Melaut di Antara Ancaman Maut

Blokade Israel terhadap Jalur Gaza telah melahirkan sebuah pemandangan ganjil. Urusan mencari ikan yang biasanya dilakoni kaum lelaki kini mulai dirambah oleh perempuan. Boleh jadi, Madeleine Kulab, 16 tahun, dan adiknya Rim, 13 tahun, merupakan satu-satunya nelayan perempuan di seantero Gaza.

Keduanya masih bersekolah. Namun demi membantu keluarganya. Ayah mereka, Muhammad, tidak lagi melaut sejak satu dekade lalu lantaran lumpuh.   Kulab dan Rim dibantu oleh saudara lelaki mereka, Kayid, 14 tahun. “Bagaimana kami dapat hidup jika tidak mencari ikan?” kata Kulab dan Rim sambil mengeluarkan ikan-ikan kecil dari jaring ke atas pasir. Muhammad lantas memisahkan hasil jerih payah dua putrinya itu. Ikan yang beratnya di atas tiga kilogram dijual di pasar. Harganya mencapai US$ 8 per ekor. Sedangkan ukuran lebih kecil akan menjadi menu harian keluarga mereka.

Jangankan mencari ikan, sungguh sangat jarang menemukan perempuan Gaza yang berenang di laut. Namun isolasi yang dilakukan Negara Zionis itu selama tiga tahun terakhir telah menciptakan kemiskinan bagi sekitar 1,5 juta penduduk Gaza. Angks pengangguran 40 persen dan 80 persen warga Gaza, termasuk keluarga Kulab sangat mengandalkan bantuan asing.

Kulab dan Rimpun terpaksa melaut di tengah ancaman maut. Maklum saja, Israel juga menerapkan blokade laut, selain darat, dan udara. Nelayan Gaza tidak boleh melewati jarak 5,5 kilometer dari pantai untuk mencari ikan. Jika melanggar, bisa saja ditembak dan perahu mereka dirampas. “Hidup sangat berat, jadi anak perempuan seperti kami terpaksa bekerja sebagai elayan walau berbahaya,” ujar Kulab.

Kulab dan dua adiknya hanya memakai perahu kecil. Dibalut celana jins, kaus lengan panjang, dan berjilbab, mereka sudah berlayar sebelum fajar datang. Biasanya saban hari bisa satu hingga dua jam mencari ikan karena ketiganya masih harus sekolah. Namun jika hasil yang diperoleh kurang, mereka melaut lagi malamnya.  Karena takut terlambat, Rim yang bercita-cita menjadi wartawan selalu membawa seragam dan tasnya saat mencari ikan. “Saya ingin menulis mengenai penderitaan rakyat seperti kami, karena hidup ini benar-benar tidak adil buat kami,” katanya.

Muhammad, 52 tahun, mengajari kedua putrinya itu bagaimana menjaring ikan dan berenang. Kadang untuk memastikan tangkapan mereka, Kulab dan Rim menyelam. “Prioritas bagi mereka seharusnya menyelesaikan sekolah, tapi apa yang dapat saya perbuat?” ujar bapak lima anak ini. Ia berharap anak-anaknya bisa melanjutkan tradisi keluarga sebagai nelayan dan menggunakan kapal besar miliknya. Ia asli dari Kota Ashkelon yang menjadi bagian dari Israel sejak negara Zionis itu berdiri pada 1948.

Meski terlihat aneh, tidak ada yang mencibir profesi Kulab dan Rim. “Tidak memalukan bekerja sebagai nelayan. Kami hidup lebih bermartabat ketimbangan pengemis,” kata Muhammad Jahjuh, 19 tahun, yang terpaksa pula melaut untuk membantu keluarganya.

AFP/Faisal Assegaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s