Konflik Palestina-Israel Pasca Mubarak

Oleh: Faisal Assegaf

Sudah lebih dari dua pekan Mesir dirundung unjuk rasa besar-besaran menuntut Presiden Husni Mubarak meletakkan jabatan yang sudah ia sandang selama tiga dekade. Rakyat Negeri Sungai Nil ini ingin mengikuti jejak penduduk Tunisia yang berhasil menggulingkan kekuasaan rezim Presiden Zainal Abidin bin Ali.

Banyak pihak, termasuk Amerika Serikat dan Israel, khawatir tumbangnya Mubarak akan makin mempersulit penyelesaian konflik Palestina-Israel. Maklum saja, kedua negara sekutu itu selama ini menganggap Mesir sebagai penengah utama di Timur Tengah.

Padahal sejatinya, bukan kecemasan seperti itu yang sekarang menyelimuti perasaan Presiden Amerika Barack Hussein Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kedua pemimpin itu takut Israel bakal kehilangan teman sejati mereka di Timur Tengah.

Obama dan Netanyahu galau negara Zionis itu akan sendirian menghadapi musuh-musuh mereka di dunia Arab. Mereka sama-sama mengharapkan revolusi di Mesir tidak seperti Revolusi Islam Iran yang meletup 32 tahun lalu dan melahirkan kepemimpinan anti Amerika dan Israel.

Maklum saja, Mesir merupakan negara Arab pertama yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel melalui Perjanjian Camp David pada 1979. Sejak itu, Negeri Piramida ini seperti tunduk pada kemauan Amerika dan Israel. Contoh paling mengenaskan adalah Mubarak tidak mau membuka gerbang Rafah saat sekitar 1,5 juta penduduk Jalur Gaza dibekap krisis kemanusiaan akibat blokade Israel sejak 2007.

Bencana kemanusiaan itu sebenarnya tidak akan terjadi bila Mubarak bersedia mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Sebab, semua perbatasan darat, laut, dan udara dengan Gaza telah ditutup. Hanya Rafah menjadi satu-satunya pintu untuk menormalkan kembali kehidupan manusiawi di Gaza. Kairo juga membiarkan warga Gaza menjadi korban kebiadaban agresi Israel lantaran Rafah tidak dibuka untuk jalan keluar pengungsi.

Karena itu, masyarakat internasional tidak perlu gelisah dengan kejatuhan Mubarak dan pengaruhnya terhadap prospek perdamaian Palestina-Israel. Meski Sharm al-Sheikh, kawasan wisata di tepi Laut merah, sudah berkali-kali menjadi tempat perundingan antara kedua pihak bertikai, selama itu pula tidak tercipta kesepakatan apalagi perjanjian damai.

Mesir di bawah kekuasaan Mubarak juga telah gagal membantu upaya berdirinya negara Palestina. Bahkan, Negeri Fir’aun ini tidak berhasil mendamaikan pertikaian dua faksi terbesar di Palestina, yakni Hamas dan Fatah.

Dengan atau tanpa Mubarak, masalah Palestina tidak akan selesai selama masih ada negara-negara Arab yang dipimpin oleh orang-orang pro-Israel. Dunia Arab harus melepaskan diri dari genggaman hegemoni Amerika yang merupakan sekutu abadi Israel. Liga Arab yang beranggotakan 22 negara harus satu suara mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Setelah Republik Islam Iran berdiri, negara-negara Arab kerajaan ketakutan rezim mereka juga bakal dirobohkan oleh kekuatan rakyat. Mereka kuatir virus Negeri Mullah itu bakal menjalar hingga ke negeri mereka. Sebab itu, mereka mengandalkan perlindungan dari kekuatan Amerika

Negara Palestina juga tidak akan terbentuk selama Gedung Putih dihuni pembela Israel. Walau berkomitmen menyelesaikan persoalan Palestina, Obama berkali-kali menegaskan persahabatan khusus antara Amerika dan Israel tidak akan pernah putus. Mengulangi kebijakan pendahulunya, ia berani sesumbar Palestina dapat menjadi sebuah negara paling lambat tahun depan. Mantan presiden George Walker Bush pun pernah menjanjikan Palestina bakal merdeka pada 2005.

Namun kenyataannya, Obama tidak mampu menekan Netanyahu untuk segera meneruskan perundingan yang mandek pasca intifadah kedua. Presiden Amerika ke-44 ini juga tidak berani mengikuti jejak negara-negara Amerika Latin, apalagi Rusia, untuk memberikan pengakuan kedaulatan terhadap negara Palestina dengan batas-batas sebelum Perang Enam hari 1967.

Kebijakan Washington yang bertahan sampai sekarang adalah hanya mau mengakui Palestina sebagai sebuah negara jika Israel dan Palestina meneken perjanjian. Selama ini pun, kantor perwakilan Palestina yang berdiri di ibu kota negara adikuasa itu cuma milik Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Isu Palestina tidak akan pernah berakhir bila Israel masih di bawah kendali pemimpin garis keras. Namun jangan berharap banyak pada negara Bintang Daud ini. Siapa saja yang memimpin, baik itu yang mengaku dari kelompok sayap kanan, tengah, atau kiri, kebijakan mereka seragam, yakni mempertahankan dan memajukan negara Israel.

Tapi, rakyat Palestina jangan terlalu berharap banyak pada perubahan di Amerika atau Israel. Paling penting, negara-negara Arab yang merupakan tetangga dekat secara gerografis dan saudara secara etnis mau mendukung mereka.

Lebih penting lagi, terjadi perubahan di dalam Otoritas Palestina yang didominasi Fatah dan selama ini dituding korup. Palestina membutuhkan sebuah pemerintahan yang diakui rakyat sekaligus dapat menjadi pemersatu. Bocoran 1.600 dokumen perundingan yang dilansir Aljazeera dan Guardian mengungkapkan perunding Palestina yang dipimpin Saeb Erekat dan mantan perdana menteri Ahmad Qureia tidak serius dengan gagasan negara Palestina.

Bayangkan saja, mereka mau menerima proposal pemulangan 10 ribu pengungsi dalam sepuluh tahun. Padahal, jumlah pengungsi Palestina sekitar lima juta. Perunding Palestina juga bersedia memberikan Israel kewenangan lebih besar atas Yerusalem Timur yang menjadi ibu kota dambaan rakyat Palestina.

Alhasil, Revolusi Melati yang pertama kali berembus dari Tunisia jangan sampai berhenti di Mesir. Ia mesti bertiup jauh hingga Palestina untuk melumat kekuatan pro-Zionis.

Dimuat di Jurnal Nasional, 11 Februari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s