Amnesia terhadap Krisis Kemanusiaan di Gaza

Oleh: Faisal Assegaf

Rencana pelayaran misi kemanusiaan ke Jalur Gaza yang kedua tahun ini gagal setelah patroli laut Yunani menghentikan kapal “Tahrir” berbendera Kanada yang bertolak dari Pelabuhan Agios. Pemerintah Negeri Para Dewa itu melarang rombongan kapal yang mengangkut pegiat perdamaian dan barang bantuan berlayar ke Gaza. Mereka menawarkan bantuan disalurkan lewat pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Masyarakat internasional tentu masih ingat mengenai kebiadaban yang terjadi dalam insiden Mavi Marmara Mei tahun lalu. Serbuan pasukan komando angkatan laut Israel di atas kapal itu menewaskan sembilan relawan dan mencederai lebih dari 30 lainnya. Mavi Marmara termasuk dalam rombongan enam kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Namun barangkali banyak orang sudah lupa 27 Desember 2011 mendatang menandai tiga tahun agresi militer negara Zionis itu ke Gaza. Serangan besar-besaran dan brutal itu menewaskan paling sedikit 1.400 orang, setengahnya wanita dan anak-anak. Penduduk bumi ini mungkin juga tidak ingat Israel telah memblokade wilayah berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa itu sejak Juni 2007. Ingatan orang akan Gaza seperti penyakit amnesia, kadang muncul, namun lebih banyak lenyap dari memori.

Perlu satu setengah tahun bagi komunitas global kembali membuka mata dan telinga mereka terhadap penderitaan warga Gaza. Itu pun melalui operasi militer yang membuat bulu kuduk merinding. Kepedulian itu juga muncul setelah lebih dari 1.000 pasien dijemput maut karena fasilitas rumah sakit tidak memadai dan tidak ada izin Israel untuk berobat di luar Gaza.

Padahal, isolasi oleh negara Bintang Daud itu telah menciptakan krisis kemanusiaan lantaran pasokan bahan makanan, air, obat-obatan, listrik, bahan bakar, dan material lainnya sangat dibatasi. Kemiskinan, kelaparan, dan ketakutan menjadi pemandangan saban hari di wilayah seluas kira-kira 360 kilometer persegi itu.

Badan Bantuan dan Kerja PBB (UNRWA) yang mengurusi pengungsi Palestina mencatat terdapat 859 ribu dari sekitar 1,5 warga Gaza mengandalkan bantuan internasional untuk menyambung hidup sehari-hari. Komite Rakyat Menentang Pengepungan (PCAS) menyebutkan lebih dari 123 pasien tewas, 1.562 sekarat, dan 322 penderita kanker menunggu ajal. Isolasi terhadap Gaza juga mengakibatkan 900 pabrik tutup sehingga lebih dari 160 ribu orang menganggur. Penyanderaan ini menyebabkan pula 3.000 nelayan tidak dapat melaut, proyek US$ 370 juta macet, dan petani stroberi serta bunga rugi US$ 14 juta.

Negara-negara Barat yang disponsori Amerika Serikat dan Israel hanya menyalahkan Hamas sebagai biang keladi. Tel Aviv memang menjadikan berkuasanya Hamas di Gaza setelah pemerintahan persatuan nasional dengan Fatah bubar sebagai alasan menutup seluruh perbatasan darat, laut, dan udara dengan kawasan itu. Namun mereka mengingkari kemenangan Hamas dalam pemilihan umum 25 Januari 2006 karena menuding organisasi yang didirikan oleh Syekh Ahmad Yassin itu teroris.

Banyak orang mungkin tidak ingat lagi, komite investigasi yang dibentuk Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyimpulkan Israel dan Hamas harus bertanggung jawab atas perang 22 hari itu. Ini pertama kalinya PBB berani menuding Israel sebagai penjahat perang. Tim yang diketuai Richard Goldstone – hakim keturunan Yahudi dari Afrika Selatan – ini merekomendasikan pengadilan internasional jika kedua pihak tidak mampu membentuk pengadilan independen.

Hingga kini, rekomendasi itu belum dilaksanakan. Israel dan Hamas menolak hasil penyelidikan komite Goldstone itu. Presiden Amerika Barack Hussein Obama yang diyakini mendukung perjuangan rakyat Palestina juga tidak mau menerima laporan setebal 575 halaman ini. Alasannya, hasil itu memojokkan pihak Israel ketimbang Hamas.

Ironisnya, orang lebih peduli dan lebih ikhlas membantu korban bencana alam, seperti gempa, tsunami, atau letusan gunung berapi ketimbang musibah kemanusiaan di Gaza. Upaya besar-besaran untuk membantu para korban tewas dan selamat datang bergelombang, seolah tidak berhenti. Bahkan, kerap pula, digelar peringatan saban tahun untuk mengingat kejadian itu.

Memang benar amukan alam sering menimbulkan korban tewas dan pengungsi dalam jumlah besar dan kerusakan hebat. Namun mesti diingat, manusia tidak dapat mencegah atau memprediksi kapan bencana alam itu datang. Semua itu di luar kehendak manusia dan merupakan kekuasaan Allah.

Namun yang terjadi di Gaza malah sebaliknya. Masyarakat internasional bertindak setengah hati. Tidak ada upaya besar-besaran menggalang dana atau memberikan bantuan. Yang tampak, cuma tindakan-tindakan sporadis dari segelintir orang. Dorongan kemanusiaan mereka seolah terbentur dinding ideologi dan politik.

Seperti yang dihadapi pemerintah Mesir. Meski mereka bertetangga dengan Gaza, pemerintah Negeri Sungai Nil itu sangat jarang membuka gerbang Rafah yang membatasi kedua wilayah itu. Maklum saja, Mesir membina hubungan diplomatik dengan Israel sejak 1979 setelah Presiden Anwar Sadat dan Perdana Menteri Menachem Begin menandatangani Perjanjian Camp David.

Warga dunia juga kelihatannya termakan kampanye negatif Amerika dan Israel bahwa membantu penduduk Gaza sama saja memulihkan kekuatan Hamas. Padahal, komunitas internasional seharusnya mampu menghentikan atau bahkan mencegah blokade negara Yahudi itu atas Gaza. Sebab, semua itu merupakan rencana dan tindakan manusia yang ada batasnya.

Jangan-jangan penyakit lupa-ingat akan nasib rakyat Palestina di Gaza memang disengaja karena masyarakat internasional sudah tidak peduli lagi. Mereka barangkali sudah capek dan frustasi karena isu Palestina yang berlarut-larut. Tentu saja ini menimbulkan kekhawatiran penderitaan warga Gaza bakal diabaikan selamanya. Apalagi, penduduk bumi saat ini sudah memiliki musuh bersama, yakni perubahan iklim yang mengancam kehidupan dan peradaban seluruh manusia.

Dimuat di Jurnal Nasional, 9 Juli 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s