Target Utama Revolusi di Timur Tengah

Oleh: Faisal Assegaf

Perhatian dunia internasional kini terpaku dengan serangan militer pasukan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Libya yang sudah berlangsung lebih dari sepekan. Serbuan itu bertujuan menumbangkan rezim Kolonel Muammar Qadhafi yang dianggap penjahat kemanusiaan karena membombardir pemberontak di negaranya.

Unjuk rasa besar-besaran yang berubah menjadi konflik bersenjata di Libya ini merupakan efek domino dari Revolusi Melati yang berembus dari Tunisia. Setelah Presiden Zainal Abidin bin Ali jatuh, gerakan kekuatan rakyat itu juga berhasil menumbangkan Presiden Mesir Husni Mubarak.

Tidak hanya di Libya – negara kaya paling kaya minyak di Afrika – protes antipemerintah ini juga menyebar ke Suriah, Aljazair, Bahrain, Yaman, Iran, bahkan hingga ke Arab Saudi.

Namun kemungkinan besar bukan siapa pengganti Mubarak yang menjadi perhatian serius Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Selama ini, Mesir masih dalam kendali Amerika dan Israel.

Buktinya, Kairo sangat jarang membuka gerbang Rafah yang membatasi wilayah mereka dengan Jalur Gaza sejak blokade Israel, Juni 2007. Padahal, krisis kemanusiaan yang sedang membekap sekitar 1,5 juta warga Gaza dapat dihindari bila perbatasan Rafah tetap dibuka.

Washington dan Tel Aviv barangkali juga tidak terlalu ambil pusing apakah pemimpin Libya Kolonel Muammar Qadhafi yang sudah berkuasa selama empat dekade bakal jatuh. Ia terbukti bersikap lunak terhadap Amerika setelah bersedia membayar ganti rugi bagi korban pengeboman pesawat maskapai PanAm di atas langit Lockerbie, Skotlandia.

Amerika dan sekutunya Israel boleh jadi sangat berharap apa yang menimpa Zainal Abidin bin Ali, Husni Mubarak, atau Qadhafi, yang sedang di ujung tanduk, juga dapat terjadi di Iran dan Suriah. Bagi Obama dan Netanyahu, kedua negara itu bukan sekadar ganjalan bagi proses perdamaian di Timur Tengah, tapi juga merupakan ancaman bagi kepentingan Amerika dan kelangsungan negara Israel di kawasan itu.

Sebab itu, sangat lumrah jika Washington dan Tel Aviv sangat berharap rezim yang dipimpin Ayatullah Sayyid Ali Khamenei bisa tumbang. Sejak kemenangan Revolusi Islam pada 1979, Iran menjelma sebagai negara penentang keras hegemoni Amerika di Timur Tengah dan penjajahnan Israel terhadap bangsa Palestina.

Siapa saja yang menjadi presiden Iran, sekalipun moderat seperti Muhammad Khatami, tetap saja kebijakan luar negeri semacam itu tidak berubah. Karena dalam sistem politik Iran, Khamenei yang menggantikan Ayatullah Sayyid Khomeini, merupakan pemegang keputusan terakhir sebagai pemimpin spiritual dan tertinggi di Negeri Persia itu.

Apalagi yang memerintah berhaluan keras seperti presiden Iran saat ini Mahmud Ahmadinejad. Ia telah berulang kali menebar ancaman bagi Israel dengan menyatakan negara Zionis itu sebagai tumor yang harus dicabut dari wilayah Palestina. Ahmadinejad yang terpilih untuk masa jabatan kedua pada 2009 menegaskan Israeh harus dihapus dari peta dunia.

Berkali-kali pernyataan keras yang disampaikan Ahmadinejad tentu saja bukan sekadar gertakan sambal. Iran memang pantas menjadi ancaman bagi Israel dan kepentingan Amerika di Timur Tengah. Setelah Irak berantakan pasca invasi Amerika delapan tahun lalu, negara Syiah itu sekarang mungkin menjadi kekuatan militer terbesar. Peluru kendali mutakhir mereka yang diberi nama Syahab-3 memiliki jarak tembak sekitar 2.500 kilometer. Rudal ini tidak hanya mampu menjangkau Israel, namun juga bisa meraih seluruh pangkalan Amerika di kawasan ini.

Amerika dan Israel pun sangat meyakini Iran dan Suriah merupakan sponsor utama dalam hal dana dan pelatihan bagi dua kelompok perjuangan anti-Israel, yakni Hizbullah yang beraliran Syiah di Libanon Selatan dan Hamas yang berideologi Sunni di Jalur Gaza.

Suriah selama ini menjadi tempat persembunyian aman bagi pimpinan Hamas, seperti Kepala Biro Politik Khalid Misya’al dan wakilnya Musa Abu Marzuq yang menetap di Ibu Kota Damaskus. Misya’al yang pernah lolos dari upaya pembunuhan oleh Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Komandan senior Hizbullah yang dibunuh Mossad, Imad Mughniyah, juga bermukim di Damaskus.
Suriah diduga pula sedang mengembangkan senjata nuklir dengan bantuan Korea Utara.

Karena itu, kekuatan Hizbullah yang kerap mengancam wilayah utara Israel dan Hamas yang menyasar bagian selatan negara Bintang Daud itu tidak dapat diremehkan. Meski digempur berkali-kali, kedua kelompok yang dicap teroris oleh Amerika dan Israel itu masih mampu bertahan. Negara Yahudi itu gagal menghancurkan Hizbullah meski melancarkan serbuan besar-besaran selama 34 hari (Juli-Agustus 2006). Israel juga tidak berhasil membumihanguskan Hamas dalam 18 hari agresi ke Gaza (Desember 2008-Januari 2009).

Namun ambisi menggulingkan pemerintahan Revolusi Islam Iran bukan perkara mudah. Sistem politik di sana telah mengakar secara sosial dan budaya. Dalam paham Syiah yang dianut mayoritas penduduk Iran, para keturunan Nabi Muhammad yang biasa disebut sayyid atau habib yang berhak memimpin.

Bagi mereka, menghormati seorang sayyid merupakan kewajiban. Bahkan ada kesan taklid. Ini terbukti dengan membudayanya acara menyiksa diri saat peringatan Hari Karbala untuk mengenang syahidnya Imam Husain, cucu Rasulullah dari pasangan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah. Karena itu, militansi mereka tidak diragukan lagi. Militansi semacam inilah yang boleh jadi membuat Israel dan Amerika berpikir ulang untuk menyerbu langsung Iran.

Faktor inilah yang membuat protes besar-besaran warga Iran pasca kemenangan Ahmadinejad dalam pemilihan umum Juni 2009 gagal total. Apalagi pemimpin agung Ali Khamenei merestui hasil itu. Artinya, jika seluruh rakyat Iran menentang Ali Khamenei sama saja mereka melawan cucu Nabi mereka.

Seperti hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Salman Farisi: “Barangsiapa mencintai Hasan dan Husain akan dicintai Allah dan barangsiapa dicintai Allah akan masuk surga dan barangsiapa memusuhi mereka akan dimusuhiku (Rasulullah saw) dan barangsiapa aku benci akan dimusuhi Allah dan masuk neraka.”

Dimuat di Jurnal Nasional, 7 April 2011

10 thoughts on “Target Utama Revolusi di Timur Tengah

  1. mas, punya twitter atau facebook nggak? boleh share alamatnya? kayaknya dirimu harus ikut twitter deh mas. banyak sumber yang sangat informatif soal palestina-israel dan politik timur tengah. hehe.

  2. wah kacau😀 masa nggak ngerti sih? gampang kok. coba minta ajarin salah satu temanmu di situ. okeh, saya tunggu tulisan selanjutnya yah mas. nggak nulis soal Goldstone kemaren mas? itu kemaren Israel udah nyelesein Iron Dome-nya juga. dan WikiLeaks yang bilang Hezbollah mau ngebom Israel sehari ratusan misil. hehe. saya tertarik untuk tahu pendapatmu soal WikiLeaks, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s