Berbuka dengan Kurma Zionis

Rasa lebih lezat dan murah ketimbang kurma Palestina.

Saban Ramadan, warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, menghadapi dilema. Ini menyangkut soal melaksanakan sunnah Nabi Muhammad yang berbuka puasa dengan melahap buah kurma dalam bilangan ganjil.

Buah paling masyhur di seantero kalangan Arab dan muslim itulah yang menjadi pangkal soal. Kurma yang dengan rasa lezat dan berkualitas bagus hanya yang berasal dari Israel. Padahal sudah lebih dari enam dekade negara Zionis itu menjajah bangsa Palestina.

Seperti diakui oleh Huwaida Arraf, pegiat perdamaian pro-Palestina yang merupakan Ketua Gerakan Pembebasan Gaza. Ia mengungkapkan kurma produksi Israel sangat populer di kalangan rakyat Palestina. “Namun saya tidak pernah mau makan kurma mereka,” katanya kepada Tempo melalui telepon selulernya.

Perempuan yang tinggal di Kota Ramallah ini menegaskan warga Palestina memang tidak mempunyai pilihan. Hebatnya lagi, kurma bagus asal negara Yahudi itu juga dijual dengan harga lebih murah ketimbang yang ditanam para petani Palestina.

Kurma-kurma itu berasal dari wilayah permukiman warga Israel di Lembah Yordania. Menurut the Friends of al-Aqsha, lembaga nirlaba asal Inggris yang mendukung perjuangan Palestina, murahnya kurma-kurma Israel itu lantaran mereka mempekerjakan anak-anak Palestina dengan gaji sangat rendah.

Kondisi sebaliknya dialami para petani Palestina. Mereka kekurangan lahan lantaran banyak tanah mereka dirampas oleh para pemukim Yahudi. Israel juga melarang orang-orang Palestina ke kebun kurma atau lahan pertanian mereka yang kebanyakan berada di luar Tembok Pemisah yang menjadi batas aman antara kompleks permukiman Israel dengan dinding apartheid itu.

Friends of al-Aqsha telah menyerukan kepada seluruh muslim di Eropa untuk tidak membeli kurma dari Israel selama Ramadan tahun ini. “Dengan memakan kurma Israel, Anda membantu para pemukim (Yahudi) mencuri tanah (milik warga Palestina,” ujar mereka dalam pernyataan tertulis yang dilansir kantor berita Iran IRNA.

Sekitar 30 toko di perkampungan muslim di Kota Glasgow, Skotlandia, mendukung boikot itu. Mereka menempel pengumuman di jendela toko mereka yang bertulisan “Tidak ada produk Israel dijual di sini”. Tiap tahun, ekspor kurma Israel ke Eropa sekitar 5.000 ton dengan nilai US$ 64,5 juta.

Namun kampanye itu tidak berlaku bagi Muhammad Totach, warga Palestina yang tinggal di dekat kompleks Masjid Al-Aqsha, Yerusalem Timur. Ia tetap mengkonsumsi kurma produk Israel tiap kali Ramadan datang. “Rasanya legit,” katanya. Popularitas kurma asal negara Bintang Daud itu juga menjamah Jalur Gaza yang diblokade selama tiga tahun terakhir.

Ironis memang. Masih ada warga muslim Palestina terpaksa melaksanakan sunnah nabi mereka dengan memakan kurma produksi Israel.

Herald Scotland/Yediot Ahronot/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s