiman Yahudi di sana. Permjukiman-permukiamn serupa juga masih tersebar di seantero Tepi Barat yang nantinya menjadi teritori Palestina.

Bagaimana mungkin pula, Palestina dapat menjadi sebuah negara berdaulat, sama seperti negara-negara lain, bila Israel masih leluasa menggelar operasi militer di Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan alasan mencari teroris.

Ironisnya, wilayah yang diminta oleh Palestina jauh lebih kecil ketimbang yang seharuusnya mereka kuasai. Jika diakui nantinya, Palestina hanya memiliki 22 persen dari seluruh wilayah sebelum negara Israel berdiri pada 1948. Saat deklarasi kemerdekaan, wilayah negara itu cuma 17 persen. Namun setelah Perang Enam Hari 1967 bertambah menjadi 78 persen dengan penduduk hanya sekitar 7,8 juta.

Alhasil, jika PBB memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina,  negara baru itu bersifat semua bila semua kenyataan pahit di lapangan masih tetap berlaku. Pemerintahan yang ada tidak bisa dibanggakan, wilayah yang dinginkan sebatas khayalan, dan kedaulatan yang menjadi hak sebuah negara hanya di atas kertas.

Dimuat di Jurnal Nasional, 22 September 2011

5 thoughts on “Menyambut Lahirnya Negara Semu Palestina

  1. setuju mas. tapi kalau diakui kan setidaknya mereka “memilki sesuatu” dari pada sekarang ini kan? at least, dunia mengakui keberadaan mereka. jadi solusi yang terbaik apa? one state? kalo menurutku cara terbaik yah two states dengan wilayah pre-1967 borders, meskipun susah juga sih. tapi harus bagaimana dong? btw, gimana kemaren, habis dari libya yah?

  2. Cara terbaik cuma dua: Secara revolusioner, Palestina perlu mendeklarasikan lagi kemerdekaan secara sepihak. Ini menjadi ujian apakah negara-negara muslim yang katanya mendukung mau memberi pengakuan dengan segera.

    Kedua, cara evolusioner, yakni menciptakan generasi pro-damai di kedua negara itu perlu waktu lama. Tapi jika berhasil, bisa menekan otoritas di kedua negara untuk mewujdukan perdamaian yang mereka inginkan.

    Iya, Nit, gw baru balik minggu lalu dari Libya. Sekarang lagi bikin buku soal Qaddafi

  3. Nit, elo bisa baca sola cara penyelesian Palestina ini di opini gw berjudul “Belajar dari Kosovo” dan PBB Baru Demi Palestina”

  4. okeh, aku akan cari link-nya mas. btw, kalo cari bukumu yang soal Palestine masih ada gak? kalo yang soal Gaddafi udah selese undang2 yah pas launching! hehe. sukses mas, FREEDOM FOR PALESTINE!!!

  5. Dua opini itu ada di bagian kategori opinion di blog gw. Kalo mo pesen atau siapa saja mo pesen buku Palestina masih ada bukunya di gw. Bis telp ke HP gw: 08128379292 atau email: faisalassegaf@yahoo.com, atau @hamaslovers. Ok. Insya Allah gw undang pas launching. Thanks yah Anita buat perhatiannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s