Usamah Hamdan: PBB Lemah Karena Tidak Mampu Menekan Israel

Boleh jadi, pelayan sebuah restoran di lobi Hotel Sultan itu tak sengaja menunjukkan daftar minuman keras, termasuk anggur, kepada pemimpin Hamas di Libanon, Usamah Hamdan. Dengan tegas, ia menolak hal itu. “Saya tidak bisa minum ini karena saya seorang muslim,” kata lelaki berjenggot tebal ini.

Pelayan lelaki itu bergegas membuka halaman selanjutnya yang berisi daftar jus. Hamdan yang telah menjadi kepala perwakilan Hamas di Libanon sejak 1999 lantas memesan jus jeruk lantaran tidak ada jus anggur.

Hamas memang dikenal sebagai kelompok yang menerapkan syariat Islam secara ketat. Di wilayah Jalur Gaza yang mereka kuasai selama empat tahun terakhir, mereka menerapkan aturan lelaki dan perempuan bukan muhrim tidak boleh berduaan di tempat umum, perempuan tidak boleh membonceng lelaki bukan muhrim, dan pelajar perempuan harus berjilbab. Laki-laki juga dilarang memakai celana di atas lutut saat bermain di pantai.

Ini pertama kali Hamdan datang ke Jakarta. Selama dua hari ia menghadiri konferensi Masyarakat Asia-Pasifik soal Palestina. Kepada Faisal Assegaf dari Tempo yang menemui dia di restoran itu hari ini, Hamdan menyoroti soal kelemahan Perserikatan Bangsa-Bangsa karena tidak mampu menekan Israel untuk melaksanakan semua resolusi yang telah dihasilkan.

Ini menjadi sindiran sekaligus tamparan bagi 52 negara-negara berpenduduk mayoritas muslim yang juga menjadi anggota PBB. “Kelemahan PBB adalah tidak mampu menekan Israel untuk menerima semua resolusi itu,” kata Hamdan. Ia juga menjelaskan mengenai proses rekonsiliasi Hamas-Fatah, perundingan pembebasan tentara Israel, Gilad Shalit, dan masa depan nasib bangsa Palestina.

Berikut penuturannya:

Perundingan soal pemerintahan persatuan terganjal oleh siapa yang pantas menjadi perdana menteri. Menurut Anda, itu menggagalkan proses rekonsiliasi Hamas dan Fatah?
Ketika kami meneken perjanjian rekonsiliasi, itu merupakan keputusan trategis. Tidak ada yang berpikir persatuan di antara faksi Palestina harus bubar. Apa yang terjadi empat tahun lalu (pemerintahan bersama Hamas dan Fatah pecah pada Juni 2007) karena tekanan dari Amerika Serikat dan Israel. Sekarang pun kami masih menghadapi tekanan itu. Saya tahu membahas soal pemerintahan persatuan setelah pecah selama empat tahun tidak mudah diselesaikan dalam satu kesempatan. Kami akan berusaha yang terbaik untuk menyelesaikan ganjalan. Salah satu hambatan terbesar adalah calon perdana menteri. Kami ingin membicarakan soal kemampuan yang harus dimiliki seorang perdana menteri sehingga kami dapat menemukan kandidat yang tepat. Jika itu dilakukan, ada lusinan orang yang tepat menjadi perdana menteri, baik itu dari kubu independent atau teknokrat. Dalam pertemuan terakhir, Hamas menolak pencalonan Salam Fayyad. Meski begitu, pembahasan isu lain tetap berjalan karena Amerika berupaya mengindahkan atau setidaknya memperlambat rekonsiliasi. Di saat yang sama Israel berusaha menghentikan proses itu. Kami memiliki sejumlah calon seperti Muhammad Mustafa (juga dicalonkan oleh Fatah), Jamal al-Khudari, Mustafa Barghuti, Mazin Sonoqrot, dan Munib al-Mashri. Kami yakin mereka bisa melakukan tugas itu (perdana meneteri) dan mereka menyokong persatuan Palestina.

Abbas berupaya mendapatkan pengakuan PBB terhadap berdirinya negara Palestina. Menurut Anda, seberapa penting hal itu bagi perjuangan rakyat Palestina?
Saya yakin kami sudah memiliki resolusi internasional lebih dari cukup (sekitar 100). Masalahnya bukan itu, tetapi pada kemauan masyarakat internasional untuk menekan Israel agar menerima semua resolusi itu. Namun Israel menolak seluruhnya. Bahkan salah satu resolusi itu disokong oleh Amerika dan negara-negara besar lainnya. Kelemahan PBB adalah tidak mampu menekan Israel untuk menerima semua resolusi itu. Saya yakin rencana itu tidak akan berhasil karena ada kompromi antara Abu Mazin (nama sapaan Mahmud Abbas) dan Amerika. Jika ia membatalkan rencana itu, akan ada semacam upaya baru untuk memulai kembali perundingan.

Anda masih percaya negara-negara Islam serius mendukung Palestina?
Saya masih yakin dukungan terhadap rakyat Palestina dari negara-negara Islam merupakan hal penting. Tidak berarti mereka harus mengirim tentara ke sana, namun jika kemungkinan ada tentu bagus. Ada tiga cara yang bisa dilakukan negara-negara Islam untuk mendukung Palestina, yakni memberikan sokongan politik, dana, dan ikut membela hak-hak rakyat Palestina. Negara-negara Islam bisa menggunakan ketiga cara itu untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk membebaskan wilayah mereka. Insya Allah.

Pernahkah Anda membayangkan masyarakat internasional bakal mengesampingkan persoalan Palestina lantaran ada isu bersama yang lebih besar, seperti perubahan iklim global?
Saya percaya masalahnya adalah penjajahan oleh Israel. Jika masyarakat internasional capek mengurusi itu, mereka harus mulai mengakhiri penjajahan itu. Karena masalahnya bukan Palestina, tapi berasal dari Israel. Tidak akan pernah ada keamanan dan stabilitas di kawasan bahkan dunia jika Israel terus menjajah Palestina. Sebab, Israel akan terus mendikte negara-negara Arab dan Islam. Israel adalah sumber masalah bagi sebagian dunia.

Apakah Hamas secara prinsip menerima proposal Presiden Barak Obama soal solusi dua negara dengan batas sebelum 1967?
Sampai sekarang tidak ada proposal mengenai itu. Saya yakin semua upaya Obama untuk memulai kembali perundingan tidak akan berhasil. Saya juga percaya semua perundigan tidak akan mengembalikan hak-hak rakyat Palestina. Pemerintahan Obama telah kehilangan kepercayaan atas Israel dan sistem politik mereka sendiri.

Anda sepakat jika negara-negara Islam keluar dari keanggotaan PBB sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina?
Saya berharap hal semacam itu tidak akan terjadi. Yang lebih penting adalah negara-negara Islam menuntut PBB untuk menekan Israel guna mengakhiri penjajahan terhadap Palestina. Atau mereka mendorong lahirnya resolusi yang mewajibkan PBB mengirim tentara untuk mengusir pasukan Israel dari seluruh wilayah Palestina.

Apakah benar Israel menerima usulan untuk membebaskan 1.000 tahanan Palestina sebagai syarat pelepasan Gilad Shalit?
Itu terjadi tiga tahun lalu, namun mereka menolak lagi. Kami mengusulkan 450 sampai 1.000 tawanan yang dibebaskan. Israel tidak menerima tuntutan itu sampai sekarang. Semua wanita dan anak-anak juga dilepas, tapi Israel menolak pula. Jadi tidak ada sesuatu yang baru. Kami ingin pembebasan 1.000 tahanan, 450 berdasarkan nama, 550 menurut spesifikasi, dan seluruh wanita dan anak-anak harus dibebaskan. Jika itu dituruti, Shalit bisa bebas besok. Bila tidak, Shalit bakal tetap menjadi tawanan perang.

Kenapa Hamas menolak menunjukkan bukti Shalit masih hidup?
Kami tidak harus memberikan semua jawaban yang diperlukan dan diminta oleh Israel karena tahanan kami masih menderita di penjara-penjara Israel. Jika mereka ingin memperoleh lebih banyak informasi mengenai Shalit, mereka juga harus memperhatikan tuntutan kami.

Jadi Shalit masih hidup?
Tidak seorang pun tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s