Sepenggal Kisah Seorang Gay di Negeri Yahudi

Gay Arab dan Yahudi pun saling bermusuhan.

Malam kian gelap saat Ruru, 23 tahun, mulai menjalani rutinitasnya sebagai pelacur. Ia mulai pamer diri di tepi sebuah jalan dekat terminal bus lama di Ibu Kota Tel Aviv, Israel.

Pekerjaan haram itu sudah ia geluti sejak berusia 12 tahun setelah diusir dari kediaman orang tuanya, sebuah desa berpenduduk mayoritas Arab di wilayah tengah Israel. Sebab, ia ketahuan menyukai sesama jenis. “Dari saya belia, saya tahu saya ini gay. Tapi saya takut membicarakan soal itu,” kata Ruru kepada surat kabar Haaretz.

Ia lantas pergi ke Tel Aviv dan mencari kerja di wilayah yang kini menjadi tempat mangkalnya. Ia menjadi pelacur setelah berkenalan dengan seorang gay Palestina yang lari dari rumahnya lantaran dituduh berkhianat. Malam itu pun, ia diajari cara mencari uang banyak dalam waktu singkat.

Rata-rata penghasilan para gay yang bekerja sejak matahari mulai rebah hingga tengah malam Rp 1,8 juta. Bahkan, kalau sedang kebanjiran pelanggan bisa mencapai Rp 3 juta. “Dengan fulus itu, saya membeli makanan, rokok, dan vodka,” ujar Ruru. Baru dua tahun, ia mulai mencicipi obat bius, namun tidak lama. Ia sekarang rutin mengisap ganja dan minuman keras agar bisa tidur nyenyak di pinggir jalan.

Seperti orang normal lainnya, meski sama-sama gay, kaum homo Arab dan Yahudi saling bermusuhan. Karena itulah, pada usia 18 tahun, Ruru pernah mendekam di Penjara Ofek karena menusuk seorang gay Israel 26 kali. Kejadian itu berlangsung dalam sebuah klub khusus kaum homo seksual.

Ia dilempari batu lantaran berbicara dalam bahasa Arab. Lalu, seseorang mendorong dia sambil mengatai ia seorang Arab busuk. Saking emosinya, ia mencabut pisau dan menusuk orang itu hingga menemui ajal. Di penjara, ia juga melukai seorang tahanan hingga masa kurungannya ditambah. Ia baru bebas Februari lalu.

“Menusuk atau ditusuk,” kata Ruru menjelaskan hukum berlaku di jalanan. Sebab itu, ia selalu membawa pisau dan bukan sekadar perlengkapan bersolek dalam ransel kecilnya.

Ruru pun sadar tidak ada pihak yang benar-benar memperhatikan nasib orang seperti dia. “Siapa saja yang tidur enak di rumah lupa terhadap orang-orang terlelap di jalan,” ujarnya.

Haaretz/Faisal Assegaf

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s