Konflik Internal di Tubuh Hamas

Pimpinan Hamas di Damaskus kerap berbeda pendapat dengan pimpinan di Gaza.


Dengan langkah tergesa-gesa dan wajah memerah, komandan Brigade Izzudin al-Qassam (sayap militer Hamas) Ahmad al-Ja’bari bersama anak buahnya bergegas menerobos masuk ke dalam ruang kerja pemimpin Hamas Ismail Haniyah di Kota Gaza.

Dengan blak-blakan dan mencerca Haniyah, ia meminta uang yang diberikan oleh mantan anggota parlemen Inggris George Galloway. Bekas perdana menteri Palestina itu menuruti perintah Ja’bari.

Galloway memang dikenal sebagai pegiat pro-Palestina. Ia pun pernah berkunjung ke Gaza bersama rombongan pegiat perdamaian lainnya dengan nama kelompok Viva Palestina.

Haniyah lantas mengambil peti kas berisi uang tunai Rp 9 miliar dan memberikan itu kepada Ja’bari. Tanpa basa-basi, Ja’bari mengambil Rp 5,4 miliar dan menyerahkan sisanya kepada Haniyah.

“Kami (Brigade al-Qassam) akan memakai fulus ini untuk mengatur urusan kami sekarang. Anda jangan lupa, bagian kami seharusnya lebih besar dari kalian. Apa yang Anda peroleh dari masyarakat sudah cukup,” kata Ja’bari. Ia juga mengingatkan bahwa Haniyah berutang kepada Brigade al-Qassam atas semua kendaraan operasional yang dipakai.

Insiden itu dilaporkan oleh dua situs berita milik Fatah, alaahd.com dan palvoice.com, pada 20 Januari 2010. Laporan itu menyebutkan kepemimpinan Haniyah memang tidak berkuasa penuh di Jalur Gaza. Semua keputusan dibuat oleh Ja’bari.

Peristiwa itu menggambarkan adanya perpecahan di dalam tubuh Hamas. Perbedaan juga tampak di antara pimpinan Hamas di Gaza dan Khalid Misya’al, Kepala Biro Politik Hamas di Damaskus, Suriah. Beberapa laporan menyebutkan perpecahan antara pimpinan Hamas di Gaza dan Damaskus sudah berlangsung lama ketika Misya’al secara terang-terangan menolak kepemimpinan Syekh Ahmad Yassin.

Ini terlihat saat Misya’al memutuskan berakhirnya gencatan senjata dengan Israel menjelang agresi militer negara Zionis itu, Desember 2008. Mahmud Zahar dan Ahmad al-Ja’bari memperingatkan keputusan itu sebuah langkah terburu-buru sebaba persiapan untuk berperang menghadapi Israel belum selesai. Namun Damaskus tidak mempedulikan hal itu.

Pertentangan juga muncul dalam perundingan soal pertukaran tahanan Palestina dengan Gilad Shalit. Serdadu Israel ini telah ditawan sejak Juni 2006. Pada Maret 2010, dilaporkan Zahar dipaksa keluar dari sebuah  karena sepakat terhadap pengurangan jumlah tahanan yang harus dibebaskan Israel. Sedangkan Al-Ja’bari menuntut Israel menerima daftar yang dibuat oleh Hamas.

Zahar juga membuat sebuah kesalahan karena telah memberi tahu pihak keluarga bahwa tahanan Palestina akan segera dibebaskan. Padahal, Israel bahkan menegaskan tidak akan membebaskan 100 dari 450 tahanan yang ada dalam daftar.

Kesalahan lainnya adalah tim juru runding menyetujui syarat Israel bahwa tahanan yang dibebaskan akan dioulangkan ke Gaza atau ke negara lain. Atas semua kesalahan itu, Damaskus mengirim sebuah surat peringatan kepada Zahar. Isinya, Zahar diperintahkan untuk tidak turut campur dalam perundingan mengenai pertukaran tahanan. “Anda tidak ada hubungannya dengan masalah ini,” kata Misya’al.

Anggota Komite Pusat Fatah Muhammad Dahlan mengakui adanya perbedaan pandangan di dalam Hamas mengenai Shalit. “Khalid Misya’al yang telah menyabotase kepsepakatan itu meski Zahar mendukung penyelesaian,” ujarnya.

Perbedaan pendapat juga terlihat ketika Brigade al-Qassam melansir video animasi yang menggambarkan nasib Shalit bakal seperti Ron Arad, pilot Israel yang dinyatakan hilang di Libanon sejak 1986. Dalam rekaman itu, ayah Gilad, Noam Shalit bermimpi anaknya terbaring dalam peti yang dibungkus bendera negara Yahudi itu.

Juru bicara Hamas Fauzi Barhum menyatakan film itu sebagai pesan kepada rakyat Israel bahwa pemerintah mereka tidak berniat membebaskan Shalit. Ia menyatakan pula Hamas tidak akan berkompromi soal syarat pembebasan pemuda 23 tahun itu.

Namun Zahar mengecam video yang ditayangkan di situs resmi Brigade al-Qassam itu. Ia menegaskan video itu tidak mencerminkan posisi Hamas. “Hamas tidak akan pernah membunuh tawanan serdadu Israel. Moralitas dan agama kami melarang itu,” ia menegaskan.

Anggota parlemen Hamas Saleh Bardawil menepis tudingan perpecahan itu. “Tidak ada pertentangan antara isi video dan komentar Dr Mahmud Zahar nilai moral yang dipegang Hamas dalam segala hal,” katanya.

Dalam proses rekonsiliasi  pada 2009 pun terdapat perbedaan kebijakan dalam Hamas. ‘Beberapa pemimpin Hamas ingin rekonsiliasi namun kepemimpinan di Damaskus menolak meneken kesepakatan,” anggota Komite Pusat Fatah Muhammad Shtaya.

“Saya tidak ingin mengatakan ada konflik antara Hamas luar (Damaskus) dan Hamas domestik (Gaza), namun ada dua pandangan berbeda,” kata pejabat Fatah lainnya, Nabil Shaath.

MEMRI/Faisal Assegaf

3 thoughts on “Konflik Internal di Tubuh Hamas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s