Nestapa Puasa di Kota Gaza

Listrik mati dan tanpa fulus untuk membeli kebutuhan.

Suasana Kota Gaza menyambut Ramadan yang dimulai kemarin terasa berbeda ketimbang dua tahun belakangan. Sebab, Israel mulai melonggarkan blokade terhadap wilayah Jalur Gaza setelah insiden Mavi Marmara akhir Mei lalu.

Alhasil, barang-barang dari Mesir, Israel, dan Tepi Barat lebih banyak masuk, seperti susu, cokelat, selai, dan krim cukur. Harganya pun turun setengah ketimbang saat isolasi masih sangat ketat.

Seperti tampak di sebuah toko grosir dekat pantai milik Syafiq Nushtaha. Keju merek “Sapi Tertawa” buatan Israel sekarang dijual hanya 10 shekel atau US$ 2,64. “Jadi sekarang saat baik untuk membeli keju,” kata Nushtaha, 45 tahun. Keju merupakan menu favorit warga Gaza untuk makan sahur

Setelah peristiwa Mavi Marmara yang menewaskan sembilan relawan kemanusiaan, Israel mendapat tekanan masyarakat internasional untuk mencabut blokade yang diterapkan sejak 2007. Sejak Juni lalu, pasokan barang-barang konsumsi menjadi 80 truk saban hari. Bulan berikutnya naik 150, dan Agustus ini 250 truk.

Namun Daud al-Saqqa yang juga pemilik toko grosir berjarak enam blok dari kepunyaan Nushtaha berpendapat sebaliknya. Meski harga murah, itu tidak menguntungukan buat pedagang. “Itu bagus buat pemebli namun tidak untuk kami pemilik toko yang harus menanggung rugi,” ujarnya.

Meski harga-harga sudah menukik, bukan berarti bakal kebanjiran pembeli. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat angka pengangguran lebih dari 40 persen dari 1,5 juta penduduk Gaza. Sekitar 80 persen masih bergantung pada bantuan kemanusiaan. “(Tapi) tentu saja perubahan kebiajakn Israel sesutua yang bagus buat kami,” kata Maxwell Gaylard, Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Persoalan lain yang masih membekap warga Gaza adalah matinya pembangkit listrik utama di sana sejak Sabtu pekan lalu. Ini membuat mereka dan para pemilik toko tidak bisa menjaga kesegaran stok barang-barang kebutuhan selama Ramadan. Bahkan, Kepala Departemen Darurat Gaza, Muawiyah Hasanain, sudah menetapkan keadaan darurat di seluruh rumah sakit di daerah itu.

Pemadaman di Kota Gaza makin menjadi-jadi. Dari delapan jam sehari menjadi 12 jam. Belum lagi cuacana panas yang sudah menyerang selama dua pekan terakhir. Suhu rata-rata di siang hari 40-45 derajat Celcius. Tentu saja, dengan tidak adanya listrik, mereka tidak kondisi dalam rumah pengap karena tidak dapat menyalakan kipas atau penyejuk udara.

Karena itu jangan heran, akhir-akhir ini banyak warga Kota Gaza sering berada di luar rumah mencari udara segar. Seperti biasa, kawasan pantai menjadi lokasi favorit untuk menikmati hawa adem secara gratis. Rupanya bulan puasa kali ini juga belum menggembirakan bagi penduduk Gaza. Bokek, haus, dan panas membuat mereka kian tersiksa.

Reuters/Xinhua/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s