Melawat ke Hotel Bintang Lima Pertama di Gaza

Di Al-Mashtal, tamu bisa menikmati minuman beralkohol yang dilarang oleh Hamas.

Dari kejauhan, bangunan berlantai 10 itu tampak berkilau ditimpa sinar matahari. Inilah hotel bintang lima pertama di Kota Gaza yang mulai beroperasi. Memiliki lebih dari 270 kamar, sebuah kolam renang bergaya lagun, dan interior berlapis marmer dan dipenuhi hiasan.

Di tengah penderitaan akibat blokade total Israel terhadap Jalur Gaza selama empat tahun terakhir, keberadaan Hotel Al-Mashtal itu seperti sebuah keajaiban. Tahun lalu juga berdiri sebuah pusat belanja terbesar di kota itu, bernama the Gaza Mall. Padahal, masih banyak bangunan hancur akibat agresi Israel pada Desember 2008 hingga Januari 2009.

Ironisnya, di pintu masuk hotel, terpampang sebuah kertas pengumuman yang berisi peringatan makanan dan minuman yang tersedia di restoran terbatas. Lobi pun masih lengang. “Kami belum benar-benar buka. Ini masih masa percobaan,” kata kepala resepsionis, Shadi Agha.

Dari balkon lantai teratas, kelihatan kolam renang kosong. Di bagian lain juga tidak kelihatan tumpukan sampah. Di lantai dasar, sejumlah pekerja masih menyelesaikan hiasan bergaya Turki terhadap kolam rendam dan sauna. Hotel ini juga belum memiliki sopir untuk mobil operasional.

Meski begitu, di salah satu pelataran hotel, beberapa pelayan berseragam sibuk melayani pesanan susu kocok. Serombongan wanita dengan dandanan celana jins ketat dan sepatu berhak tinggi tengah asyik mengisap shisha, sebuah kegiatan terlarang buat perempuan di muka umum.

Sebuah bar dalam hotel itu juga memiliki stok botol martini berharga mahal. Padahal, Hamas melarang minuman beralkohol beredar di Gaza.

Pembangunan Al-Mashtal seolah menggambarkan perjalanan sejarah Jalur Gaza. Dimulai pada 1996, namun dihentikan empat tahun kemudian setelah intifadah kedua meletup. Proyek itu dimulai lagi, tapi berhenti untuk kedua kalinya setelah Hamas memang pada pemilihan umum 2006.

Sejatinya, Al-Mashtal masuk dalam jaringan Marriott, tapi pada 2004 tergabung dengan Movenpick, jaringan hotel asal Swiss. Namun belakangan ini menjadi bagian dari kelompok ArcMed dari Spanyol.

Agha menegaskan pihaknya menyediakan segala yang diperlukan oleh sebuah hotel berbintang lima. Hotel Al-Mashatl memang memiliki segalanya kecuali tamu yang mau menginap.

Slate/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s