Agen T di Pucuk Mossad

Tamir Pardo seangkatan dengan Tzipi Livni di Mossad.


Setelah bertahun-tahun diduduki orang luar, kepemimpinan Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) akhirnya dipegang pejabat karir. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Senin lalu menunjuk Tamir Pardo, 57 tahun, yang telah bergabung selama tiga dekade, sebagai direktur baru Mossad.

Ia menggantikan Meir Dagan yang sudah menjabat delapan tahun sejak diangkat mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon. Masa jabatan Dagan ini sama dengan mantan direktur Mossad lainnya, Yitzhak Hofi, namun belum memecahkan rekor periode kepemimpinan Isser Harel. 

Rakyat Israel akrab dengan kisah Dagan saat menjadi tentara menyamar sebagai orang Arab dan memburu teroris dengan pisau di antara giginya. Dagan yang dijuluki sebuah media di Mesir sebagai “Superman”, mencetak setidaknya tiga prestasi besar bagi negara Yahudi itu, yakni menghancurkan fasilitas nuklir Suriah (Februari 2007), membunuh komandan senior Hizbullah Imad Mughniyah di Ibu Kota Damaskus, Suriah (Februari 2008), dan menewaskan pentolan Brigade Izzudin al-Qassam Mahmud al-Mabhuh di Dubai, Uni Emirat Arab (Januari 2009).

Pardo yang dikenal sebagai agen “T” seangkatan dengan agen “T” lainnya, yaitu pemimpin oposisi Israel dari Partai Kadima, Tzipi Livni. Ia bergabung dengan Mossad setelah menyelsaikan wajib militernya selama tiga tahun pada 1980-an. Selama era Dagan, Pardo dua kali menjadi wakil direktur Mossad, yakni pada 2002-2005. dan 2007-2009.

Seperti kebiasaan agen rahasia, tetangga Pardo hanya mengenal ia sebagai ayah dan kakek. Sebelum tahun 1996, Mossad selalu merahasiakan identitas bos mereka dengan alasan keamanan. Ia dikenal pintar, cerdas, dan berimbang.  Ia juga tidak panik dan mampu mengambil leputusan dalam situasi sesulit apapun.

Ia keluar dari Mossad karena tidak ada harapan bisa menggantikan Dagan dan sempat menjadi penasihat operasi khusus di IDF (Pasukan Pertahanan Israel). Ia pernah menjadi anggota pasukan elite Sayeret Matkal dan terlibat dalam Operasi Entebbe di Uganda pada 1976. Komandan Sayeret Matkal Yoni Netanyahu tewas dalam upaya membebaskan penumpang Air France yang disandera itu. Ia merupakan kakak dari Benjamin Netanyahu. Sejak itu, Pardo dikenal dekat dengan keluarga Netanyahu.

Pardo kembali bergabung di Mossad setelah Dagan memecat wakilnya karena terbukti membocorkan dokumen rahasia ke media. Namun tahun lalu, Pardo mengajukan pensiun setelah Netanyahu memperpanjang masa jabatan Dagan setengah tahun. Ia frustasi karena Dagan tidak merekomendasikan dirinya sebagai calon direktur berikutnya.

Maklum saja, ia sangat berambisi memimpin Mossad. Karena itu, ia sangat senang dengan jabatan baru ini. “Saya memiliki jabatan besar untuk diisi dan banyak tugas,” katanya kepada para wartawan seraya meminta hak-hak keluarganya dihormati.

Banyak pihak memuji penunjukkan Pardo. Ia menyingkirkan dua calon lain, yakni direktur Shin Beth (dinas rahasia dalam negeri Israel) Yuval Diskin dan Amod Yadlin (bekas kepala intelijen militer). “Ini penunjukkan amat bagus. Ia orang yang tepat dan berharga bagi jabatan itu,” kata mantan direktur Mossad Efraim Halevy.

Bekas kepala Dinas Keamanan Nasional, pensiunan Mayor Jenderal Uzi Dayan juga berkomentar serupa. “Tamir memiliki kemampuan memimpin tugas ini,” ujarnya merujuk dua misi sangat penting bagi Mossad saat ini, yakni menghentikan program nuklir Iran dan menjalin kerja sama rahasia dengan negara-negara yang memiliki musuh sama dengan Israel.

Haaretz/Los Angeles Times/Yediot Ahronot/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s